Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Siaga Bencana: Tujuh Gunung Api Aktif di Maluku, Polda-Pemprov Percepat Mitigasi

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Siaga Bencana: Tujuh Gunung Api Aktif di Maluku, Polda-Pemprov Percepat Mitigasi
BAGIKAN:

Polda Maluku dan Pemerintah Provinsi Maluku menggelar rapat koordinasi darurat pada Selasa (8/9) di Gedung Polda Maluku, Ambon, untuk mengantisipasi potensi letusan tujuh gunung api aktif yang tersebar di wilayah kepulauan tersebut. Rapat yang dipimpin Wakapolda Maluku Brigjen Pol Arif itu merespons peningkatan aktivitas Gunung Banda Api yang kini berstatus Waspada (Level II) berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sementara enam gunung lainnya masih normal namun tetap dalam pemantauan ketat.

Dalam paparannya, Kepala Bidang Operasi (Karo Ops) Polda Maluku Kombes Pol Monang Marudu Zonir Simanjuntak menyebutkan tujuh gunung api itu adalah Banda Api, Wurlali, Nila, Serua, Wetar, Manuk, dan Teon. Dari jumlah itu, hanya Gunung Banda Api yang menunjukkan peningkatan kegempaan vulkanik dangkal dan dalam, dengan hembusan asap putih dari kawah puncaknya. Ketinggian gunung yang mencapai 640 meter di atas permukaan laut itu kini menjadi perhatian utama tim gabungan.

Gunung Banda Api: Ancaman Nyata di Tengah Kepulauan

PVMBG mencatat, aktivitas vulkanik Banda Api didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dan dalam, yang mengindikasikan pergerakan magma di bawah permukaan. Meski asap kawah tidak teramati pada Selasa lalu karena kabut, status Waspada menuntut kewaspadaan ekstra. “Pemantauan berkelanjutan dan koordinasi antardaerah, aparat keamanan, serta instansi teknis menjadi kunci,” ujar Kombes Monang. Namun, pertanyaan kritis muncul: sejauh mana kesiapan peralatan evakuasi dan sistem peringatan dini di pulau-pulau terpencil yang menjadi jalur penyebaran abu vulkanik?

Enam gunung api lainnya—Wurlali, Nila, Serua, Wetar, Manuk, dan Teon—masih berstatus normal. Wurlali di Pulau Damar, Maluku Barat Daya, dengan ketinggian 869 mdpl, menunjukkan aktivitas solfatara dan fumarol, sementara Wetar merupakan gunung bawah laut dan pulau solfatara kecil. Meski statusnya normal, pengalaman bencana masa lalu mengajarkan bahwa letusan dapat terjadi tanpa peringatan signifikan, seperti yang pernah dialami di kawasan Banda.

Mitigasi Darurat: Peralatan dan Personel Masih Minim?

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadiki Lie, menegaskan bahwa langkah antisipasi harus dibangun jauh sebelum ancaman berkembang. Ia meminta setiap instansi untuk menginventarisasi personel, peralatan, dan fasilitas pendukung. “Kami rapatkan agar saat terjadi letusan, semua sudah siap,” ujarnya. Namun, dari sisi lapangan, masih ada kesenjangan yang mengkhawatirkan. Pulau-pulau kecil seperti Manuk yang tidak berpenghuni mungkin luput dari perhatian, tetapi abu vulkanik dapat terbawa angin ke permukiman penduduk. Apakah masker pelindung dan tempat penampungan sementara sudah tersedia di setiap kecamatan? Ini yang belum terungkap dalam rapat tersebut.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Kamari, menambahkan bahwa selain ancaman vulkanik, kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino turut memperparah kondisi. Curah hujan di Maluku pada Januari–Agustus 2026 hanya 17,5 milimeter, turun drastis hingga 80–90 persen dibanding 1.220 milimeter tahun sebelumnya. Dampaknya terasa di Pulau Kelang, Bula, dan Pulau Ai, yang mengalami kesulitan air bersih serta kebakaran hutan dan lahan di Pulau Buru. Perpaduan dua bencana—letusan dan kekeringan—bisa menjadi ujian berat bagi kapasitas tanggap darurat daerah.

Analisis: Koordinasi Saja Tak Cukup, Perlu Aksi Nyata

Sebagai jurnalis yang telah lama meliput bencana di Indonesia Timur, saya menilai rapat koordinasi ini adalah langkah awal yang baik, namun bukan jaminan keselamatan masyarakat. Mitigasi bencana di Maluku kerap terhambat oleh geografis kepulauan yang sulit dijangkau dan keterbatasan sarana komunikasi. Pemerintah provinsi dan kepolisian harus segera melakukan simulasi evakuasi di pulau-pulau rawan, mendistribusikan peralatan deteksi dini berbasis komunitas, dan memastikan rantai logistik bantuan berjalan cepat. Jangan sampai koordinasi hanya berhenti di ruang rapat, sementara warga di kaki gunung masih abai terhadap risiko.

Selain itu, kekeringan yang melanda sebagian wilayah Maluku bukanlah isu terpisah. Kebakaran hutan dapat memicu kabut asap yang mengganggu pemantauan visual gunung, seperti yang terjadi pada Gunung Banda Api. Pemerintah perlu mengintegrasikan penanganan multi-bencana, mengingat El Nino diprediksi masih berlangsung hingga akhir tahun. Saya mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bukanlah proyek dadakan, melainkan investasi jangka panjang yang membutuhkan anggaran, pelatihan, dan kesadaran kolektif.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa saja tujuh gunung api aktif di Maluku yang menjadi perhatian?
Ketujuh gunung itu adalah Banda Api, Wurlali, Nila, Serua, Wetar, Manuk, dan Teon. Hanya Banda Api yang saat ini berstatus Waspada (Level II).

2. Bagaimana dampak kekeringan terhadap upaya mitigasi gunung api?
Kekeringan memicu kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengganggu pemantauan visual, serta menyulitkan akses air untuk pemadaman dan kebutuhan evakuasi. Curah hujan turun drastis hingga 90% di Maluku.

3. Apa yang harus dilakukan masyarakat jika terjadi peningkatan aktivitas gunung api?
Masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan dari petugas BPBD dan kepolisian, menyiapkan tas siaga berisi dokumen, obat-obatan, dan masker, serta segera mengungsi ke tempat aman yang telah ditentukan. Hindari penyebaran hoaks dan pantau informasi resmi dari PVMBG.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸