ANTAM Beberkan Progres Proyek Dragon dan Titan untuk Ekosistem Baterai EV
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) membeberkan perkembangan terbaru dua proyek strategis hilirisasi nikel terintegrasi yang diarahkan memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. Perkembangan itu disampaikan Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Rabu (16/9/2026). Dua proyek yang dimaksud adalah Proyek Dragon di wilayah PT Sumberdaya Arindo dan Proyek Titan di wilayah PT Nusakarya Arindo, Maluku Utara.
Menurut Untung, pengembangan kedua proyek merupakan bagian strategi perusahaan membangun ekosistem baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Untuk proyek hilirisasi yang menjadi fokus pada kesempatan ini adalah ekosistem baterai kendaraan listrik yang secara terintegrasi mulai dari penambangan bijih, pengolahan melalui fasilitas RKEF dan HPAL, hingga pengembangan material baterai seperti prekursor, katoda, dan sel baterai,” kata Untung.
Proyek Dragon melibatkan pembagian enam joint venture (JV) atau usaha patungan utama dari hulu ke hilir antara konsorsium CATL melalui Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Pada JV1 yang mencakup operasi penambangan, ANTAM saat ini memasuki tahap pengembangan konstruksi di area Sangaji Utara. Pada JV2 yang mencakup sisi pengolahan, perusahaan tengah memasuki tahap konstruksi pengembangan fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF) sekaligus kawasan industri.
Sementara pada JV3 yang mencakup pembangunan fasilitas high pressure acid leach (HPAL), ANTAM telah menyelesaikan tahap Final Investment Decision (FID). Tahap itu selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses investasi. Pada JV4, pengembangan diarahkan pada material baterai. Saat ini prosesnya memasuki tahap penyusunan studi kelayakan dan FID. Untuk sisi hilir melalui JV5, progres konstruksi pabrik di Karawang terus berjalan. ANTAM juga tengah menunggu pelaksanaan peresmian pabrik baterai sel yang akan segera dilakukan. Berikutnya pada JV6 yang mencakup pengolahan black mass, ANTAM masih berada dalam tahap pembentukan joint venture. “Secara keseluruhan progres ini menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem baterai ANTAM berjalan secara paralel dan terintegrasi,” kata Untung.
Selain Proyek Dragon, ANTAM tengah mengembangkan Proyek Titan di wilayah PT Nusakarya Arindo, Maluku Utara. Untung mengatakan Proyek Titan saat ini telah memasuki tahap penyusunan Joint Feasibility Study (JFS). Studi tersebut akan menjadi salah satu dasar bagi perusahaan dan mitra dalam menentukan keputusan investasi pada tahap berikutnya. “Saat ini Proyek Titan telah memasuki tahap penyusunan Joint Feasibility Study sebagai dasar pengambilan keputusan investasi di masa yang akan datang. Secara keseluruhan proyek ini diharapkan dapat memperkuat integrasi ekosistem baterai sekaligus melengkapi pengembangan yang telah dijalankan pada Proyek Dragon yang sekarang sedang running,” tambahnya.
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, nilai investasi Proyek Dragon dari hulu ke hilir mencapai US$5,9-6 miliar. Sementara itu, untuk Proyek Titan mencapai sekitar US$8,6 miliar.
Analisis Redaksi
Langkah ANTAM memaparkan progres Dragon dan Titan di depan Komisi XII DPR RI menunjukkan dua hal. Pertama, perusahaan berusaha menegaskan bahwa ambisi ekosistem baterai tidak lagi berhenti di wacana, melainkan sudah masuk tahap konstruksi, FID, hingga penyusunan studi kelayakan. Kedua, peta proyek masih timpang: sebagian JV sudah berjalan, tetapi JV6 dan Proyek Titan masih berada di tahap awal. Di situlah ujian eksekusi terlihat.
Yang perlu diwaspadai publik adalah konsistensi jadwal dan kepastian investasi. JV3 yang telah menyelesaikan FID harus berlanjut ke realisasi, JV4 masih menunggu studi kelayakan dan FID, sementara JV6 belum berbentuk joint venture. Proyek Titan juga baru menyusun Joint Feasibility Study. Artinya, rangkaian proyek ini sangat bergantung pada keputusan mitra, kesiapan lahan, perizinan, dan kondisi pasar nikel serta baterai. Tanpa itu, integrasi hulu-hilir bisa berjalan tidak seimbang.
Bagi publik, nilai investasi Dragon dan Titan yang disebut mencapai miliaran dolar AS membawa konsekuensi besar. Bila berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan memberi nilai tambah di dalam negeri. Namun, karena sebagian tahapan masih berjalan, pemerintah dan ANTAM perlu menjaga transparansi progres, termasuk saat pabrik baterai sel di Karawang diresmikan nanti. Langkah logis berikutnya adalah memastikan setiap JV dan studi kelayakan berujung pada keputusan investasi yang jelas, bukan sekadar catatan progres.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

GOTO Rekor Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, GoPay jadi Penopang Utama

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi
