PTBA Tak Hanya DME, Siap Garap Bisnis Hilirisasi Batu Bara Senilai Triliunan? Ini Strategi Jangka Panjangnya

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tidak hanya berhenti pada proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME). Emiten pelat merah ini mulai merambah turunan lain seperti metanol dan kalium humat, sebagai bagian dari strategi hilirisasi jangka panjang yang ditargetkan menyumbang 20% pendapatan dalam empat tahun ke depan.
Langkah ini diumumkan dalam Public Expose PTBA, Selasa (8/9/2026), oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Una Lindasari. Menurutnya, setiap proyek dievaluasi secara selektif berdasarkan nilai ekonomi dan kesiapan teknologi. “Hilirisasi menjadi fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi DME, metanol, dan kalium humat,” ujarnya.
Strategi Hilirisasi: Dari DME ke Metanol dan Kalium Humat
PTBA saat ini telah mengoperasikan pabrik percontohan kalium humat berkapasitas 171 ton per tahun, dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun. Sementara itu, proyek gasifikasi batu bara untuk DME dan Synthetic Natural Gas (SNG) tengah memasuki tahap studi kelayakan akhir di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menjelaskan bahwa DME bertujuan mengurangi substitusi impor LPG, sedangkan SNG untuk menutupi kekurangan gas industri. Keduanya merupakan program strategis nasional, dan konstruksi ditargetkan dimulai tahun depan.
Dari sisi serapan, produksi DME akan dipasok ke Pertamina Patra Niaga, sementara SNG disalurkan melalui PGN. Ini menunjukkan kepastian pasar yang menjadi kunci keberhasilan proyek bernilai investasi besar tersebut.
Energi Terbarukan: PLTS di Lahan Pasca Tambang
Selain hilirisasi, PTBA juga memperluas portofolio ke energi terbarukan melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pasca tambang dengan kapasitas 1,2 Mega Watt (MW). Langkah ini sejalan dengan transisi energi global dan memanfaatkan aset yang tidak produktif. Una menambahkan bahwa perseroan akan terus mengidentifikasi proyek potensial di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset, dan lahan pasca tambang.
Proyeksi Kontribusi 20% dalam Empat Tahun
Target ambisius dicanangkan: kontribusi dari seluruh lini bisnis hilirisasi dan diversifikasi mencapai 20% terhadap total pendapatan perseroan dalam kurun waktu empat tahun ke depan. “Kita bertahap pengembangan diversifikasi ini. Kita sudah targetkan dalam empat tahun ke depan kontribusi dari hilirisasi dan diversifikasi sekitar 20% dari total pendapatan,” tegas Una.
Analisis Siti Amalia: Langkah PTBA ini merupakan terobosan strategis di tengah tekanan terhadap bisnis batu bara termal. Diversifikasi ke produk bernilai tambah dan energi terbarukan tidak hanya meningkatkan margin, tetapi juga mengurangi risiko regulasi dan lingkungan. Namun, tantangan terbesar adalah kesiapan teknologi dan skala ekonomi. Proyek DME dan SNG membutuhkan investasi besar dan kepastian pasokan gas, sementara pasar domestik untuk metanol dan kalium humat masih perlu dikembangkan. Jika berhasil, PTBA bisa menjadi model bagi BUMN tambang lain dalam bertransformasi. Kehadiran Danantara sebagai koordinator juga memberi sinyal dukungan penuh pemerintah, yang bisa mempercepat realisasi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa perbedaan DME dan SNG?
DME (Dimetil Eter) adalah bahan bakar pengganti LPG, sedangkan SNG (Synthetic Natural Gas) adalah gas sintetis yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas industri. Keduanya dihasilkan dari proses gasifikasi batu bara.
Kapan proyek gasifikasi PTBA mulai konstruksi?
Target konstruksi dimulai tahun depan (2027), setelah studi kelayakan akhir selesai dan mendapatkan persetujuan dari BPI Danantara.
Berapa target kontribusi hilirisasi terhadap pendapatan PTBA?
PTBA menargetkan kontribusi dari hilirisasi dan diversifikasi mencapai 20% dari total pendapatan perseroan dalam empat tahun ke depan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
