Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pentagon Akui Kehilangan Drone Bawah Laut di Selat Hormuz, Iran Klaim Berhasil Merebutnya

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pentagon Akui Kehilangan Drone Bawah Laut di Selat Hormuz, Iran Klaim Berhasil Merebutnya
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) akhirnya angkat bicara terkait klaim Iran yang menyatakan telah menangkap sebuah kendaraan bawah air otonom (AUV) milik AS di perairan Selat Hormuz, Selasa (8/9).
  • Pengakuan ini muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah mengamankan kapal selam tak berawak AS yang disebut "modern dan canggih".
  • Insiden ini menambah deretan ketegangan maritim di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik rawan konflik antara Washington dan Teheran, terutama sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2018.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) akhirnya angkat bicara terkait klaim Iran yang menyatakan telah menangkap sebuah kendaraan bawah air otonom (AUV) milik AS di perairan Selat Hormuz, Selasa (8/9). Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, membenarkan bahwa satu unit drone bawah laut mengalami kerusakan teknis lebih dari sehari sebelumnya, namun menegaskan perangkat tersebut merupakan model lama yang tidak membawa data atau peralatan rahasia.

Pengakuan ini muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah mengamankan kapal selam tak berawak AS yang disebut "modern dan canggih". Insiden ini menambah deretan ketegangan maritim di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik rawan konflik antara Washington dan Teheran, terutama sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2018.

Klaim Berbeda, Narasi yang Bertolak Belakang

Hawkins menjelaskan bahwa drone tersebut tengah menjalankan misi survei perairan untuk mendukung operasi rutin, namun mengalami malfungsi dan tidak disebutkan secara jelas apakah itu adalah unit yang sama dengan yang diklaim Iran. "Drone itu adalah model usang yang tidak mengumpulkan intelijen sensitif, juga tidak dilengkapi sonar atau radar rahasia," tegasnya, seolah berusaha meredam potensi eskalasi diplomatik.

Sementara itu, media pemerintah Iran menyebut AUV tersebut adalah Dive-LD, buatan perusahaan pertahanan California, Anduril. Dengan panjang 5,9 meter dan kemampuan menyelam hingga 6.000 meter, Dive-LD dirancang untuk misi penanggulangan ranjau, pemetaan dasar laut, hingga inspeksi kabel dan pipa bawah laut. IRGC bahkan memuji kecanggihan teknologi kendaraan itu, menjadikannya sebagai "trofi" dalam propaganda militer mereka.

Analisis: Simbol Kekuatan atau Eskalasi yang Terukur?

Perbedaan narasi antara AS dan Iran bukanlah hal baru. Namun, insiden ini menyoroti dua hal: pertama, persaingan teknologi bawah laut yang kian sengit di kawasan Teluk, di mana kedua negara saling memantau pergerakan militer. Kedua, klaim Iran atas keberhasilan "menangkap" drone AS โ€“ meski dibantah oleh Washington โ€“ dapat dimaknai sebagai upaya Teheran untuk menunjukkan kemampuannya melawan dominasi Amerika di perairan yang mereka anggap sebagai halaman belakang sendiri.

Dari sudut pandang geopolitik, Selat Hormuz merupakan titik vital bagi pasokan minyak dunia. Setiap insiden di sana berpotensi mengguncang harga energi global. Dengan AS yang cenderung meremehkan insiden ini dan Iran yang membesar-besarkannya, kedua pihak tampak bermain di panggung propaganda tanpa ingin terlibat dalam konfrontasi fisik langsung. Sikap hati-hati CENTCOM โ€“ yang tidak secara tegas mengonfirmasi identitas drone โ€“ bisa jadi adalah upaya menghindari pengakuan resmi yang akan memperkuat klaim Iran.

Analis militer menilai bahwa kejadian ini juga mengingatkan pada insiden perampasan drone permukaan AS oleh Iran pada 2016, yang akhirnya dikembalikan setelah negosiasi. Namun, kali ini Iran tampak lebih agresif dalam mempublikasikan pencapaiannya, sejalan dengan kebijakan ketegangan AS-Iran yang memasuki babak baru pasca-pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani dan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Dampak pada Stabilitas Kawasan

Meski pernyataan AS terkesan menyepelekan, para pengamat internasional mewaspadai potensi Iran memanfaatkan teknologi dari drone tersebut untuk kepentingan riset atau bahkan reverse-engineering. Sebaliknya, AS mungkin akan meningkatkan keamanan operasi bawah lautnya di masa mendatang, termasuk dengan menerapkan protokol penghancuran otomatis jika alat mengalami gangguan di wilayah musuh.

Yang jelas, Selat Hormuz kembali menjadi panggung sandiwara kekuatan dua negara adidaya di Timur Tengah. Masyarakat internasional berharap agar insiden ini tidak berlanjut pada aksi balasan yang dapat mengganggu lalu lintas pelayaran, mengingat lebih dari 20% minyak dunia melintasi selat sempit itu setiap harinya.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu Dive-LD dan mengapa Iran menganggapnya canggih?
Dive-LD adalah kendaraan bawah air otonom besar buatan Anduril, panjang 5,9 meter, mampu menyelam hingga 6.000 meter, dan beroperasi 10 hari tanpa kembali ke pangkalan. Iran menyebutnya modern karena dilengkapi teknologi pemetaan dan intelijen mutakhir.

Apakah AS akan mengambil tindakan militer balasan?
Sejauh ini AS hanya mengonfirmasi kehilangan drone karena malfungsi dan tidak menunjukkan niat membalas secara militer. Sikap ini tampaknya untuk menghindari eskalasi di Selat Hormuz, namun tetap memantau situasi melalui jalur diplomatik.

Bagaimana dampak insiden ini terhadap harga minyak dunia?
Selat Hormuz adalah jalur vital ekspor minyak. Meski insiden ini tidak mengganggu lalu lintas secara langsung, kekhawatiran pasar akan ketegangan bisa memicu lonjakan harga jangka pendek, seperti yang terjadi pada serangan tanker di kawasan tersebut sebelumnya.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ