Bukan Cuma EV, Logam Tanah Jarang Jadi Kunci Pertahanan dan Energi Bersih RI

Badan Industri Mineral (BIM) menegaskan penguasaan teknologi logam tanah jarang (LTJ) bukan lagi sekadar urusan kendaraan listrik. Dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo, Jumat (11/9/2026), Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menyatakan 17 unsur LTJ adalah elemen strategis untuk energi bersih, industri pertahanan, hingga kemandirian bangsa. Pernyataan itu menjawab mengapa kebutuhan global atas mineral kritis ini melonjak, dan mengapa Indonesia tidak boleh berhenti pada sekadar menjual cadangan.
Data International Energy Agency (IEA) yang dikutip BIM menunjukkan kebutuhan mineral untuk pembangkit listrik tenaga angin darat melonjak 9 kali lipat dibandingkan pembangkit gas. Sementara itu, produksi kendaraan listrik menaikkan kebutuhan mineral hingga 6 kali lipat. Unsur neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) menjadi komponen utama magnet permanen pada turbin angin maupun motor listrik. Scandium (Sc), misalnya, dipakai untuk paduan aluminium bernilai tinggi.
Bukan Sekadar Komoditas Tambang
Dari kacamata ekonomi makro, LTJ adalah contoh sempurna bagaimana komoditas berubah menjadi instrumen geopolitik. Yogi menyebut LTJ membawa kepentingan strategis untuk masa depan, baik bagi industri energi bersih, pertahanan, maupun peningkatan nilai tambah. Artinya, harga bukan satu-satunya variabel. Yang lebih menentukan adalah siapa yang menguasai teknologi pemurnian, pemisahan, dan produksi magnet permanen.
Di titik ini, Indonesia menghadapi ujian yang sama seperti pada nikel dan bauksit: apakah kita hanya menjadi pemasok bahan mentah, atau naik kelas menjadi pemain rantai pasok global? Tanpa penguasaan teknologi, cadangan besar hanya menjadi angka di laporan geologi, bukan kekuatan industri.
Pergeseran dari Cadangan ke Rantai Pasok
Yogi menegaskan persaingan global telah bergeser dari sekadar memiliki cadangan menuju kemampuan membangun supply chains. BIM, menurutnya, hadir untuk memotong gap antara hasil riset perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN dengan kebutuhan riil industri. Ini langkah yang tepat, tetapi tidak cukup jika tidak disertai insentif fiskal, kepastian regulasi, dan pasar domestik yang menyerap produk antara.
Pengolahan mandiri di dalam negeri menjadi krusial. Skema ekspor bahan mentah lalu mengimpor kembali produk jadi berpotensi menimbulkan kerugian negara. Dalam bahasa ekonomi, kita kehilangan nilai tambah, lapangan kerja, dan transfer teknologi. Jika terus dibiarkan, Indonesia hanya menjadi penonton di pasar mineral kritis yang nilainya diproyeksikan terus membesar.
Jangan Ulangi Jebakan Ekspor Mentah
Pemerintah dan pelaku industri perlu mempercepat riset pengolahan mineral strategis. Namun, percepatan itu harus disertai tata kelola lingkungan dan sosial yang ketat. LTJ sering mengandung unsur radioaktif alami, sehingga pengolahan yang sembarangan bisa menciptakan biaya lingkungan jauh lebih besar dari manfaat ekonominya. Di sisi lain, hilirisasi LTJ membutuhkan listrik stabil, air proses, dan sumber daya manusia teknis yang mumpuni.
Bagi investor, sinyal dari BIM ini layak dicatat. Sektor yang akan terimbas bukan hanya pertambangan, tetapi juga elektronik, otomotif, turbin angin, hingga pertahanan. Bagi pembuat kebijakan, ini saatnya beralih dari retorika hilirisasi ke eksekusi rantai pasok. Tanpa itu, narasi besar tentang kemandirian bangsa hanya akan berhenti di podium.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu logam tanah jarang (LTJ)? LTJ adalah 17 unsur logam yang digunakan dalam magnet permanen, paduan logam, elektronik, dan teknologi energi bersih. Unsur seperti neodymium dan dysprosium menjadi komponen kunci turbin angin serta motor listrik.
Mengapa LTJ penting bagi Indonesia? Karena LTJ tidak hanya menopang kendaraan listrik, tetapi juga industri pertahanan, energi bersih, dan posisi geopolitik. Penguasaan teknologi pengolahan akan menentukan apakah Indonesia mampu mendapatkan nilai tambah atau tetap bergantung pada impor produk jadi.
Apa risiko jika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah LTJ? Risiko utamanya adalah kehilangan nilai tambah, lapangan kerja, dan transfer teknologi. Pola ekspor bahan mentah lalu impor produk jadi juga berpotensi merugikan negara dan melemahkan kemandirian industri.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

GOTO Rekor Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, GoPay jadi Penopang Utama

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi
