Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

DBS Indonesia Tekan Pentingnya Ekosistem EV dan Pembiayaan Komponen Otomotif

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

DBS Indonesia Tekan Pentingnya Ekosistem EV dan Pembiayaan Komponen Otomotif
BAGIKAN:

Ahli industri otomotif dari Bank DBS Indonesia, Antonius Sehonamin, menegaskan bahwa elektrifikasi kendaraan merupakan tren global yang sedang mengubah arah industri ini. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Coffee Morning bertema "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan bersama CNBC Indonesia pada Kamis (17/9/2026). Ia menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan sektor ini berkat kekayaan sumber daya alam di hulu.

Antonius menyebut nikel dan tembaga sebagai komoditas kunci bagi hilirisasi industri otomotif nasional. Namun, potensi bahan baku tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ia menekankan perlunya membangun ekosistem yang mencakup keseluruhan rantai nilai atau end-to-end value ecosystem. Rantai ini meliputi manufaktur canggih, produksi baterai, penyimpanan energi, hingga daur ulang baterai bekas.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Antonius menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus dipenuhi. Pertama adalah investasi, kedua adalah kapabilitas, dan ketiga adalah pengembangan ekosistem. Industri otomotif harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh, bukan sekadar segmen-segmen yang terpisah-pisah. Peran perbankan sangat vital dalam mendukung seluruh mata rantai nilai industri tersebut agar berjalan lancar.

DBS Indonesia berkomitmen menjadi banking partner bagi para pelaku industri otomotif. Strategi ini mencakup dukungan finansial mulai dari sektor hulu, produsen kendaraan asli (OEM), hingga distributor dan diler. Keunggulan konektivitas regional milik DBS juga dimanfaatkan untuk memfasilitasi transaksi lintas negara bagi para pelaku industri di Indonesia. Pendekatan komprehensif ini diharapkan memperkuat posisi industri dalam persaingan global.

Executive Director Head of Large Corporates and ESG Lead Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson, menambahkan bahwa pembiayaan diberikan dengan mempertimbangkan risiko dan peluang. Fokus perbankan adalah pada komponen yang tetap dibutuhkan baik pada kendaraan mesin pembakaran internal (ICE) maupun kendaraan listrik (EV). Komponen seperti ban mobil, kelistrikan, AC, audio, dan sistem pengereman akan terus digunakan seiring transisi teknologi.

Analisis Redaksi

Pernyataan Antonius dan Ello Hanson menandai pergeseran narasi dari sekadar promosi kendaraan listrik menuju realitas infrastruktur pendukung. Poin kritis terletak pada keberlanjutan rantai pasok komponen non-kelistrikan. Dengan menegaskan bahwa ban dan sistem rem tetap relevan, bank mengkomunikasikan stabilitas portofolio kredit mereka di tengah volatilitas teknologi otomotif.

Penekanan pada ekosistem hulu hingga hilir menunjukkan bahwa bank memahami kompleksitas biaya produksi. Hilirisasi nikel saja tidak cukup tanpa dukungan dana untuk pabrik baterai dan fasilitas daur ulang. Langkah strategis ini meminimalkan risiko kredit macet dengan mendiversifikasi pembiayaan ke berbagai tahap produksi, bukan hanya perakitan akhir kendaraan.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah percepatan pembentukan klaster industri baterai di sekitar area penambangan nikel. Dukungan pembiayaan lintas batas negara dari DBS dapat mempercepat transfer teknologi manufaktur canggih. Pelaku industri perlu segera menyesuaikan strategi operasional agar sesuai dengan standar pembiayaan berbasis risiko dan peluang yang ditawarkan oleh mitra perbankan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ