129 Penumpang KMP Virgo Transport 8 Masih Dicari, 114 Telah Ditemukan
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Sebanyak 129 orang dari total 243 orang di KMP Virgo Transport 8 masih dalam proses pencarian setelah kapal itu mengalami kecelakaan dalam pelayaran rute Surabaya-Banjarmasin. Kementerian Perhubungan menyatakan operasi pencarian belum selesai meski sejumlah korban telah ditemukan dan dievakuasi.
Hingga Selasa (15/9), sebanyak 114 orang dari total 243 orang di kapal tersebut telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sementara enam orang meninggal dunia. Dari 114 orang yang telah ditemukan, 86 orang tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, terdiri dari 85 orang selamat dan satu orang meninggal dunia.
Sebanyak 22 korban selamat yang sebelumnya berada di KM Cahaya Bahari dievakuasi menggunakan KRI Nala-363 dan tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Muhammad Masyhud mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan dukungan untuk membantu proses pencarian. “Kami terus berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait dan mengoptimalkan dukungan yang dimiliki Ditjen Perhubungan Laut untuk membantu proses pencarian. Keselamatan seluruh unsur yang terlibat tetap menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan operasi,” ujar Masyhud dalam keterangan tertulis, Selasa (15/9).
Untuk memperluas pencarian, Ditjen Perhubungan Laut menerbitkan dan menyiarkan Notice to Mariners kepada kapal-kapal yang berlayar di sekitar wilayah operasi. Kapal yang berada atau melintas di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan dan turut melakukan penyisiran. Jika menemukan korban atau informasi terkait, kapal diminta segera melapor kepada KSOP, Vessel Traffic Service, Stasiun Radio Pantai, atau pihak terkait lainnya. Kemenhub juga mengoptimalkan pemantauan dan komunikasi melalui VTS dan SROP. Kapal Negara Kenavigasian KN Kunyit dikerahkan sebagai relay komunikasi radio antara kapal-kapal di lokasi operasi dengan SROP karena jarak lokasi membuat sebagian kapal tidak dapat melakukan transmisi radio secara langsung. “Dukungan komunikasi dan pemantauan terus kami optimalkan agar koordinasi dan pertukaran informasi antara kapal-kapal di lokasi dengan petugas di darat dapat berjalan dengan baik selama proses pencarian berlangsung,” jelas Masyhud.
Selain pencarian, Kemenhub turut mendampingi PT Jasa Raharja dalam penyerahan santunan kepada ahli waris korban meninggal dunia dalam insiden KMP Virgo Transport 8. Masyhud menegaskan Kemenhub akan terus memantau perkembangan penanganan kecelakaan tersebut dan menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan di lapangan. “Fokus kami saat ini adalah mendukung upaya pencarian terhadap korban yang masih belum ditemukan sekaligus memastikan penanganan terhadap korban dan keluarga dapat berjalan dengan baik. Kementerian Perhubungan akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait,” tutup Masyhud.
Analisis Redaksi
Angka 129 yang masih dicari menunjukkan operasi laut ini belum mendekati selesai. Dari 243 orang di kapal, baru 114 yang ditemukan. Artinya, ruang pencarian masih lebar dan waktu terus berjalan. Koordinasi antarkapal, VTS, dan SROP menjadi tulang punggung karena lokasi operasi disebut membuat sebagian kapal tidak bisa bertransmisi radio langsung. Kehadiran KN Kunyit sebagai relay komunikasi bukan pelengkap, melainkan penopang utama agar informasi korban tidak tersendat.
Penerbitan Notice to Mariners memperlihatkan strategi pencarian tidak hanya bergantung pada satu armada. Kapal-kapal yang melintas diminta menyisir dan melapor. Cara ini logis untuk memperluas jangkauan, tetapi efektivitasnya bergantung pada kepatuhan dan kecepatan pelaporan. Publik perlu mencermati apakah arus informasi dari laut ke darat berjalan mulus, terutama karena keselamatan seluruh unsur yang terlibat disebut sebagai perhatian utama.
Ke depan, fokus yang masuk akal adalah mempercepat pencarian yang belum tuntas, memastikan korban selamat mendapat penanganan, dan menuntaskan santunan bagi ahli waris. Pernyataan Masyhud bahwa Kemenhub akan menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan lapangan menjadi kunci. Jika komunikasi dan penyisiran terus dioptimalkan, peluang menemukan korban yang masih hilang bisa lebih terbuka. Namun, tanpa pembaruan data yang rutin, publik akan sulit menilai apakah operasi benar-benar bergerak efektif.


