Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Harga Masker di E-Commerce Mulai Turun, tapi Masih Ada yang Jual Rp50 Ribu per Kotak

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Harga Masker di E-Commerce Mulai Turun, tapi Masih Ada yang Jual Rp50 Ribu per Kotak
BAGIKAN:

Harga masker di sejumlah toko daring mulai kembali normal pada Rabu (9/9), setelah sebelumnya melonjak akibat kepanikan warga terhadap sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pantauan di TikTok Shop dan Tokopedia menunjukkan sejumlah penjual kembali menawarkan masker duckbill 50 lembar di bawah Rp30 ribu per kotak. Ini sinyal awal bahwa tekanan permintaan di e-commerce mulai mereda, meski belum seragam di seluruh pasar.

Salah satu toko menjual masker duckbill FACEMASK isi 50 lembar seharga Rp10.595. Produk serupa dari toko lain dibanderol Rp19.500 hingga Rp27 ribu per kotak. Sementara masker duckbill 50 lembar merek Dr. OTC dijual Rp45 ribu, turun dari harga normal Rp50 ribu. Namun, disparitas itu menunjukkan pasar belum pulih sepenuhnya: ada pedagang yang menahan harga tinggi, ada pula yang kembali mengambil margin normal.

Dalam kerangka ekonomi makro, ini bukan kejutan. Lonjakan harga masker adalah fenomena demand shock lokal, bukan karena pasokan nasional benar-benar habis. Ketika permintaan naik mendadak, pedagang online menaikkan harga untuk menguji elastisitas konsumen. Begitu stok kembali masuk dan kepanikan mereda, harga cenderung menyesuaikan. Pertanyaannya, seberapa cepat koreksi itu merata ke pasar fisik?

Pasar Fisik Masih Panas

Di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, harga masker merek tertentu yang sebelumnya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kotak dilaporkan naik hingga Rp40 ribu pada Senin (7/9). Di media sosial, seorang pengguna X mengaku membeli masker pada Juli lalu di bawah Rp10 ribu per kotak, lalu melihat harga melonjak menjadi Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kotak. Unggahan itu memperlihatkan masker duckbill yang semula Rp9.439 per boks kini ditawarkan Rp34.999 hingga Rp49.499.

Perbedaan antara harga daring dan pasar fisik memperlihatkan informasi yang tidak simetris. Konsumen yang tidak punya waktu membandingkan harga cenderung membayar lebih mahal. Di sisi lain, pedagang memanfaatkan momentum. Ini legal secara pasar, tetapi berisiko reputasi dan sosial. Pemerintah dan platform perlu memastikan tidak ada penimbunan atau kartel terselubung.

Insight Bisnis: Jangan Sekadar Cari Untung dari Panik

Bagi pelaku e-commerce, momen ini adalah ujian. Menaikkan harga terlalu agresif bisa mendatangkan laba jangka pendek, tetapi menghancurkan kepercayaan pelanggan. Strategi yang lebih sehat adalah menjaga stok, transparansi harga, dan komunikasi bahwa pasokan tersedia. Bagi konsumen, kepanikan justru menciptakan harga tinggi. Beli sesuai kebutuhan, bandingkan beberapa toko, dan hindari panic buying.

Secara lebih luas, gejolak harga masker tidak otomatis mengguncang inflasi umum. Namun, jika ekspektasi inflasi naik, masyarakat bisa mempercepat belanja barang lain. Di situlah risiko makro muncul. Pemerintah daerah dan otoritas perdagangan perlu memantau harga harian, terutama di pasar tradisional, agar gejolak kecil tidak menjadi persepsi krisis.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah harga masker sudah normal? Sebagian toko daring sudah kembali menjual di bawah Rp30 ribu per kotak, tetapi harga belum seragam dan pasar fisik masih lebih mahal.

Mengapa harga masker sempat melonjak? Permintaan naik mendadak setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.

Apa yang perlu diwaspadai konsumen? Disparitas harga, stok yang tidak merata, dan penjual yang menahan harga tinggi. Bandingkan harga sebelum membeli.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ