Prajurit TNI AD Diduga Pukuli Nelayan di Labuan Bajo hingga Koma, Kodim Klarifikasi

Seorang nelayan bernama Syarif (40) harus dirawat intensif di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo setelah diduga dianiaya dua orang oknum TNI AD pada awal pekan ini di Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Insiden yang terekam video dan viral di media sosial itu dipicu pembongkaran pagar di atas lahan yang diklaim milik korban, dan kini tengah didalami oleh Kodim 1630/Manggarai Barat.
Kronologi Pemukulan Berawal dari Sengketa Lahan
Berdasarkan keterangan istri korban berinisial J, peristiwa bermula ketika dua prajurit berinisial Y (bertugas di Kodim Kupang) dan R (bertugas di Bari Kodim 1630) yang diduga bersaudara itu melakukan pembongkaran dan perusakan pagar di lahan yang dianggap milik Syarif. J yang merekam aksi tersebut justru memicu amarah kedua oknum, yang lalu mendatangi kediaman korban. Saat itu, Syarif baru pulang memancing dan tengah duduk di halaman rumah, lalu diduga dipukuli secara bersama-sama oleh kedua prajurit tersebut.
Dalam rekaman video yang beredar, tampak salah satu pelaku mengeluarkan kata-kata kasar, sementara suara perempuan histeris dan tangisan anak terdengar di latar belakang. Anak korban berusia 9 tahun disebut mengalami trauma mendalam menyaksikan ayahnya dikeroyok.
Tanggapan Kodim: Masih Pendalaman, Janji Transparan
Komandan Kodim 1630/Manggarai Barat, Letkol Inf. Budiman Manurung, menyatakan pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari semua pihak terkait. "Dari Kodim masih melaksanakan pendalaman dan pengambilan keterangan terkait kasus ini," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (9/9). Ia berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan secara transparan dan memastikan duduk perkara yang menyebabkan Syarif menderita luka-luka.
Namun, pernyataan itu belum menjawab pertanyaan publik mengapa dua anggota aktif TNI AD justru terlibat dalam aksi kekerasan terhadap warga sipil, apalagi dengan latar belakang sengketa lahan yang seharusnya diselesaikan secara perdata atau melalui musyawarah desa. Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai aparat militer seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan justru main hakim sendiri. Kehadiran TNI di daerah wisata seperti Labuan Bajo seharusnya memberi rasa aman, bukan sebaliknya.
Warga Sesalkan Minimnya Peran Aparat Desa
I, warga setempat, mengaku menyayangkan tidak ada perangkat desa maupun aparat kepolisian yang hadir saat insiden berlangsung. "Kami hanya bisa melihat dari jauh, takut ikut terkena," ujarnya. Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Boleng, Kaharudin, hingga berita ini ditulis belum memberikan keterangan resmi. Ketidakjelasan peran pemerintah desa dalam mediasi sengketa lahan menjadi catatan tersendiri dalam kasus ini.
Kasus ini juga memicu pertanyaan lebih luas tentang penegakan disiplin di lingkungan TNI AD, mengingat dua pelaku diduga masih aktif dan bahkan berasal dari kesatuan berbeda. Masyarakat menuntut proses hukum yang adil dan tidak sekadar penyelesaian internal yang cenderung tertutup.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa yang menjadi pemicu utama penganiayaan di Labuan Bajo?
Pemicunya adalah sengketa lahan antara korban dan dua oknum TNI AD yang berujung pembongkaran pagar, lalu dilanjutkan dengan pemukulan terhadap korban saat ia berada di rumahnya.
2. Bagaimana respons Kodim terhadap kasus ini?
Kodim 1630/Manggarai Barat menyatakan sedang melakukan pendalaman dan pengambilan keterangan, serta berjanji mengumumkan hasil penyelidikan secara transparan.
3. Apakah pelaku sudah ditahan atau dikenai sanksi?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi mengenai penahanan atau sanksi. Kodim masih dalam tahap klarifikasi dan pengumpulan bukti.
BERITA TERKAIT (Kriminal)

Polisi Ungkap Modus Biadab Pencuri Dua Mobil Boks di Duren Sawit: Rusak Kunci dan Bakar Kabel

Miris: Bayi 20 Bulan Dinyatakan Tewas Dibunuh Ayah Tiri dan Ibu Kandung Akibat Desakan Ekonomi

Kolaborasi Warga Kunci Tersangka Ayah Tiri dan Ibu Kandung dalam Kasus Pembunuhan Bayi 20 Bulan di Jakarta Selatan
