Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

5 Jurnalis Hilang Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Speed Boat di Selat Sunda Diperluas

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

5 Jurnalis Hilang Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Speed Boat di Selat Sunda Diperluas
BAGIKAN:

Tim SAR Gabungan memperluas pencarian delapan orang korban speed boat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Lima di antaranya adalah jurnalis yang sejak Senin (7/9) tidak terdengar kabarnya saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput erupsi. Speed boat itu bertolak dari Carita dengan satu nahkoda, satu anak buah kapal, dan satu pemandu. Operasi yang diperluas pada Jumat (11/9) itu melibatkan sejumlah kapal dan sarana SAR, namun Basarnas menyatakan belum ada tanda penemuan terhadap kelima jurnalis tersebut.

Pencarian Membentang di Perairan Selat Sunda

Menurut Basarnas, perluasan area dilakukan karena kondisi perairan dan dinamika cuaca menuntut penyisiran yang lebih sistematis. Sejumlah kapal, termasuk unsur SAR dan kapal pendukung, dikerahkan untuk menyapu titik-titik yang diduga menjadi jalur pelayaran speed boat nahas tersebut. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada sinyal darurat, serpihan, atau tanda lain yang mengarah pada lokasi korban.

Dalam penanganan jurnalis hilang ini, publik menanti transparansi kronologi: kapan kontak terakhir terjadi, bagaimana komunikasi terakhir, dan apakah ada peringatan dini terkait aktivitas Anak Krakatau maupun kondisi laut. Informasi itu penting bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menutup celah agar insiden serupa tidak terulang.

Kronologi yang Perlu Dijawab

Kelima jurnalis dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9) ketika menuju kawasan perairan Selat Sunda. Mereka berlayar dari Carita dengan satu speed boat yang diawaki satu nahkoda, satu anak buah kapal, dan satu pemandu. Total delapan orang berada dalam satu rombongan itu. Sampai kini, belum ada kepastian apakah mereka masih berada di laut, terdampar, atau mengalami kendala mesin dan komunikasi.

Dalam situasi seperti ini, koordinasi lintas instansi menjadi kunci. Basarnas tidak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan dukungan TNI, Polri, nelayan lokal, operator kapal, dan otoritas pelabuhan untuk mempersempit area pencarian. Setiap jam yang berlalu memperkecil peluang, sehingga informasi sekecil apa pun dari warga atau pengguna laut harus diverifikasi cepat.

Analisis: Keselamatan Peliputan di Zona Berbahaya

Sebagai jurnalis senior, saya menilai insiden ini membuka pertanyaan mendasar tentang standar keselamatan peliputan bencana. Meliput erupsi gunung berapi aktif di tengah perairan bukan pekerjaan biasa. Ada risiko gelombang, arus, visibilitas, dan letusan yang bisa berubah cepat. Karena itu, protokol keberangkatan, izin, komunikasi, serta perlengkapan keselamatan seharusnya tidak menjadi formalitas. Jika ada kelalaian, baik dari penyelenggara pelayaran, koordinasi lapangan, maupun pengambil kebijakan, itu harus diusut secara terbuka.

Namun, spekulasi liar justru bisa mengaburkan fakta. Yang paling mendesak adalah memperkuat operasi SAR, melibatkan nelayan setempat, memperluas pemantauan udara dan laut, serta memastikan keluarga korban mendapat informasi yang akurat. Pencarian delapan orang ini adalah ujian bagi kesigapan negara di laut.

FAQ Terkait Berita Ini

Di mana pencarian dilakukan?
Pencarian diperluas di perairan sekitar Selat Sunda dengan melibatkan sejumlah kapal dan sarana SAR.

Berapa orang yang hilang?
Sebanyak delapan orang, terdiri dari lima jurnalis, satu nahkoda, satu anak buah kapal, dan satu pemandu.

Apa kata Basarnas?
Basarnas menyatakan belum ada tanda penemuan terhadap kelima jurnalis yang hilang kontak.

Meow! Tanya Nesi!
😸