Udara Singapura Tak Sehat Pertama Kali Sejak 2019, Asap Kalimantan-Sumatra Disalahkan

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Udara Singapura Tak Sehat Pertama Kali Sejak 2019, Asap Kalimantan-Sumatra Disalahkan
BAGIKAN:

Kualitas udara di seluruh wilayah Singapura masuk kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak September 2019, setelah indeks standar polutan (PSI) 24 jam menyentang angka 101 pada Selasa (15/9) pagi menurut laporan Channel News Asia. Angka itu melewati ambang batas kategori tidak sehat yang ditetapkan pada rentang 101 hingga 200, jauh di bawah ambang sangat tidak sehat (201-300) dan berbahaya (di atas 300).

Wilayah tengah mencatat PSI tertinggi 154 pada pukul 06.00 pagi, diikuti wilayah timur dan barat yang menyentuh 128. Selatan berada di angka 111, sementara utara — paling rendah — tetap menembus batas tidak sehat pada angka 104. Tidak ada satu pun zona yang luput.

Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) pada Senin mengaitkan penurunan kualitas udara itu dengan kabut asap intensitas sedang hingga tebal yang terbawa angin dari Kalimantan dan bagian selatan Sumatra. Perubahan arah angin bertiup dari timur-tenggara menjadi pembawa utama massa udara tercemar itu ke pulau Singapura.

NEA memperkirakan kondisi kering akan bertahan beberapa hari ke depan. Angin dari arah tenggara hingga timur-tenggara diprediksi terus bertiup, membuat Singapura berpotensi terus terdampak kabut asap. Risiko sebaran lintas batas dinilai tetap tinggi oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC).

Dampak lintas batas sudah terlihat lebih luas. Awal pekan ini, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia terdeteksi sampai di Vietnam selatan pada Senin pagi menurut data ASMC. Titik api dan kondisi berkabut di wilayah asal diperkirakan tetap tinggi selama kurun waktu ini.

Analisis Redaksi

Kembalinya PSI melewati 100 di seluruh Singapura menandakan kegagalan mitigasi regional yang berulang. Sepuluh tahun lalu kebakaran 2015 menciptakan krisis serupa, dan meskipun Indonesia menclaim penurunan titik api signifikan, realita di lapangan — angin bergeser, asap menyapa — membuktikan kerentanan struktural. Singapura yang mengandalkan data NEA dan ASMC kini hadapi tekanan ganda: melindungi warganya dan mempertahankan diplomasi tetangga yang rapuh soal asap.

Yang perlu diwaspadai bukan hanya angka hari ini, tapi durasi. NEA meramalkan kondisi kering berlanjut beberapa hari dengan angin tenggara konstan. Jika curah hujan tidak turun dan pemadaman di Kalimantan-Sumatra tidak percepat, angka PSI bisa melonjak ke zona sangat tidak sehat — mengaktifkan protokol kesehatan darurat, menutup sekolah, hingga mengganggu penerbangan Changi. Langkah logis selanjutnya: tekanan diplomatik Singapura ke Jakarta akan keras, mungkin melibatkan mekanisme Transboundary Haze Pollution Agreement yang selama ini lebih bersifat simbolik. Warga Singapura, yang sudah lama menikmati udara bersih, kini jadi barometer keberhasilan — atau kegagalan — komitmen ASEAN bebas asap 2020 yang terlewat.

Meow! Tanya Nesi!
😸