Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: Detik Bursa & Emas
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Sentimen pasar keuangan Indonesia kembali terancam dengan proyeksi pelemahan nilai tukar Rupiah yang diprediksi menembus level Rp 18.350 per dolar AS pada akhir 2026.
  • Kondisi ini membuat ruang penguatan Rupiah menjadi sangat terbatas dalam jangka pendek.
  • Dalam paparannya pada detikcom di Selasa (3/11/2026), Lukman menegaskan bahwa selama faktor-faktor tersebut belum mereda, sulit bagi mata uang Garuda untuk kembali ke kisaran Rp 17.000.

Sentimen pasar keuangan Indonesia kembali terancam dengan proyeksi pelemahan nilai tukar Rupiah yang diprediksi menembus level Rp 18.350 per dolar AS pada akhir 2026. Lukman Leong, pengamat mata uang, menjelaskan bahwa tekanan ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang kompleks, mulai dari ketatnya kebijakan suku bunga The Fed, tingginya harga minyak global, hingga ketidakpastian terkait laporan MSCI yang memicu arus keluar modal asing atau capital outflow. Kondisi ini membuat ruang penguatan Rupiah menjadi sangat terbatas dalam jangka pendek.

Dalam paparannya pada detikcom di Selasa (3/11/2026), Lukman menegaskan bahwa selama faktor-faktor tersebut belum mereda, sulit bagi mata uang Garuda untuk kembali ke kisaran Rp 17.000. Bahkan, ia memperingatkan bahwa jika arus keluar modal terus berlanjut dan Dolar AS semakin menguat, tekanan terhadap Rupiah tidak hanya bertahan hingga akhir tahun, melainkan berpotensi berlanjut hingga awal 2027, kecuali terjadi perubahan fundamental yang signifikan seperti pengukuhan status pasar oleh MSCI atau deeskalasi konflik di Timur Tengah.

Proyeksi Pasar: Konsensus Stagnasi di Level Rp 18.000-18.100

Perdebatan mengenai batas bawah Rupiah juga mendapat tanggapan dari Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF. Ia menyajikan proyeksi yang lebih moderat, di mana nilai tukar Rupiah diperkirakan akan bertahan di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 hingga kuartal keempat akhir tahun. Menurutnya, pergerakan di luar zona tersebut, baik menguat ke Rp 17.000-an maupun melemah ke Rp 18.200, merupakan skenario yang sulit terjadi dalam kondisi saat ini.

  • Pengaruh utama pelemahan berasal dari harga minyak mentah dunia dan rencana penurunan kelas pasar modal Indonesia oleh MSCI.
  • Terdapat indikasi capital outflow yang nyata sebagai respons investor terhadap ketidakpastian tersebut.
  • Analisis data menunjukkan Dolar AS sempat melemah 0,06% ke Rp 18.145 di pembukaan, namun menguat kembali ke Rp 18.160 pada pukul 09.10 WIB.

Intervensi Bank Indonesia dan Insentif Lindung Nilai

Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia (BI) dipandang akan mengambil langkah tegas atau all-out untuk mencegah Rupiah terus melemah. Salah satu strategi utamanya adalah mendorong pemberian insentif lindung nilai atau hedging menggunakan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Meskipun BI berupaya menjaga stabilitas, Tauhid Ahmad menilai bahwa menurunkan nilai tukar di bawah Rp 18.000 menjadi tantangan besar. Penguatan Dolar AS yang terlihat di data Bloomberg pada pagi ini, yang bergerak di level Rp 18.100-an setelah penutupan perdagangan Senin (2/11) di Rp 18.156, semakin memperkuat urgensi intervensi ini bagi pasar domestik.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ