Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Militer Israel Kekurangan Rp216 T, Stok Senjata Menipis dan Program Tertunda

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Militer Israel Kekurangan Rp216 T, Stok Senjata Menipis dan Program Tertunda
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Sejumlah pejabat senior militer Israel telah memperingatkan para pemimpin politik dalam beberapa bulan terakhir.
  • Mereka khawatir pendanaan yang tidak mencukupi dapat mempengaruhi kesiapan operasional, pengadaan senjata, hingga program pembangunan kekuatan militer dalam jangka panjang.
  • Peringatan itu disampaikan Kepala Staf Militer Israel, wakilnya, serta Kepala Direktorat Perencanaan.

Militer Israel menghadapi kekurangan dana sekitar 40 miliar shekel atau setara Rp216 triliun saat berupaya mengisi kembali persediaan senjata dan memulihkan kemampuan militernya setelah hampir tiga tahun menjalankan operasi militer, demikian laporan Yedioth Ahronoth pada Senin (14/9).

Sejumlah pejabat senior militer Israel telah memperingatkan para pemimpin politik dalam beberapa bulan terakhir. Mereka khawatir pendanaan yang tidak mencukupi dapat mempengaruhi kesiapan operasional, pengadaan senjata, hingga program pembangunan kekuatan militer dalam jangka panjang.

Peringatan itu disampaikan Kepala Staf Militer Israel, wakilnya, serta Kepala Direktorat Perencanaan. Mereka meminta tambahan anggaran untuk mempertahankan operasi yang sedang berlangsung sekaligus membangun kembali kemampuan militer yang telah berkurang sejak Oktober 2023.

Menurut laporan itu, pejabat pertahanan Israel juga prihatin terhadap kekurangan amunisi dan menurunnya persediaan senjata. Sejumlah program yang dirancang untuk memulihkan kesiapan militer dilaporkan harus ditunda.

Persoalan anggaran tidak hanya berpotensi mempengaruhi operasi militer. Industri pertahanan dalam negeri Israel juga dapat terdampak jika tambahan dana tidak segera disetujui. Beberapa jalur produksi militer berpotensi mengalami gangguan akibat keterbatasan alokasi anggaran.

Militer Israel telah menjalankan operasi di sejumlah front sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023. Operasi tersebut menyebabkan penggunaan amunisi, peralatan militer, dan personel cadangan dalam jumlah besar.

Di tengah kondisi itu, para perencana militer Israel mempersiapkan kemungkinan konfrontasi baru secara bersamaan yang melibatkan Iran, Hizbullah, dan Hamas. Mereka juga mempertimbangkan tantangan keamanan yang terus berlangsung dari Suriah dan Yaman, seperti dilaporkan Middle East Monitor.

Para pejabat militer menilai setiap medan pertempuran memiliki kebutuhan operasional yang berbeda. Namun, militer Israel tetap berupaya mempertahankan kemampuan untuk menjalankan operasi di berbagai front secara bersamaan. Karena itu, perencanaan pertahanan Israel tidak hanya didasarkan pada asumsi bahwa konflik di masa depan akan terjadi secara terpisah.

Defisit anggaran tersebut muncul ketika pemerintah dan militer Israel harus menentukan prioritas penggunaan dana. Pilihannya mencakup pembiayaan operasi yang sedang berlangsung, pengisian kembali persediaan senjata, pemulihan kesiapan militer, serta persiapan menghadapi potensi konflik pada masa mendatang.

Analisis Redaksi

Kekurangan 40 miliar shekel ini bukan sekadar angka fiskal. Ia menunjukkan perang panjang menggerus stok dan kesiapan, sementara ancaman di beberapa front belum surut. Peringatan Kepala Staf Militer, wakilnya, dan Kepala Direktorat Perencanaan adalah sinyal bahwa kebutuhan operasional telah melampaui ruang anggaran yang tersedia.

Yang perlu diwaspadai, penundaan program pemulihan kesiapan dan gangguan jalur produksi bisa menciptakan efek berantai. Bila tambahan dana tidak segera disetujui, militer Israel berisiko menghadapi pilihan sulit: menjaga operasi yang sedang berjalan atau mempercepat pengisian kembali persediaan. Industri pertahanan dalam negeri juga menjadi titik rawan karena keterbatasan alokasi.

Langkah selanjutnya sangat bergantung pada keputusan politik. Pemerintah dan militer harus menetapkan prioritas di antara operasi berjalan, pengadaan senjata, pemulihan kesiapan, dan persiapan konflik masa depan. Tanpa penambahan anggaran, perencanaan menghadapi Iran, Hizbullah, Hamas, serta tantangan dari Suriah dan Yaman akan menghadapi batas nyata.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ