LNG Kuasai 50% Pasokan 2029, Danantara Desak Pertamina Tekan Impor LPG
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) dan Danantara Indonesia menekan PT Pertamina (Persero) untuk memperkuat pasokan gas domestik. Dorongan ini bukan sekadar agenda korporasi, melainkan strategi makro untuk memangkas impor energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam pertemuan di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2026), Pertamina memaparkan tiga jalur utama: pengembangan liquefied natural gas (LNG), jaringan gas (jargas), dan compressed natural gas (CNG). BP BUMN dan Danantara menilai langkah itu krusial karena ketergantungan pada energi impor, terutama LPG, masih menjadi beban fiskal dan risiko pasokan.
LNG Diproyeksi Dominan pada 2029
Seorang direksi Pertamina memaparkan bahwa kebutuhan LNG akan semakin dominan dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Bahkan, pada 2029, porsi LNG diproyeksikan mencapai lebih dari 50% dari total pasokan.
“Ke depan ini setelah tahun 2025 kemarin, itu kebutuhan LNG itu akan semakin dominan, Pak. Dan di tahun 2029 itu, LNG itu akan lebih dari 50% mengisi seluruh pasokan,” ujar salah satu direksi Pertamina, dikutip dari akun Instagram BP BUMN, Jumat (11/9/2026).
Angka itu memberi sinyal tegas: masa depan bauran energi Indonesia akan bertumpu pada gas, khususnya LNG. Namun, proyeksi tanpa eksekusi infrastruktur hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Jargas dan CNG Jadi Ujung Tombak
Pertamina juga menjelaskan pengembangan infrastruktur gas untuk memperluas akses masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan mother station yang mendapat pasokan LNG dalam jumlah besar untuk kemudian disalurkan kepada rumah tangga.
“Ada satu mother station khusus Pak yang disuplai dengan LNG besar, kemudian menyalurkan sampai 12.000 rumah,” tambahnya.
Dalam kacamata makro, proyek seperti ini bukan hanya soal pipa dan tabung gas. Ia menyentuh langsung daya beli rumah tangga, subsidi energi, dan neraca impor. Jika jargas serta CNG berjalan masif, tekanan terhadap ketergantungan LPG bisa berkurang signifikan.
Danantara: Kombinasi Ini Signifikan Tekan Impor LPG
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengapresiasi langkah Pertamina tersebut. Menurut dia, kombinasi pengembangan jargas dan CNG berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor.
Dony menilai peningkatan porsi pasokan gas domestik dapat secara langsung menekan kebutuhan impor LPG. Karena itu, ia menilai perkembangan pembangunan infrastruktur gas menjadi salah satu poin penting yang perlu terus didorong.
“Poin-poin itulah yang sebetulnya penting, ada progres gitu. artinya kalau 50% kita bisa suplai kan ketergantungan terhadap LPG kita juga kan dia berbanding begini kan,” kata Dony di tempat yang sama.
Ia menilai kombinasi jargas dan CNG yang dikembangkan Pertamina dapat memberikan dampak signifikan terhadap penurunan impor, khususnya LPG. Menurut Dony, penguatan pasokan gas domestik tersebut pada akhirnya tidak hanya memperluas akses energi bagi masyarakat, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan LPG dari luar negeri.
“Itu dampaknya terhadap kita itu signifikan, terhadap import kita, ketergantungan kita terhadap LPG, itu bagus tuh Pak,” kata Dony.
Insight Bisnis: Peluang Besar, Eksekusi Tetap Diuji
Dari sisi ekonomi, arah kebijakan ini masuk akal. Menggeser konsumsi dari LPG impor ke gas bumi domestik berpotensi memperbaiki neraca perdagangan dan mengurangi ruang fiskal yang tergerus subsidi. Namun, risiko tetap ada: kesiapan pasokan hulu, pembangunan jaringan, dan skema harga yang kompetitif harus berjalan seiring.
Jika target LNG lebih dari 50% pada 2029 tercapai, Indonesia bisa memiliki bantalan energi yang lebih kuat. Sebaliknya, tanpa percepatan investasi dan koordinasi lintas lembaga, proyeksi itu hanya akan menjadi wacana tahunan yang berulang.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa target utama BP BUMN dan Danantara?
Mendorong Pertamina memperkuat pasokan gas domestik untuk mengurangi impor energi, khususnya LPG.
Mengapa LNG diproyeksi dominan pada 2029?
Karena kebutuhan energi nasional meningkat dan LNG diproyeksikan mengisi lebih dari 50% total pasokan.
Apa dampak jargas dan CNG?
Keduanya berpotensi menekan ketergantungan pada LPG impor dan memperluas akses energi rumah tangga.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Uji Produksi Minyak Prabumulih Melebihi Target 192%

BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Turun Jadi 3,23%, Harga Bensin dan Emas jadi Pemicu

Lonjakan Harga Pangan Awal November: Bawang Merah Melonjak 89,7%
