INKA Respons Sorotan BP BUMN: Rugi Rp677 M, Utang Tak Berkelanjutan Rp4,7 T
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA merespons keras sorotan Badan Pengaturan (BP) BUMN mengenai kondisi keuangan perusahaan yang disebut tidak sehat. Perusahaan menegaskan akan mempercepat transformasi dan pembenahan menyeluruh untuk memperkuat fundamental serta menjamin keberlanjutan operasional di tengah tekanan regulator.
General Manager Corporate Secretary PT INKA Bambang Sutrisno menyebut arahan dari BP BUMN sebagai momentum krusial bagi perusahaan. Ia menekankan bahwa langkah perbaikan harus mencakup proses internal hingga efektivitas pelaksanaan proyek secara komprehensif. "Fokus kami adalah membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis yang semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek," ujar Bambang dalam keterangan tertulis pada Rabu (16/9).
Pembenahan struktural ini dilakukan dengan memperkuat keterkaitan antar-tahap kerja. Mulai dari perencanaan, pengelolaan kontrak, pelaksanaan proyek, proses produksi, hingga penyelesaian pekerjaan kepada pelanggan, semuanya akan diintegrasikan lebih erat. Sejalan dengan itu, INKA juga menyatakan berkomitmen melakukan langkah perbaikan terhadap kondisi likuiditas dan struktur keuangan perusahaan yang saat ini sedang dalam masa pemulihan.
Bambang menambahkan bahwa disiplin pengelolaan proyek menjadi kunci utama untuk memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hal ini termasuk pengendalian jadwal, biaya, risiko, hingga pemenuhan komitmen kepada pelanggan. "Setiap proyek harus dikelola secara disiplin sejak awal, baik dari aspek teknis, kontraktual maupun finansial. Dengan pengelolaan yang semakin baik, setiap pekerjaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan sekaligus memperkuat kondisi perusahaan," lanjutnya.
Dampak bagi industri perkeretaapian nasional menjadi perhatian serius dalam strategi INKA. Transformasi ini diarahkan untuk menjaga dan mengembangkan kapabilitas industri, mulai dari kemampuan engineering dan manufaktur, tenaga kerja terampil, teknologi, hingga ekosistem industri pendukung. "Yang ingin kami bangun bukan hanya keberlanjutan perusahaan, tetapi juga kemampuan industri perkeretaapian Indonesia. Untuk itu, INKA harus semakin sehat, profesional, berkualitas, dan kompetitif dengan melibatkan seluruh stakeholder perkeretaapian," tutup Bambang.
Analisis Redaksi
Konfrontasi naratif antara INKA dan Danantara mengungkap ketegangan klasik antara ekspektasi profitabilitas pasar dan realitas tata kelola BUMN. Dony Oskaria, Kepala BP BUMN sekaligus COO BPI Danantara Indonesia, sebelumnya telah membuka kotak hitam keuangan INKA dengan data yang brutal. Ia menyebut kerugian mencapai Rp677 miliar, ekuitas negatif, serta pinjaman tak berkelanjutan (unsustainable loan) sekitar Rp4,7 triliun. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah tanda bahaya merah bahwa model bisnis lama INKA telah kolaps.
Sorotan Dony bersifat provokatif namun logis. Ia mempertanyakan keanehan rugi besar pada perusahaan manufaktur dengan pasar jelas seperti INKA. Pertanyaannya, apa lawan dari utang Rp4,7 triliun jika kinerja operasional tidak menghasilkan arus kas positif? Respons INKA yang fokus pada "transformasi" dan "disiplin" terdengar seperti standar prosedur baku. Namun, tanpa perubahan drastis pada efisiensi produksi dan restrukturisasi utang, janji "turn around" hanya akan menjadi retorika kosong di hadapan kreditor dan pemerintah.
Apa yang perlu diwaspadai publik adalah kesenjangan waktu antara pernyataan dan aksi. Proses turnaround membutuhkan komitmen bersama dengan governance yang benar, seperti ditegaskan Dony. Jika INKA gagal menunjukkan perbaikan likuiditas konkret dalam satu kuartal ke depan, intervensi lebih keras dari pihak pemilik saham negara kemungkinan akan terjadi. Kesehatan INKA bukan lagi soal corporate image, melainkan stabilitas rantai pasok infrastruktur kereta api nasional.


