China Kuasai 44 Juta Ton LTJ, Indonesia Masih Menunggu di Peta Logam Tanah Jarang Dunia
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Badan Industri Mineral (BIM) menyoroti peta sebaran produksi dan cadangan logam tanah jarang di mancanegara. Dalam paparan di JIExpo, Jumat (11/9/2026), Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menegaskan bahwa China masih memegang posisi teratas dengan cadangan 44 juta ton dan produksi 210 ribu ton. Vietnam menyusul dengan 22 juta ton, sedangkan Rusia dan Brazil masing-masing 21 juta ton. Indonesia belum masuk peta karena masih menyelesaikan survei, eksplorasi, dan validasi data.
China Masih Raja, Vietnam dan Rusia Mengekor
Data USGS 2023 yang dikutip BIM memperlihatkan ketimpangan struktural dalam penguasaan cadangan LTJ. China bukan hanya memiliki cadangan terbesar, tetapi juga produksi LTJ yang jauh melampaui negara lain. Vietnam berada di peringkat kedua dengan 22 juta ton cadangan dan produksi 4,2 ribu ton. Rusia dan Brazil sama-sama mencatat 21 juta ton cadangan, dengan produksi masing-masing 2,6 ribu ton dan 80 ton.
Bagi saya, angka ini bukan sekadar statistik. LTJ adalah bahan baku kritis untuk magnet, elektronik, kendaraan listrik, hingga pertahanan. Negara yang menguasai cadangan dan produksi memegang kartu tawar geopolitik dan industri yang sangat kuat. China telah lama membangun ekosistem hilirisasi, sementara banyak negara masih berhenti di tahap eksplorasi.
Indonesia Belum di Peta, Bukan Berarti Tidak Ada
Yogi menegaskan Indonesia belum dimunculkan dalam peta tersebut bukan karena tidak memiliki potensi. Pemerintah masih menunggu penyelesaian kegiatan survei, eksplorasi, serta kesiapan sumber daya manusia, termasuk competent person. Menurutnya, pernyataan resmi soal resources dan reserve membutuhkan validasi lapangan yang ketat.
Dalam kerangka ekonomi makro, keterlambatan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kehati-hatian menjaga kredibilitas data. Di sisi lain, Indonesia berisiko kehilangan momen untuk menarik investasi hilirisasi. Tanpa data cadangan yang terverifikasi, posisi tawar Indonesia dalam negosiasi global soal mineral kritis tetap lemah.
Insight Bisnis: Hilirisasi LTJ Butuh Data, Bukan Hanya Retorika
Peta BIM memberi sinyal jelas: persaingan LTJ dunia masih dikuasai segelintir negara. Jika Indonesia serius masuk ke rantai pasok global, tiga hal harus dibenahi. Pertama, percepatan survei dan eksplorasi dengan standar internasional. Kedua, penyiapan SDM dan laboratorium pengujian. Ketiga, kepastian regulasi agar investor berani masuk ke sektor pengolahan.
Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi penonton di pasar yang semakin strategis. Padahal, permintaan LTJ diproyeksikan naik seiring transisi energi dan digitalisasi. Sudah waktunya data cadangan nasional tidak lagi menjadi misteri.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu LTJ? LTJ atau logam tanah jarang adalah kelompok 17 unsur logam yang digunakan dalam teknologi tinggi, seperti magnet, baterai, elektronik, dan peralatan pertahanan.
Negara mana yang memiliki cadangan LTJ terbanyak? Berdasarkan data USGS 2023 yang dikutip BIM, China berada di posisi pertama dengan 44 juta ton, disusul Vietnam 22 juta ton, serta Rusia dan Brazil masing-masing 21 juta ton.
Mengapa Indonesia belum masuk peta LTJ dunia? Indonesia masih menyelesaikan survei, eksplorasi, validasi data, dan penyiapan competent person sebelum dapat memberikan pernyataan resmi soal sumber daya dan cadangan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK Sanksi Aurora Asset Management Rp2,57 Miliar dan Bubarkan Lima Reksa Dana

ACES Raih Rp6,9 Triliun 9 Bulan, Skor Tata Kelola Naik ke Level 'Very Good'

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026
