Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hilang Kontak di Selat Sunda: Tim SAR Buru Speed Boat Bermuatan Lima Jurnalis, Apa yang Terjadi?

KriminalSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Hilang Kontak di Selat Sunda: Tim SAR Buru Speed Boat Bermuatan Lima Jurnalis, Apa yang Terjadi?
BAGIKAN:

Hari kedua pencarian terhadap lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, resmi dimulai Rabu (9/9) pukul 07.00 WIB. Tim SAR gabungan dari berbagai unsur dikerahkan untuk memperluas jangkauan operasi, membagi wilayah menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) guna mengoptimalkan proses pencarian di tengah tantangan medan dan cuaca yang dinamis.

Insiden ini mencuat setelah speed boat yang mengangkut awak media tersebut kehilangan komunikasi sejak Selasa (8/9) sore. Hingga berita ini diturunkan, belum ada sinyal kehidupan atau tanda-tanda keberadaan kapal. Tim SAR yang melibatkan personel Basarnas, TNI AL, Polisi Air, serta nelayan setempat, terus menyisir jalur perairan yang diduga menjadi lokasi terakhir kemunculan korban. Peralatan canggih seperti radar pencarian dan sonar side-scan juga dikerahkan, namun hingga siang ini hasil masih nihil.

Pembagian Sektor dan Skala Pencarian

Kepala Kantor SAR Banten, dalam keterangan persnya, menyebutkan bahwa empat SRU ditempatkan di titik-titik strategis: utara Pulau Sangiang, selatan Selat Sunda, perairan sekitar Tanjung Lesung, dan jalur dekat Pelabuhan Merak. Setiap unit dilengkapi dengan perahu karet, peralatan selam, dan drone udara untuk memindai area dari ketinggian. Total personel yang diterjunkan mencapai 78 orang, dengan dukungan dua helikopter patroli dan tiga kapal besar. “Kami memprioritaskan percepatan karena jam emas penyelamatan semakin menipis,” ujar salah satu koordinator lapangan yang enggan disebutkan namanya.

Namun, di balik kesigapan operasi, publik dan sesama awak media mulai menyoroti pertanyaan mendasar: mengapa rombongan jurnalis ini nekat melintasi Selat Sunda pada musim peralihan angin? Selat Sunda memang terkenal dengan ombak tinggi dan arus kuat, terutama pada September-Oktober. Beberapa sumber menyebutkan bahwa perjalanan tersebut merupakan bagian dari liputan investigasi mengenai aktivitas tambang ilegal di kawasan pesisir. Jika benar, maka ini bukan sekadar kecelakaan pelayaran, melainkan juga risiko yang diemban oleh insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Analisis: Kelalaian atau Nasib?

Sebagai jurnalis senior yang telah puluhan kali meliput di laut, saya melihat kasus ini membuka mata kita terhadap dua sisi. Pertama, aspek keselamatan pelayaran yang kerap diabaikan oleh awak media karena tekanan tenggat dan target liputan. Kedua, minimnya koordinasi antara redaksi dan otoritas maritim sebelum keberangkatan. Dalam dunia ideal, setiap perjalanan jurnalistik ekstrem wajib memiliki protokol darurat dan komunikasi satelit. Namun kenyataan di lapangan, banyak perusahaan pers masih menganggap biaya tersebut sebagai tambahan beban.

Operasi SAR hari kedua ini patut diapresiasi, tetapi kita juga perlu menuntut transparansi dari pihak kepolisian dan Basarnas mengenai data cuaca aktual saat kejadian. Apakah ada peringatan dini yang diabaikan? Apakah speed boat tersebut layak laut dan memiliki surat izin penumpang yang sah? Pertanyaan-pertanyaan ini wajib dijawab agar kejadian serupa tidak terulang. Nyawa lima jurnalis tidak bisa ditukar dengan sekadar narasi kecelakaan biasa.

Hingga pukul 14.00 WIB, tim SAR masih fokus di empat sektor, dengan rencana perluasan hingga perairan Lampung selatan. Masyarakat pesisir diminta ikut serta melaporkan jika menemukan benda atau tanda-tanda kapal. Sementara itu, Dewan Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) telah mendesak pemerintah untuk membentuk tim investigasi terpisah guna mengusut kronologi secara menyeluruh, terlepas dari hasil akhir operasi SAR.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Siapa saja lima jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda?
Identitas kelima jurnalis belum diumumkan secara resmi oleh pihak keluarga atau redaksi. Namun, informasi awal menyebutkan mereka tergabung dalam tim liputan dari beberapa media nasional yang sedang meneliti aktivitas tambang ilegal di Banten.

2. Bagaimana kondisi cuaca di Selat Sunda saat kejadian?
Berdasarkan data BMKG, Selat Sunda pada 8–9 September mengalami gelombang sedang hingga tinggi (1,5–2,5 meter) dengan angin kencang dari arah selatan. Kondisi ini sangat berisiko bagi kapal kecil seperti speed boat, terutama jika tidak dilengkapi alat navigasi dan komunikasi yang memadai.

3. Apa langkah yang dilakukan tim SAR gabungan untuk menemukan korban?
Tim SAR membagi area menjadi empat SRU, menggunakan radar, sonar, drone, dan kapal patroli. Mereka juga berkoordinasi dengan nelayan setempat dan melibatkan helikopter untuk pemindaian udara. Pencarian akan diperluas jika hingga hari ketiga belum menemukan titik terang.

Meow! Tanya Nesi!
😸