Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Iran Serang Pangkalan AS dan 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Dekati US$100

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Iran Serang Pangkalan AS dan 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Dekati US$100
BAGIKAN:

Garda Revolusi Iran (IRGC) menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania dan menyerang 10 kapal di Selat Hormuz pada Rabu (9/9/2026), sebagai balasan atas penghancuran lima kapal tanker minyak Iran oleh Washington sehari sebelumnya. Eskalasi dramatis ini memicu lonjakan harga minyak mendekati US$100 per barel, mengguncang pasar global dan memperluas konflik yang telah berlangsung enam bulan ke jantung jalur energi dunia.

Serangan balasan AS pada Selasa menghancurkan lima kapal tanker Iran, yang diklaim sebagai tanggapan atas dua kali percobaan serangan rudal IRGC terhadap kapal perang Angkatan Laut AS. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan ancaman keras: Iran terus mencoba menyerang kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker. Namun, Teheran tidak tinggal diam. IRGC meluncurkan 20 rudal balistik ke pangkalan dekat Al Azraq, Yordania. Yordania mengklaim pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 rudal, sisanya jatuh di area tak berpenghuni—tanpa korban jiwa, menurut pejabat AS.

Di perairan Selat Hormuz, IRGC mengaku telah menyerang 10 kapal, termasuk dua kapal AS dan delapan kapal tanker minyak, yang dianggap melintasi zona terlarang dan tidak aman. Selat yang menjadi urat nadi 30% pasokan minyak laut global ini kini nyaris tersumbat, memperparah tekanan pasokan yang sudah tertekan oleh serangan proksi Iran, Houthi Yaman, terhadap instalasi minyak Arab Saudi sehari sebelumnya. Serangan udara Houthi melukai 73 orang dan membakar fasilitas energi di beberapa kota Saudi.

Dampak Ekonomi dan Blokade Ganda

Konflik ini bukan lagi sekadar perang proksi, melainkan perang blokade ekonomi. Washington berupaya memandu kapal tanker melewati Hormuz sambil memutus aliran ekspor Iran—strategi yang justru memantik risiko konflik Timur Tengah lebih luas. Di sisi lain, Iran dan sekutunya dalam Poros Perlawanan (Hamas, Hizbullah, milisi Syiah Irak, dan Houthi) mengintensifkan serangan terhadap aset AS dan sekutu regional, menciptakan gejolak pasar yang sulit diprediksi.

Bagi pelaku bisnis dan investor, sinyal yang harus dibaca jelas: premi risiko geopolitik kini menjadi komponen permanen dalam harga minyak. Brent yang mendekati US$100 per barel bukanlah puncak, mengingat Iran memiliki kapasitas untuk menutup total Selat Hormuz—langkah yang akan mengerek harga ke level yang belum pernah terjadi. Namun, AS dan sekutunya tampaknya mengandalkan kekuatan militer untuk menjaga jalur pelayaran, sebuah strategi mahal yang membawa risiko konfrontasi langsung.

Analisis: Jalan Buntu atau Eskalasi?

Dari sudut pandang ekonomi makro, eskalasi ini datang pada saat yang rentan. Pasokan minyak global sudah terganggu oleh pemangkasan OPEC+ dan pemulihan permintaan pasca-pandemi. Setiap guncangan di Hormuz akan langsung diterjemahkan ke inflasi impor bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang sudah berjuang melawan tekanan nilai tukar. Jika konflik berlanjut, kita bisa melihat siklus umpan balik negatif: harga energi naik → inflasi menguat → suku bunga naik → pertumbuhan melambat. Ini bukan skenario hipotetis, melainkan pola yang telah terbukti dalam setiap krisis Teluk sebelumnya.

Di tengah semua ini, pertanyaan terbesar bukanlah siapa yang menang secara militer, tetapi berapa lama pasar dapat menoleransi ketidakpastian. Pilihan AS untuk membalas secara asimetris—menghantam kapal tanker daripada target militer—menunjukkan keinginan untuk menghindari perang total, tetapi Iran tampaknya tidak memiliki ruang mundur. Dengan pemilihan umum mendekat di AS dan tekanan domestik di Iran, kedua belah pihak mungkin terus mendorong batas hingga titik di mana salah satu pihak terpaksa mundur—atau dunia menyaksikan konflik terbuka di salah satu titik paling strategis di planet ini.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa dampak langsung serangan ini terhadap harga minyak?
Harga minyak Brent langsung melonjak mendekati US$100 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 juta barel per hari. Kenaikan ini dapat memicu inflasi global dan membebani negara importir.

Apakah Selat Hormuz benar-benar tertutup?
Belum sepenuhnya tertutup, tetapi serangan Iran terhadap kapal tanker membuat banyak armada enggan melintas, sehingga efektif mengurangi volume pengiriman. AS dan sekutu berupaya mengawal kapal, tetapi risiko tetap tinggi.

Bagaimana prospek konflik ke depan?
Eskalasi cenderung berlanjut dalam bentuk serangan balasan. Namun, tekanan ekonomi dari harga minyak yang tinggi dapat mendorong mediasi internasional. Tanpa itu, perang blokade bisa berlangsung berbulan-bulan dengan dampak kumulatif yang parah bagi perekonomian dunia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸