IHSG Masih Terancam Merah: Analis Sinyalkan Koreksi Lanjutan ke Level 6.578
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan ini, setelah ditutup melemah 0,25% ke level 6.619 pada perdagangan Senin (7/9). Para analis teknikal dari MNC Sekuritas dan Binaartha Sekuritas sepakat bahwa koreksi jangka pendek masih berisiko berlanjut, dengan target support terdekat di kisaran 6.569โ6.578. Meski peluang rebound terbuka jika support bertahan, sentimen jual yang meningkat dan transaksi harian yang mencapai Rp13,71 triliun mengindikasikan pasar sedang dalam fase konsolidasi yang rapuh.
Sejak pembukaan perdagangan Selasa ini, investor tampak cenderung wait-and-see menyusul tekanan jual bersih yang mencatatkan 332 saham terkoreksi, sementara hanya 281 saham yang menguat. Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas, dalam riset hariannya memperingatkan bahwa IHSG berpotensi menyentuh area 6.578โ6.598 dalam skenario terburuk, karena indeks dinilai berada di akhir wave v dari wave (c). Rentang pergerakan yang diproyeksikan hari ini berada di support 6.561โ6.476 dan resistance 6.705โ6.755, dengan saham pilihan seperti HRUM, INKP, MDKA, dan TPIA yang dianggap memiliki ketahanan relatif terhadap tekanan pasar.
Dua Mata Analis, Satu Arah Koreksi
Senada dengan Herditya, Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas melihat indeks masih terperangkap dalam fase koreksi jangka pendek. Menurut Ivan, jika IHSG berhasil menembus ke bawah level 6.569, maka pergerakan selanjutnya akan menguji garis SMA-20 yang menjadi penopang teknikal utama. Namun, ia juga memberi catatan bahwa rebound bisa terjadi lebih cepat apabila support 6.569 bertahan, membuka peluang pengujian resistance di 6.835 dan 6.916. Rekomendasi saham dari Binaartha mencakup ADMR, BMRI, dan BRPT, yang dinilai memiliki fundamental cukup kuat untuk menghadapi volatilitas.
Dari sisi makro, kondisi IHSG yang lesu ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap aliran dana asing dan sentimen global, terutama menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pekan ini. Saya menilai, meskipun koreksi teknikal adalah hal wajar setelah reli beberapa pekan terakhir, volume transaksi yang masih di atas Rp13 triliun menunjukkan likuiditas pasar tetap sehat. Hanya saja, investor ritel perlu mencermati zona support dan tidak serta-merta memburu bottom sebelum ada konfirmasi pembalikan arah.
Penutupan Senin kemarin mencatat 179 saham stagnan, menandakan ketidakpastian yang masih tinggi. Dengan rentang support yang lebar dari 6.230 hingga 6.569, pergerakan IHSG hari ini akan sangat menentukan apakah koreksi ini hanya koreksi dangkal atau awal dari pelemahan lebih dalam. Rekomendasi saham dari dua analis besar tersebut bisa menjadi acuan, namun keputusan investasi tetaplah tanggung jawab masing-masing investor.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa penyebab utama IHSG diproyeksi lesu hari ini?
Tekanan jual yang meningkat dan posisi indeks yang berada di akhir gelombang koreksi teknikal, ditambah sentimen eksternal dari pasar global, menjadi faktor utama pelemahan.
2. Saham apa saja yang direkomendasikan analis untuk kondisi ini?
MNC Sekuritas merekomendasikan HRUM, INKP, MDKA, dan TPIA, sedangkan Binaartha Sekuritas menyarankan ADMR, BMRI, dan BRPT. Namun, rekomendasi ini bukan ajakan beli, melainkan pertimbangan teknikal.
3. Apakah ada peluang IHSG berbalik menguat hari ini?
Peluang rebound tetap ada jika support di 6.569 mampu bertahan. Jika tidak, koreksi berlanjut ke area 6.496โ6.476.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
