Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ketahanan Energi Kunci Transformasi Digital RI: Butuh 17,5 TWh untuk Data Center 2029

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ketahanan Energi Kunci Transformasi Digital RI: Butuh 17,5 TWh untuk Data Center 2029
BAGIKAN:

Ekspansi masif kapasitas pusat data (data center) nasional dari 274 MW saat ini menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029 diproyeksikan menggerus pasokan listrik teoritis sebesar 17,52 terawatt-hour (TWh) per tahun, setara 5,5% dari total penjualan listrik PLN tahun 2025 yang mencatat 317,69 TWh. Lonjakan permintaan ini menempatkan ketahanan energi sebagai fondasi mutlak keberlangsungan layanan publik, telekomunikasi, dan roda perekonomian digital Indonesia.

Lompatan Akses Digital Mendorong Lapangan Permintaan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penetrasi internet penduduk berusia 5 tahun ke atas melonjak dari 62,10% (2021) menjadi 72,78% (2024). Lebih dari 212 juta pengguna internet—disertai adopsi cloud, e-commerce, dan fintech yang merakyat—memaksa infrastruktur digital beroperasi penuh 24 jam. Listrik tidak lagi sekadar komoditas, melainkan "aliran darah" yang menghidupkan jaringan BTS, pusat data, hingga gawai pengguna akhir.

Beban Energi Skala Global vs Lokal

Skala tantangan terlihat dari perbandingan global. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pusat data dunia mengonsumsi 415 TWh (2024), sementara transmisi data global menyerap 260–360 TWh (2022) menurut EIA. Di tingkat domestik, TelkomGroup saja mencatatkan konsumsi 2,45 TWh sepanjang 2025, naik dari 2,39 TWh tahun sebelumnya, mayoritas untuk mendukung operasional pusat data dan jaringan.

Infrastruktur Tenaga: Dari Pembangkit hingga Cadangan Daya

Target 2.000 MW pusat data tidak hanya berarti menambah gedung dan server. Rantai pasokan listrik—mulai pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk, distribusi, hingga sistem cadangan daya (UPS/genset)—harus dibangun secara simultan. Kegagalan di salah satu simpul, apalagi di wilayah rawan bencana atau cuaca ekstrem, berpotensi mematikan layanan kesehatan, keuangan, transportasi, dan pemerintahan sekaligus.

Insight Makro: Angka 5,5% kontribusi terhadap beban sistem nasional 2029 menuntut perencanaan investasi jaringan transmisi dan distribusi yang *front-loaded*, bukan reaktif. Tanpa kecepatan *financial close* proyek pembangkit dan gardu yang sinkron dengan *commercial operation date* pusat data, Indonesia berisiko menghadapi *bottleneck* energi yang mengganggu daya saing ekonomi digital.

Tanggung Jawab Kolektif Operator

Ketahanan jaringan dan energi menjadi kewajiban bersama seluruh operator telekomunikasi. Penyedia layanan publik digital wajib memastikan redundansi daya dan *disaster recovery plan* yang teruji, agar komunikasi dan layanan kritis tetap berjalan saat krisis. Ketahanan energi, pada hakikatnya, adalah ketahanan nasional di era digital.

Pertanyaan Terkait

Berapa besar kebutuhan listrik data center Indonesia pada 2029?
Secara teoritis, kapasitas 2.000 MW yang beroperasi penuh membutuhkan sekitar 17,52 TWh per tahun.

Seberapa signifikan porsi itu terhadap pasokan nasional?
Berdasarkan data penjualan PLN 2025 (317,69 TWh), kebutuhan data center 2029 setara sekitar 5,5% dari total pasokan listrik nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸