Trump Umumkan Harga Minyak Bakal Anjlok Usai Pemilu Sela, Brent Tembus US$101

Presiden Donald Trump memastikan harga minyak dan gas di Amerika Serikat belum akan turun dalam waktu dekat, tetapi menjamin penurunan tajam terjadi persis setelah pemilu sela Kongres awal November. Pernyataan itu keluar saat perang AS-Iran memasuki bulan ketujuh dan harga energi kembali melonjak: Brent sempat menembus US$101 per barel, tertinggi sejak Juli, sedangkan WTI AS di atas US$96 per barel.
Berbicara di Pangkalan Gabungan Andrews sebelum bertolak ke Texas untuk konvensi paruh waktu Partai Republik, Kamis (10/9/2026), Trump mengatakan, “Tepat setelah pemilihan, harga minyak akan anjlok.” Ia menilai kenaikan harga energi bisa dijelaskan ke publik dengan mengaitkannya pada ancaman nuklir Iran. “Anda hanya perlu bertanya, ‘Apakah Anda akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir?’ Dan jawabannya adalah tidak,” ujarnya.
Trump juga memperkirakan perang dengan Iran berakhir “segera setelah pemilihan” karena rezim Iran dinilai tak mampu bertahan lebih lama. Di saat yang sama, ia menuding Iran berusaha memengaruhi hasil pemilu sela AS agar Washington memiliki pemerintahan yang lebih lemah dan tidak lagi menekan program nuklirnya.
Beban Politik di Tengah Inflasi
Pernyataan itu menjadi pengakuan langka Trump bahwa perang dan dampaknya terhadap harga energi AS kemungkinan masih berlangsung melewati pemilu sela. Kondisi ini berpotensi menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik, terutama ketika isu inflasi dan mahalnya biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan kesepakatan damai dengan Teheran sudah dekat. Kini ia lebih menekankan penghancuran kekuatan militer serta tekanan ekonomi terhadap Iran. Militer AS mengklaim telah menghancurkan 10 kapal tanker Iran dalam sepekan terakhir, dan Trump memperingatkan akan ada lebih banyak serangan.
Trump juga mengklaim harga bensin yang kini di level tertinggi akan turun di bawah US$2 per galon, tetapi mengakui penurunan itu mungkin baru terjadi setelah pemilu sela. Prediksi tersebut diragukan analis bahan bakar Patrick De Haan. “Saya sama sekali tidak melihat adanya jaminan hal itu akan terjadi,” kata De Haan melalui platform X.
Insight Bisnis: Premi Risiko Politik Belum Hilang
Bagi pasar, janji Trump lebih terbaca sebagai sinyal politik ketimbang jaminan fundamental. Selama perang AS-Iran belum menemukan titik akhir, premi risiko geopolitik akan tetap menempel pada harga minyak. Pelaku usaha perlu mengantisipasi volatilitas lanjutan, terutama jika serangan militer meningkat menjelang pemilu. Pernyataan “anjlok setelah pemilu” justru mengonfirmasi bahwa ketidakpastian akan berlanjut setidaknya hingga awal November.
Jika Trump benar, pasar energi bisa mengalami koreksi tajam pasca-pemilu. Namun jika perang berlarut atau Iran membalas, proyeksi itu berisiko menjadi janji politik yang mahal. Dalam skenario itu, inflasi AS dan biaya hidup akan tetap menjadi ancaman bagi konsumen sekaligus pemerintah.
FAQ Terkait Berita Ini
Kapan Trump menjanjikan harga minyak turun?
Trump menyatakan harga minyak akan anjlok tepat setelah pemilu sela Kongres AS pada awal November.
Mengapa harga minyak melonjak?
Kenaikan dipicu oleh perang AS-Iran yang memasuki bulan ketujuh dan meningkatnya risiko pasokan energi global. Brent sempat menembus US$101 per barel dan WTI di atas US$96 per barel.
Apakah analis yakin harga bensin akan turun di bawah US$2 per galon?
Tidak sepenuhnya. Analis bahan bakar Patrick De Haan menilai tidak ada jaminan prediksi tersebut akan terjadi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
