Houthi Kuasai Mocha, Laut Merah di Ambang Kiamat Minyak: Brent Tembus US$105

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas kendali di pesisir Yaman dan merebut Kota Pelabuhan Mocha pada Kamis (10/9/2026), lalu bergerak menuju Kepulauan Hanish. Menurut sumber militer pemerintah Yaman, penguasaan Mocha memberi Houthi posisi langsung di akses menuju Laut Merah, tepat di mulut Selat Bab el-Mandeb. Bagi pasar energi, ini bukan sekadar perang lokal: ini ancaman langsung terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi dan pasokan energi global.
Mengapa Bab el-Mandeb Begitu Vital
Selat Bab el-Mandeb adalah pintu masuk selatan Laut Merah. Jika Houthi mampu menguasainya, Iran berpotensi memegang kartu tekanan tambahan terhadap Amerika Serikat sekaligus mengganggu koridor minyak utama. Arab Saudi kini semakin bergantung pada rute Laut Merah setelah konflik dengan Iran efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Houthi menyatakan pelayaran di Laut Merah aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal milik Arab Saudi.
Pasar Langsung Bereaksi
Ancaman itu tidak menunggu lama. Harga minyak Brent sempat melonjak 4% hingga menembus US$105 atau sekitar Rp1,848 juta per barel. Harga rata-rata diesel nasional Amerika Serikat menembus US$6 atau sekitar Rp105.600 per galon. Dalam bahasa ekonomi makro, pasar sedang memberi premi risiko geopolitik. Jika Bab el-Mandeb terganggu, biaya logistik, asuransi pelayaran, dan energi akan naik berantai ke inflasi global.
Tekanan Iran dan Sikap Houthi
Sumber pemerintah Yaman, Iran, dan kawasan menyebut pergerakan Houthi pekan ini dilakukan dengan arahan langsung Korps Garda Revolusi Iran. Juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam menegaskan operasi mereka defensif dan akan berhenti bila serangan terhadap Yaman dihentikan. Amerika Serikat menilai eskalasi ini tidak dapat diterima. Perwakilan AS Jenifer Neidhart de Ortiz menyebut Houthi sebagai agen dan alat bagi Iran, sementara Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg menyerukan langkah internasional menghadapi fase baru yang lebih berbahaya.
Hormuz Belum Pulih, Risiko Memburuk
Di tengah ancaman Laut Merah, upaya membuka kembali Selat Hormuz kembali terhambat. Data awal pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi selat itu pada Rabu, sekitar separuh dari rata-rata 10 hari terakhir. Media pemerintah Iran melaporkan Garda Revolusi menyerang kapal nirawak AS di pintu masuk Hormuz. Kombinasi dua choke point ini membuat pasar energi dunia berada di titik rapuh: gangguan kecil bisa memicu lonjakan harga besar.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang membuat Laut Merah berbahaya bagi minyak? Karena Houthi menguasai Mocha dan mendekati Bab el-Mandeb, jalur ekspor minyak Arab Saudi dan pelayaran global bisa terancam.
Mengapa harga minyak naik? Pasar menambah premi risiko geopolitik. Brent sempat naik 4% ke US$105 per barel, sementara diesel AS menembus US$6 per galon.
Apa dampaknya bagi Indonesia? Harga energi impor, biaya logistik, dan inflasi bisa tertekan jika ketegangan di Laut Merah dan Hormuz berlanjut.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
