AHY: Tantangan Terberat Giant Sea Wall Fokus di Teluk Jakarta hingga Demak
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pembangunan Giant Sea Wall sepanjang 575 kilometer di Pantai Utara Jawa menghadapi hambatan teknis paling signifikan di wilayah Teluk Jakarta, Kendal, Semarang, dan Demak. Langkah strategis ini diambil untuk melindungi kawasan pesisir yang tidak hanya rawan abrasi, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi dan permukiman nelayan yang padat.
Dalam Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Gedung BJ. Habibie BRIN, Jakarta Pusat, Senin (14/9), AHY menguraikan bahwa master plan pengamanan pesisir tersebut membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Ia mengakui bahwa zona-zona tertentu, khususnya di sekitar teluk dan kota industri besar seperti Semarang, menuntut penanganan lebih kompleks dibandingkan wilayah lainnya.
AHY menekankan bahwa mitigasi bencana banjir dan abrasi tidak dapat diselesaikan secara parsial melalui pembangunan tanggul atau normalisasi sungai semata. Pendekatan yang dipilih pemerintah adalah holistik, yakni mengintegrasikan infrastruktur fisik dengan penataan sosial-ekonomi kawasan nelayan agar memiliki ketahanan yang lebih baik dan layak huni.
Kolaborasi lintas sektor antara kementerian, lembaga, serta pemerintah pusat dan daerah dinilai kunci keberhasilan proyek ini. Tujuannya bukan hanya perlindungan aset ekonomi, tetapi juga penciptaan lingkungan hidup yang sehat bagi masyarakat pesisir Pantura yang selama ini terdampak perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
