Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Erupsi Anak Krakatau Tak Goyang Harga Pangan? Mendag Klaim Stabil, Ini Analisisnya

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Erupsi Anak Krakatau Tak Goyang Harga Pangan? Mendag Klaim Stabil, Ini Analisisnya
BAGIKAN:

Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan harga bahan pokok di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau masih terkendali. Klaim itu disampaikan di kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (9/9), berdasarkan pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta koordinasi lintas sektor.

“Dari pantauan kami sementara tidak ada masalah. Mudah-mudahan tidak ada masalah,” ujar Budi dalam keterangan persnya. Ia menambahkan, SP2KP yang tersebar di seluruh kabupaten/kota memungkinkan pemantauan real-time, termasuk di lokasi yang tertutup debu vulkanik. Hingga kini, data harga di lapangan masih bergerak di batas wajar.

Namun, pernyataan ini menarik untuk dibedah. Stabilitas harga pasca-bencana alam bukan hanya soal angka di layar monitor. Gangguan logistik, penutupan akses jalan, dan dampak psikologis konsumen kerap memicu gejolak yang tak tercatat statistik. Maka, klaim “stabil” perlu diuji dengan data lapangan independen, bukan sekadar laporan sistem internal.

Harga Telur Naik, Tapi Masih Di Bawah Acuan

Budi memberikan contoh harga telur ayam yang dalam sepekan terakhir naik dari Rp22.000 menjadi Rp26.600 per kilogram. Meski menggeliat, angka itu masih di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp30.000/kg. “Jadi kalau kita lihat naiknya mestinya dari naik harga acuan,” ujarnya.

Penjelasan ini menyiratkan bahwa kenaikan harga masih dalam koridor yang ditoleransi. Namun, petani dan pedagang sering mengeluhkan harga acuan yang tidak selalu mencerminkan biaya riil di tingkat peternakan, terutama saat pakan impor melonjak. Di sinilah pentingnya pengawasan menyeluruh, bukan hanya pada angka eceran.

Intervensi Pemerintah: Bukan Hanya Saat Harga Mahal

Yang menarik dari pernyataan Budi adalah penekanan bahwa pemerintah juga turun tangan saat harga anjlok. Ia mencontohkan daging ayam yang sempat merosot ke Rp34.000/kg dari acuan Rp40.000/kg—kondisi yang memicu protes peternak karena biaya produksi tak tertutupi. “Harga turun jangan sampai membuat produsen gulung tikar,” tegasnya.

Logika ini masuk akal: jika peternak bangkrut, stok ayam akan langka dan harga melambung di kemudian hari. Jadi, stabilisasi harga adalah keseimbangan antara daya beli konsumen dan keberlanjutan produksi. Kebijakan pangan yang antisiklikal memang diperlukan, namun eksekusinya sering terlambat akibat birokrasi yang panjang.

Di tengah ancaman erupsi yang bisa mengganggu rantai pasok, pernyataan Mendag patut diapresiasi sebagai sinyal positif. Namun, publik dan pelaku usaha tetap perlu waspada. Volcanic ash tidak hanya mengganggu pernapasan, tapi juga bisa merusak tanaman pangan dan menurunkan produktivitas ternak. Efek jangka pendek mungkin tertahan, tetapi efek jangka panjang patut diantisipasi dengan langkah konkret, seperti perluasan stok cadangan dan subsidi transportasi.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah harga pangan benar-benar stabil di semua wilayah terdampak erupsi?
Menurut data SP2KP, harga masih dalam batas normal. Namun, pemantauan independen diperlukan untuk memastikan akurasi, mengingat potensi gangguan distribusi di daerah terisolasi.

Mengapa harga telur naik meski masih di bawah acuan?
Kenaikan dari Rp22.000 ke Rp26.600/kg dipengaruhi oleh biaya produksi dan pakan. Pemerintah menetapkan acuan Rp30.000/kg, sehingga kenaikan itu dianggap wajar, bukan gejolak luar biasa.

Apa dampak jika harga pangan turun drastis?
Penurunan harga di bawah biaya produksi dapat merugikan petani dan peternak, memicu pengurangan produksi, dan berakhir pada kelangkaan serta lonjakan harga di masa mendatang. Itu sebabnya pemerintah juga melakukan intervensi saat harga terlalu rendah.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸