Anomali Kedelai: Harga Impor Naik saat Global Turun, Pemerintah Tak Kuasai Stok
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Harga kedelai impor di dalam negeri kembali menanjak pada awal September 2026, tepat ketika harga global justru melemah.
- Rata-rata nasional per 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kilogram, di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000 per kg.
- Anomali ini memukul perajin tahu tempe dan membuka pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang mengendalikan pasar kedelai nasional?
Harga kedelai impor di dalam negeri kembali menanjak pada awal September 2026, tepat ketika harga global justru melemah. Rata-rata nasional per 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kilogram, di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000 per kg. Anomali ini memukul perajin tahu tempe dan membuka pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang mengendalikan pasar kedelai nasional?
Di pasar global, Trading Economics mencatat harga kedelai pada 9 September 2026 berada di US$12,90 per bushel, level terendah lebih dari sepekan. Nilai tukar dolar AS juga disebut belum menembus Rp18.000. Artinya, tidak ada alasan kurs atau harga dunia yang menjelaskan lonjakan di tingkat importir. Namun data delivery order (DO) yang dikelola Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menunjukkan kenaikan nyata.
Tekanan di Tingkat Importir
Data harga DO importir yang dikelola Gakoptindo memperlihatkan kenaikan pada sejumlah importir dalam sepekan terakhir. Pada 9 September 2026, harga kedelai merek Bola Merah dan Hiu di Cigading masing-masing berada di Rp10.700 per kg, naik Rp100 per kg dari 2 September. Sementara harga 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.900 per kg.
Kenaikan itu terjadi di saat harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) sedang turun. Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo menyebut kenaikan harga kedelai belakangan ini memang terjadi di tingkat importir. “Memang beberapa hari ini ada kenaikan ya. Beberapa hari ini ada kenaikan di tingkat importir. Padahal dolar kan tidak menyentuh Rp18.000 ya, harga di CBOT juga turun,” kata Wibowo.
Jawa Masih di Bawah HAP, Luar Jawa Tercekik
Meski secara nasional harga kedelai impor sudah berada di atas HAP, kondisi di wilayah Jawa masih relatif lebih rendah. Wibowo mengatakan harga kedelai di Jawa masih berada di bawah Rp12.000 per kg. Padahal Jawa merupakan pasar terbesar bagi kedelai yang digunakan untuk produksi tahu dan tempe.
Data Gakoptindo per 10 September 2026 menunjukkan harga kedelai di tingkat perajin tahu tempe di Jawa Barat berada di kisaran Rp11.200-Rp11.750 per kg, Jawa Tengah Rp11.300-Rp11.750 per kg, Jawa Timur Rp11.250-Rp11.550 per kg, sedangkan DKI Jakarta berada di kisaran Rp11.400-Rp11.850 per kg.
Namun harga di sejumlah wilayah luar Jawa sudah lebih tinggi. Di Aceh, harga kedelai merek Bola Merah mencapai Rp13.200 per kg. Sumatra Utara mencapai Rp12.950 per kg, Sumatra Barat Rp12.950 per kg, Kalimantan Timur Rp12.900 per kg, dan Sulawesi Selatan Rp12.950 per kg.
Akar Masalah: Negara Tak Pegang Stok
Menurut Wibowo, persoalannya karena pemerintah tidak menguasai stok kedelai. Akibatnya harga di dalam negeri sangat bergantung pada pihak yang memiliki barang. “Karena kita nggak menguasai pasar. Pemerintah tidak punya barang,” jelasnya. Ketika ditanya apakah kondisi tersebut membuat harga akhirnya ditentukan oleh importir, Wibowo membenarkannya. “Iya betul sekali. Itu jawabannya,” tutur dia.
Ia menuturkan kondisi stok kedelai saat ini masih disebut aman berdasarkan informasi dari importir. Namun pemerintah tidak memiliki kendali langsung atas barang tersebut. “Ya intinya kan karena kita nggak kuasai barang, tergantung siapa yang punya barang mengatakan. Yang punya barang mengatakan ‘oh stok ada’, ya berarti pemerintah merasa ini aman-aman saja. Tapi ketika suatu saat dikatakan tidak ada, ya baru ramai kan, biasanya begitu situasinya,” terang Wibowo.
Gakoptindo pun mendorong pemerintah merealisasikan cadangan pangan pemerintah untuk komoditas kedelai. Wibowo menyebut ketentuan mengenai Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk kedelai sebenarnya sudah ada, tetapi implementasinya belum berjalan. “Iya itu kan sudah ditentukan. Sudah ada ketetapannya itu, CPP. Tapi sampai saat ini kan belum ada realisasinya. Ya kita sih mendorong Bulog untuk (punya CPP) itu. Tapi sampai saat ini belum ada,” kata dia.
Insight Bisnis: Oligopoli Importir dan Bahaya Inflasi Pangan
Ini bukan sekadar anomali harga. Ketika negara tidak memegang buffer stock, harga ditentukan segelintir importir. Struktur pasar kedelai impor cenderung oligopoli, dan perajin tahu tempe berada di posisi price taker. Kenaikan Rp100 hingga Rp300 per kg bisa menggerus margin, memicu pengurangan ukuran produk, atau menaikkan harga di warung. Dalam konteks makro, ini risiko inflasi pangan bergejolak atau volatile food.
Pemerintah punya HAP, tetapi tanpa stok dan penegakan aturan, HAP hanya angka di kertas. CPP kedelai harus segera dijalankan, bukan hanya normatif. Bulog perlu mandat, anggaran, dan infrastruktur gudang. Transparansi stok importir juga penting. Jika tidak, ketergantungan impor akan terus memindahkan kedaulatan pangan dari petani ke trader, dan perajin tahu tempe menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.
FAQ Terkait Berita Ini
Mengapa harga kedelai impor naik saat harga global turun?
Karena pemerintah tidak menguasai stok. Harga domestik ditentukan importir yang memegang barang, bukan mekanisme pasar global semata.
Berapa harga kedelai impor nasional dan HAP?
Rata-rata nasional per 8 September 2026 Rp13.762 per kg, di atas HAP Rp12.000 per kg. Di Jawa sebagian masih di bawah Rp12.000 per kg, tetapi luar Jawa lebih tinggi.
Apa solusi yang didorong Gakoptindo?
Realisasi Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk kedelai, dengan Bulog sebagai pelaksana, agar pemerintah punya instrumen stok menstabilkan harga.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
