Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pakistan Ultimatum Iran: Hentikan Houthi atau Perang Proksi Meletus, Blokade Trump Jadi Penentu

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pakistan Ultimatum Iran: Hentikan Houthi atau Perang Proksi Meletus, Blokade Trump Jadi Penentu
BAGIKAN:

Pakistan menyampaikan peringatan keras dari Arab Saudi kepada Iran agar segera mengendalikan sekutu Houthi mereka. Ultimatum ini muncul setelah kelompok Houthi menggempur pangkalan udara Khamis Mushait dan infrastruktur minyak di kota-kota sekitarnya pada Selasa (8/9), melukai 73 orang. Serangan itu tercatat sebagai salah satu gempuran terbesar terhadap Arab Saudi sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada Februari lalu.

Intervensi Pakistan ini bukan tanpa bobot. Negara itu terikat pakta pertahanan dengan Arab Saudi dan Turki. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa agresi terhadap satu negara akan dianggap agresi terhadap ketiganya. "Agresi yang tidak beralasan atau limpahan ke Arab Saudi pasti akan membuat perjanjian ini operasional," paparnya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa krisis Timur Tengah bisa dengan cepat berubah menjadi konfrontasi militer yang lebih luas.

Balasan Saudi dan Sikap Houthi

Merespons gempuran tersebut, pesawat tempur Arab Saudi dilaporkan melancarkan 54 serangan udara mematikan di berbagai provinsi Yaman selama 12 jam terakhir. Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, memastikan bahwa rentetan balasan Riyadh tidak akan membuat kelompoknya mundur. "Serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan dan hukuman," tegasnya. Sikap ini menunjukkan bahwa Houthi tidak gentar menghadapi eskalasi, bahkan ketika tekanan diplomatik dari Pakistan meningkat.

Bantahan Iran dan Bukti Keterlibatan Langsung

Seorang pejabat senior Iran membenarkan telah menerima pesan dari Pakistan, namun berdalih bahwa Teheran tidak mengendalikan Houthi. Namun, dua sumber internal Iran justru membocorkan bahwa Teheran telah secara langsung memerintahkan Houthi untuk menyerang Arab Saudi pada pekan lalu. Teheran bahkan menjanjikan tambahan dana dan senjata, serta mengirim beberapa komandan Garda Revolusi (IRGC) ke Yaman untuk mengoordinasikan serangan. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa Iran memainkan peran sentral dalam konflik proksi tersebut.

Pertemuan Militer Tiga Negara dan Opsi Diplomatik

Sumber diplomatik membeberkan bahwa perwakilan militer Arab Saudi, Pakistan, dan Turki telah bertemu di Riyadh. Ketiga negara sepakat bahwa pasukan mereka tidak akan memasuki Yaman dan operasi balasan hanya akan diluncurkan dari dalam wilayah Saudi. "Pakistan memiliki perjanjian dengan Arab Saudi, tetapi saya berharap situasi tidak akan mencapai titik di mana Pakistan harus turun tangan secara praktis. Ia akan mengupayakan solusi diplomatik untuk saat ini," ucap seorang diplomat regional. Namun, analisis saya sebagai ekonom makro menunjukkan bahwa ketegangan ini memiliki implikasi besar terhadap stabilitas harga minyak dunia. Setiap eskalasi di Selat Hormuz atau serangan ke fasilitas minyak Saudi akan langsung mengguncang pasar energi global.

Blokade Ekonomi Trump dan Daya Tahan Iran

Di tengah memanasnya proksi ini, Presiden AS Donald Trump tampaknya tetap berkomitmen mempertahankan blokade ekonomi demi mencekik perekonomian Iran. Arab Saudi pun diyakini tidak akan mendesak Washington untuk mencabut blokade tersebut dan membiarkan tekanan ekonomi menggerus kekuatan lawan. "Pertanyaannya adalah seberapa banyak penderitaan yang dapat ditanggung Iran, dan untuk berapa lama. Trump tidak menginginkan solusi militer. Ia ingin menekan mereka melalui blokade," pungkas seorang sumber regional. Dari kacamata ekonomi, strategi ini mirip dengan perang dagang jangka panjang: efektif jika Iran tidak memiliki penyangga ekonomi yang cukup. Namun, dengan keterlibatan IRGC di Yaman, Teheran tampaknya memilih untuk melawan balik melalui proksi, bukan menyerah pada tekanan.

Analisis: Perang Proksi dan Risiko Harga Minyak

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai bahwa konflik ini bukan sekadar pertempuran militer, melainkan juga pertarungan ekonomi. Serangan Houthi ke infrastruktur minyak Saudi adalah sinyal bahwa Iran dan sekutunya mampu mengganggu pasokan energi global. Jika blokade AS terus diperketat, Iran mungkin akan semakin agresif menggunakan proksi untuk menaikkan harga minyak dan menekan ekonomi Barat. Sebaliknya, Arab Saudi dan sekutunya berusaha menjaga stabilitas pasokan untuk melindungi pendapatan ekspor mereka. Dalam jangka pendek, volatilitas harga minyak akan meningkat, dan negara-negara importir energi seperti Indonesia perlu mewaspadai dampaknya terhadap inflasi dan defisit anggaran.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang dimaksud pakta pertahanan Pakistan-Arab Saudi-Turki?
Pakta ini adalah kesepakatan keamanan yang menyatakan bahwa agresi terhadap salah satu negara dianggap agresi terhadap ketiganya, sehingga memicu respons militer bersama.

Mengapa serangan Houthi kali ini dianggap besar?
Karena menargetkan pangkalan udara Khamis Mushait dan infrastruktur minyak, melukai 73 orang, dan menjadi salah satu gempuran terbesar sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada Februari lalu.

Bagaimana dampak blokade AS terhadap ekonomi Iran?
Blokade membatasi ekspor minyak dan akses ke sistem keuangan global, menekan pendapatan negara, namun Iran masih memiliki jaringan proksi dan mitra dagang alternatif untuk bertahan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ