ITERA: Garda Terdepan Riset Teknologi yang Menggerakkan Ekonomi Sumatera
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kian mengukuhkan posisinya sebagai pusat riset dan inovasi di kawasan barat Indonesia. Kampus negeri yang berlokasi di perbatasan Lampung Selatan dan Bandar Lampung ini tidak hanya mencetak insinyur, tetapi juga membangun ekosistem teknologi yang diharapkan menjadi pengungkit ekonomi daerah dan nasional. Diresmikan langsung oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, ITERA yang masih berada di bawah naungan Institut Teknologi Bandung (ITB) kini menunjukkan percepatan program pendidikan dan pengembangan riset yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Dalam liputan eksklusif jurnalis CNBC Indonesia, Ajat Hutdiyanto, pada program Evening Up (Rabu, 09/09/2026), terungkap bahwa ITERA tidak sekadar meniru model ITB, tetapi mengadaptasi riset unggulan berbasis potensi Sumatera—mulai dari energi terbarukan, agroteknologi, hingga infrastruktur tahan gempa. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah memperkuat ekosistem riset di luar Jawa, yang selama ini timpang.
Menjawab Kebutuhan Industri dan Daya Saing Bangsa
Dari perspektif ekonomi makro, keberadaan ITERA menjadi sinyal positif bagi transformasi struktural Indonesia. Selama ini, kontribusi riset dan inovasi terhadap PDB masih rendah dibanding negara tetangga. Dengan memfokuskan pada teknologi anak bangsa, ITERA berpotensi menurunkan ketergantungan impor komponen teknologi dan menciptakan lapangan kerja berkualitas di wilayah Sumatera. Saya menilai, kampus ini bisa menjadi katalis bagi hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, sebagaimana yang digencarkan pemerintah.
Program studi dan laboratorium ITERA dirancang kolaboratif dengan pelaku usaha lokal, sehingga lulusan tidak hanya siap pakai, tetapi juga mampu menciptakan usaha rintisan berbasis riset. Hal ini penting mengingat bonus demografi Indonesia mencapai puncaknya dalam dekade ini—tanpa penguasaan teknologi, bonus itu justru bisa menjadi beban.
Sinergi dengan ITB dan Pemerintah Daerah
Sebagai kampus di bawah bimbingan ITB, ITERA mendapat akses ke jaringan riset nasional dan internasional. Namun, yang membedakan adalah komitmennya untuk menyelesaikan persoalan riil di Sumatera, seperti pengelolaan lahan gambut, ketahanan pangan, dan energi surya tropis. Beberapa riset unggulan telah menarik minat investor dan badan usaha milik negara, menandakan bahwa riset dan inovasi bukan lagi kegiatan akademis semata, melainkan bagian dari rantai nilai ekonomi.
Pemerintah Provinsi Lampung pun menyambut positif, karena keberadaan ITERA di kawasan perbatasan antar kabupaten/kota menjadi pemicu pembangunan infrastruktur penunjang, seperti akses jalan, listrik, dan internet. Ini adalah contoh nyata bagaimana investasi di bidang pendidikan tinggi menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski optimisme tinggi, tantangan tetap ada: pendanaan riset yang masih bergantung pada APBN, minimnya peneliti pascadoktoral, dan budaya publikasi yang belum maksimal. Namun, dengan meningkatnya alokasi dana riset dari pemerintah dan skema kemitraan dengan swasta, ITERA berada di jalur yang tepat. Saya berharap, kampus ini tidak terjebak dalam rutinitas administratif, melainkan terus mendorong riset terapan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Liputan selengkapnya dapat disaksikan dalam program Evening Up CNBC Indonesia, yang tayang Rabu, 09/09/2026. Saksikan bagaimana ITERA mempersiapkan generasi emas teknologi Sumatera maju.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa perbedaan ITERA dengan ITB?
ITERA adalah kampus negeri di Lampung yang masih di bawah pembinaan ITB, namun memiliki fokus riset berbasis potensi lokal Sumatera, seperti energi terbarukan dan agroteknologi, sedangkan ITB lebih bersifat nasional dan global.
Mengapa ITERA penting bagi ekonomi Indonesia?
ITERA memperkuat ekosistem riset di luar Jawa, mendorong hilirisasi SDA, mencetak tenaga kerja terampil, dan menarik investasi, sehingga mengurangi ketimpangan regional dan meningkatkan daya saing nasional.
Kapan ITERA didirikan?
ITERA diresmikan oleh Presiden SBY dan mulai beroperasi secara penuh pada tahun-tahun berikutnya, dengan pengembangan infrastruktur yang terus berlanjut hingga kini.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
