Malaysia Siapkan Kontinjensi Ambil Alih Pangsa AirAsia, Malaysia Airlines dan Batik Air Jadi Opsi Utama

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Malaysia Siapkan Kontinjensi Ambil Alih Pangsa AirAsia, Malaysia Airlines dan Batik Air Jadi Opsi Utama
BAGIKAN:

Pemerintah Malaysia tengah menggelar pembicaraan intensif dengan Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menjajaki kemungkinan mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia, sebuah langkah kontinjensi yang disiapkan jika kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah itu memburuk. Mengutip Reuters, Rabu (16/9), dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengungkapkan diskusi yang melibatkan Kementerian Keuangan Malaysia dan operator bandara milik negara Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB) telah meningkat ketatnya dalam beberapa pekan terakhir.

Kekhawatiran itu tidak main-main. Harga bahan bakar jet yang ditanggung AirAsia melonjak 66 persen pada kuartal II dibandingkan kuartal sebelumnya, menyentuh rata-rata US$183 per barel — tekanan langsung dari gejolak perang AS-Israel dengan Iran yang mengacaukan pasar energi global. AirAsia saat ini menguasai sekitar 40 persen pasar penerbangan Malaysia secara keseluruhan dan 60 persen rute domestik, posisi yang membuat kesehatan finansialnya jadi kepentingan strategis bagi Putrajaya.

Kedua maskapai calon penyelamat itu, namun, memasang syarat keras. Malaysia Airlines dan Batik Air menegaskan hanya akan mengambil alih operasi AirAsia dalam skala besar jika mereka juga dapat mengambil alih sewa armada maskapai tersebut. Tanpa pesawat, menguasai rute dan volume penumpang AirAsia dinilai jauh lebih sulit. Lebih jauh, keduanya justru lebih memilih memperluas operasi secara organik untuk menyerap rute dan penumpang ketimbang mengakuisisi seluruh bisnis AirAsia.

Di sisi lawan, AirAsia menolak berkomentar soal spekulasi operasional maupun keuangan yang belum diumumkan. Wakil CEO AirAsia Group Farouk Kamal menegaskan semua pembaruan material akan diungkapkan secara transparan melalui pengajuan resmi ke bursa dan pengumuman perusahaan. "Kami tetap fokus menjaga keberlangsungan bisnis dan operasi yang stabil di seluruh pasar kami," kata Farouk kepada Reuters, menambah bahwa maskapai terus melihat permintaan kuat dan bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk mengelola kebutuhan keuangan serta operasional.

Reuters sendiri belum dapat memverifikasi independen kondisi keuangan AirAsia. Namun berdasarkan laporan per 30 Juni, AirAsia menyandang kewajiban lancar sebesar 18,4 miliar ringgit (sekitar US$4,5 miliar) dan utang minimal 500 juta ringgit kepada MAHB untuk layanan pendaratan dan parkir. MAHB dikabarkan telah memberikan perpanjangan waktu pembayaran, meski menolak berkomentar soal pengaturan komersial dengan mitra maskapai. AirAsia sebelumnya mengaku mengupayakan pendanaan baru hingga US$1 miliar dari pasar utang internasional ditambah fasilitas kredit lokal 700 juta ringgit, terutama untuk restrukturisasi utang.

Dua sumber Reuters memperkirakan AirAsia butuh minimal US$3 miliar modal segar untuk mengatasi krisis keuangannya — angka yang jauh melampaui target pendanaan yang diklaim cukup oleh manajemen. Posisi kas per 30 Juni tersisa 954 juta ringgit, sementara kuartal II mencatat rugi bersih 831 juta ringgit termasuk kerugian valuta asing 331 juta ringgit. Saat ini AirAsia sedang memangkas rute berkinerja buruk, mengembalikan 25 pesawat lama ke penyewa, dan menegosiasikan ulang kontrak vendor untuk menekan biaya.

Analisis Redaksi

Langkah pemerintah Malaysia mengaktifkan skenario kontinjensi ini sinyal nyata bahwa risiko sistemik dari potensi gagalnya AirAsia sudah dianggap serius. Pangsa pasar 60 persen domestik bukan angka kecil; keruntuhan mendadak akan menciptakan vakum kapasitas yang tidak bisa diisi instan oleh pemain lain tanpa armada dan slot terbang yang siap pakai. Itulah mengapa syarat "paket lengkap" rute ditambah pesawat dari Malaysia Airlines dan Batik Air menjadi kunci — akuisisi parsial tanpa aset hanya akan menambah beban operasional tanpa jaminan kelangsungan.

Yang perlu diwaspadai ke depan adalah kecepatan eksekusi restrukturisasi AirAsia dibandingkan laju pemboran kas. Pemangkas 25 pesawat dan rute rugi adalah langkah benar, tapi apakah cukup menutupi defisit US$3 miliar yang diramalkan sumber? Jika pendanaan US$1 miliar internasional dan 700 juta ringgit lokal gagal termaterialisasi sesuai jadwal, tekanan pada MAHB dan kreditor lain akan meningkat drastis. Pada titik itulah, negosiasi "organik" yang dipilih Malaysia Airlines dan Batik Air bisa berubah jadi akuisisi paksa di bawah tekanan regulator — skenario yang jauh lebih mahal dan berisiko bagi semua pihak.

Meow! Tanya Nesi!
😸