BRI Siap Gebrak Akses Rekening Massal, Siapkan 131 Juta Nasabah di Bawah Arahan Jokowi? Ini Dampaknya
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan kesiapan penuh menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kepemilikan rekening perbankan bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini, yang disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Senin (7/9), dinilai sebagai akselerasi strategis untuk menutup celah inklusi keuangan sekaligus memastikan program pemerintah tersalurkan secara lebih tepat sasaran, cepat, dan transparan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Presiden menginstruksikan sejumlah bank pelat merah, termasuk BRI, untuk menyiapkan rekening bagi masyarakat. Pemerintah juga akan memadankan data kependudukan dari Dukcapil dengan sistem Bank Indonesia, termasuk ekosistem QRIS, sebagai fondasi transaksi digital nasional.
Infrastruktur Raksasa BRI: Dari Desa hingga Super App
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya membuka rekening, tetapi membangun ekosistem. “Bagi kami, ini bukan semata-mata tentang membuka rekening, tetapi bagaimana memastikan semakin banyak masyarakat dapat masuk ke dalam ekosistem keuangan formal serta memperoleh akses terhadap layanan keuangan,” ujarnya. Hingga triwulan II 2026, BRI mencatat 131 juta nasabah individual, didukung 7.377 kantor, 637 ribu e-channel, dan 1,13 juta BRILink Agen yang menjangkau lebih dari 60 ribu desa. Di sisi digital, super app BRImo telah digunakan oleh 49,7 juta pengguna.
Kesenjangan Inklusi vs Literasi: PR Besar yang Tak Bisa Diabaikan
Data pemerintah menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,62%, tetapi literasi keuangan baru 69,57%. Angka ini menyiratkan bahwa masih banyak pemilik rekening yang belum memahami fungsi perbankan secara optimal. Di sinilah peran edukasi menjadi krusial. Hery menekankan bahwa perluasan akses harus dibarengi dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak sekadar memiliki rekening, tetapi juga aktif bertransaksi dan memanfaatkan produk kredit maupun tabungan sesuai kebutuhan.
Dari sudut pandang ekonomi makro, kebijakan ini adalah langkah cerdas untuk memperkuat basis data ekonomi nasional. Dengan semakin banyak transaksi terekam, perbankan dapat membangun profil risiko yang lebih akurat, membuka akses pembiayaan bagi UMKM yang selama ini kesulitan mendapat kredit formal, sekaligus memperbesar penerimaan pajak melalui transparansi ekosistem digital.
Dampak Strategis bagi Ekonomi Kerakyatan
Bagi pelaku usaha mikro, rekening bank bukan hanya tempat menyimpan uang. Rekening menjadi catatan transaksi yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian kredit, sekaligus pintu masuk ke layanan keuangan lain seperti asuransi dan investasi. Pemerintah juga akan memanfaatkan rekening-rekening ini untuk menyalurkan bansos, subsidi, dan program bantuan lain dengan lebih efisien, menghindari kebocoran yang kerap terjadi pada skema tunai.
Integrasi dengan QRIS dan sistem pembayaran Bank Indonesia menjadi kunci percepatan inklusi digital. Menurut analisis saya, kolaborasi antara BRI, pemerintah, dan BI ini bisa menjadi model kebijakan yang menggerakkan roda ekonomi dari basis kerakyatan. Namun, tantangan terbesar bukan pada infrastruktur, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang masih mengandalkan transaksi tunai dan lumbung desa.
BRI, dengan pengalaman panjang melayani segmen ultramikro, berada di posisi paling strategis untuk menjembatani kesenjangan itu. Kemampuan menjangkau hingga pelosok, ditambah dengan agen BRILink yang telah menjadi mini-bank di desa, memberikan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru bank lain. Namun, perluasan rekening massal juga berpotensi menambah beban operasional dan risiko fraud jika literasi tidak dikejar. Karena itu, saya menilai sinergi antara pemerintah, otoritas, dan perbankan harus terus diperkuat, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada program edukasi yang masif dan berkelanjutan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa tujuan utama arahan Presiden Prabowo tentang kepemilikan rekening?
Untuk memperluas inklusi keuangan dan memastikan masyarakat memiliki akses ke ekosistem keuangan formal, sehingga program pemerintah dapat disalurkan secara cepat, transparan, dan efisien.
Bagaimana BRI akan menjangkau masyarakat di daerah terpencil?
BRI memanfaatkan lebih dari 1,13 juta BRILink Agen yang tersebar di lebih dari 60 ribu desa, ditambah jaringan kantor dan e-channel, serta super app BRImo untuk memberikan akses perbankan digital.
Apakah kebijakan ini hanya sekadar membuka rekening?
Tidak. Selain pembukaan rekening, pemerintah dan BRI juga fokus pada peningkatan literasi keuangan agar masyarakat memahami dan memanfaatkan layanan perbankan, termasuk transaksi digital, menabung, dan akses kredit.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK Sanksi Aurora Asset Management Rp2,57 Miliar dan Bubarkan Lima Reksa Dana

ACES Raih Rp6,9 Triliun 9 Bulan, Skor Tata Kelola Naik ke Level 'Very Good'

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026
