Abdul Sobur Pimpin HIMKI 2026-2030, Target Ekspor Mebel US$6 Miliar pada 2031

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Abdul Sobur Pimpin HIMKI 2026-2030, Target Ekspor Mebel US$6 Miliar pada 2031
BAGIKAN:

Ekspor mebel dan produk kerajinan Indonesia ditargetkan mencapai US$6 miliar, melompat dari capaian saat ini yang berkisar US$2,5-2,6 miliar per tahun. Target itu dipatok Abdul Sobur setelah resmi kembali memimpin HIMKI periode 2026-2030 melalui aklamasi Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 yang digelar 14-16 September 2026 di Bali.

Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Abdul Sobur menyebut momen terpilihnya kembali untuk menuntaskan amanah yang belum tuntas. “Amanah rupanya memiliki waktunya sendiri. Saya sempat merasa perjalanan ini telah sampai pada waktunya untuk diserahkan. Namun, masih ada pengabdian yang belum selesai, cita-cita yang belum sepenuhnya diwujudkan, dan generasi penerus yang harus dipersiapkan,” tulis Abdul Sobur, dikutip Rabu (16/9/2026).

“Bendera ini bukan sekadar simbol kepemimpinan, melainkan pengingat untuk menjaga kepercayaan dan menuntaskan tanggung jawab. Bismillah, dengan kerendahan hati, saya melanjutkan ikhtiar ini,” sambungnya.

Abdul Sobur mengatakan, dalam kepemimpinan baru ini target khusus adalah membawa HIMKI dari tahap penyusunan fondasi menuju eksekusi roadmap industri yang lebih terukur. “Prioritasnya meliputi percepatan ekspor mebel dan kerajinan nasional menuju US$6 miliar pada 2031, diversifikasi pasar agar tidak bergantung pada negara tujuan tradisional, serta penguatan daya saing industri melalui desain, teknologi, keberlanjutan, dan kepastian bahan baku,” tegasnya.

“Kami juga akan mendorong implementasi Global Strategic Plan (GSP) bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan, memperkuat pameran internasional seperti IFEX, Indowood, dan TEI, serta membangun akses pasar dan hub promosi permanen di kawasan strategis dunia,” tambah Abdul Sobur.

Abdul Sobur menegaskan target itu tidak bisa dicapai jika hanya mengandalkan gelaran pameran. “Untuk mencapai US$6 miliar pada 2031, memang tidak mungkin hanya mengandalkan pameran.Pameran tetap penting sebagai pintu masuk pasar. Namun, ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah peserta atau pengunjung, melainkan berapa banyak buyer yang menghasilkan kontrak, repeat order, dan akhirnya menaikkan ekspor nasional,” ucapnya.

“Jadi, periode 2026-2030 ini kami tempatkan sebagai fase membangun mesin pertumbuhannya, agar target US$6 miliar pada 2031 benar-benar dapat dicapai,” tukasnya lagi.

Abdul Sobur membeberkan enam jurus utama untuk mencapai target ekspor mebel tersebut, yaitu: 1. Mengoperasionalkan Task Force Kemendag-HIMKI dengan target tahunan yang terukur berdasarkan negara, produk, dan perusahaan. 2. Melakukan diversifikasi pasar agar tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat, dengan memperkuat penetrasi ke Eropa, Timur Tengah, Asia-Pasifik, Afrika, dan pasar baru lainnya. 3. Membangun hub promosi dan display permanen di pasar strategis, disertai market intelligence, buyer mission, serta business matching yang ditindaklanjuti sampai menjadi kontrak. 4. Meningkatkan daya saing melalui desain, teknologi, produktivitas, standardisasi, sertifikasi keberlanjutan, dan penguatan merek—agar Indonesia tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai tambah. 5. Memperbaiki ekosistem industrinya, terutama kepastian bahan baku, pembiayaan ekspor, restitusi pajak, energi, dan efisiensi logistik. 6. Mencetak eksportir baru serta memperkuat sentra produksi dan UMKM agar basis ekspor nasional semakin luas.

Tak hanya itu, dia juga berencana memperkuat kaderisasi di dalam organisasi HIMKI. “Satu bulan pertama akan kami gunakan untuk membentuk kepengurusan yang benar-benar berbasis kompetensi. Kaderisasi juga menjadi target khusus dalam waktu kurang dari dua tahun harus mulai muncul kader-kader terbaik yang siap melanjutkan kepemimpinan HIMKI,” ucapnya.

Sebab, imbuh dia, kepemimpinan kali ini bukan sekadar melanjutkan kepemimpinan lama. “Tapi menuntaskan agenda besar, mempercepat eksekusi, dan menyiapkan regenerasi,” kata dia.

“Amanah ini saya terima bukan untuk memperpanjang kekuasaan, melainkan untuk menuntaskan agenda besar HIMKI dan memastikan dalam waktu kurang dari dua tahun lahir kader-kader terbaik yang siap melanjutkan kepemimpinan,” pungkas Abdul Sobur.

Analisis Redaksi

Target US$6 miliar pada 2031 bukan angka ringan. Dengan posisi ekspor saat ini US$2,5-2,6 miliar per tahun, HIMKI mesti menjaga pertumbuhan yang konsisten selama beberapa tahun, bukan sekadar melonjak pada satu momen pameran. Enam jurus yang dipaparkan Abdul Sobur menunjukkan persoalan utama bukan cuma promosi, melainkan struktural: kepastian bahan baku, pembiayaan ekspor, restitusi pajak, energi, logistik, hingga standardisasi dan sertifikasi keberlanjutan.

Diversifikasi pasar menjadi prasyarat. Ketergantungan pada Amerika Serikat disebut ingin dikurangi, dengan penetrasi ke Eropa, Timur Tengah, Asia-Pasifik, Afrika, dan pasar baru lain. Namun, arah itu butuh mesin eksekusi yang rapi. Task Force Kemendag-HIMKI dengan target tahunan per negara, produk, dan perusahaan menjadi ujian awal: apakah rencana berubah menjadi kontrak, repeat order, dan kenaikan ekspor riil.

Yang perlu diwaspadai, periode 2026-2030 disebut sebagai fase membangun mesin pertumbuhan. Artinya, hasil tidak bisa ditunggu di akhir. Kepengurusan berbasis kompetensi dalam satu bulan pertama dan kaderisasi di bawah dua tahun akan menentukan apakah HIMKI mampu menjaga kesinambungan agenda. Jika eksekusi lintas kementerian, pembiayaan, dan pasar berjalan setengah hati, target US$6 miliar pada 2031 hanya akan menjadi angka di atas kertas.

Meow! Tanya Nesi!
😸