Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Fakta atau Hoax? Ahli UGM Tegaskan Erupsi Gunung Berapi Murni Proses Geologi, Bukan Campur Tangan Manusia

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Fakta atau Hoax? Ahli UGM Tegaskan Erupsi Gunung Berapi Murni Proses Geologi, Bukan Campur Tangan Manusia
BAGIKAN:

Pakar vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tegas membantah narasi konspirasi yang menyebut erupsi enam gunung berapi di Indonesia merupakan hasil rekayasa teknologi atau intervensi manusia. Dalam diskusi ilmiah di kampus UGM Sleman, Rabu (9/9), Agung Harijoko, dosen Fakultas Geografi, menegaskan bahwa seluruh aktivitas erupsi yang terjadi belakangan ini murni proses geologi alami, tidak ada kaitannya dengan frekuensi buatan atau campur tangan pihak manapun.

Penegasan ini menyusul merebaknya isu di media sosial yang mengaitkan rentetan erupsi gunung berapi dengan teknologi kendali cuaca atau frekuensi elektromagnetik. Agung menyebut klaim tersebut tidak berdasar karena belum ada bukti ilmiah yang mendukung. "Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu ya. Belum ada buktinyalah kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap kalau saya percaya itu proses alami, proses geologi," ujarnya di hadapan peserta diskusi.

Erupsi Enam Gunung: Kebetulan atau Saling Picu?

Fenomena enam gunung api yang aktif hampir bersamaan—Anak Krakatau (Selat Sunda), Semeru (Jatim), Ili Lewotolok (NTT), Ibu (Malut), Lewotobi Laki-laki (NTT), dan Sinabung (Sumut)—menjadi sorotan. Agung menjelaskan bahwa kemunculan simultan ini sangat mungkin terjadi secara alamiah tanpa ada hubungan pemicu antargunung. "Sangat bisa terjadi, karena mereka punya sistem sendiri-sendiri. Bukan artinya gunung sini memengaruhi yang lain, itu tidak. Tapi memang mereka kebetulan kondisi di masing-masing gunung api itu memang sudah memungkinkan untuk terjadi erupsi," tegasnya.

Menurutnya, jarak geografis yang sangat berjauhan membuat satu letusan tidak mungkin "menular" ke gunung lain. Setiap gunung memiliki dapur magma independen yang bekerja berdasarkan tekanan gas dan magma di dalam perut bumi. Proses ini murni fisika dan kimia batuan, tanpa campur tangan teknologi atau rekayasa eksternal.

Analisis: Sains vs Narasi Konspirasi

Sebagai jurnalis yang telah lama meliput kebencanaan, saya melihat fenomena ini mengingatkan kita pada rentetan teori konspirasi yang kerap muncul saat terjadi bencana alam. Masyarakat perlu waspada terhadap informasi yang tidak berdasar, namun juga tidak boleh serta-merta menutup mata terhadap kemungkinan penelitian lebih lanjut. Yang jelas, para ahli telah memberikan landasan ilmiah yang kokoh. Alih-alih terpaku pada skenario rekayasa, kita sebaiknya fokus pada kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang lebih nyata.

Agung menambahkan bahwa erupsi merupakan pelepasan energi yang sudah terakumulasi lama. "Proses ini sudah berlangsung jutaan tahun, tidak ada manusia yang bisa merekayasa tekanan magma sebesar itu. Ini di luar kapasitas teknologi saat ini," ujarnya dalam sesi tanya jawab.

Penjelasan Ilmiah dari Dosen UGM Lainnya

Indranova Suhendro, dosen geografi UGM yang juga hadir, memperkuat argumen dengan pendekatan siklus aktivitas vulkanik. Ia menyebut setiap gunung memiliki karakteristik dan periode istirahat yang berbeda. "Menurut saya ini lebih ke masalah timing. Ada gunung yang memang frekuensi erupsinya tinggi seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara yang lain memiliki masa istirahat panjang. Ketika siklus-siklus itu beririsan, muncullah kesan serentak," jelasnya, mengutip pernyataan dalam rilis resmi UGM, Selasa (8/9).

Indranova juga menguraikan perbedaan mekanisme erupsi. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, erupsi freatik terjadi akibat pemanasan air di tubuh gunung oleh magma, tanpa selalu disertai peningkatan kegempaan yang signifikan. Sementara Anak Krakatau mengalami erupsi magmatik eksplosif—mirip minuman bersoda yang dikocok—karena kandungan gas tinggi dan dekompresi intens. Perbedaan ini menegaskan bahwa setiap gunung bekerja secara lokal, bukan dalam satu sistem terpadu.

Namun, Indranova membuka peluang adanya pengaruh eksternal pada kasus tertentu. Ia mencontohkan gempa Flores yang terjadi sebelumnya, yang diikuti peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok. "Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores," ungkapnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa mekanisme ini belum terbukti berlaku untuk semua gunung, dan tetap dalam koridor proses alam.

Kesimpulan: Tetap Waspada, Jangan Terpapar Hoaks

Para ahli sepakat bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim rekayasa teknologi. Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah terpancing narasi yang tidak bertanggung jawab. Erupsi adalah peringatan alam yang perlu direspon dengan kesiapan, bukan dengan spekulasi yang menyesatkan.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah erupsi gunung berapi bisa dipicu oleh teknologi frekuensi?
Menurut pakar vulkanologi UGM, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa teknologi frekuensi atau rekayasa manusia dapat memicu erupsi gunung berapi. Proses erupsi murni akibat tekanan gas dan magma di dalam bumi.

Mengapa enam gunung meletus hampir bersamaan?
Fenomena ini dijelaskan sebagai kebetulan timing siklus aktivitas masing-masing gunung. Setiap gunung memiliki sistem magma sendiri dan jarak yang berjauhan, sehingga tidak saling memicu.

Apakah gempa bumi bisa memicu erupsi gunung?
Dalam kasus tertentu, seperti gempa Flores yang diikuti peningkatan aktivitas di Lewotobi dan Lewotolok, ada indikasi guncangan gempa dapat mempengaruhi gas terlarut dalam magma. Namun mekanisme ini belum dapat digeneralisasi untuk semua gunung dan tetap dalam ranah proses alam.

Meow! Tanya Nesi!
😸