Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Harga Bensin AS Tembus Rp72.700 per Galon, Trump Gagal Tepati Janji?

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harga Bensin AS Tembus Rp72.700 per Galon, Trump Gagal Tepati Janji?
BAGIKAN:

Warga Amerika Serikat (AS) memasuki akhir pekan Labor Day dengan harga bensin rata-rata nasional yang menembus US$ 4,13 per galon (sekitar Rp72.700), melampaui rekor sepanjang masa dan menjadi pukulan telak bagi janji kampanye Presiden Donald Trump untuk menurunkan biaya energi. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik militer antara AS dan Iran yang kembali mengguncang pasar minyak global, mendorong harga minyak mentah ke atas US$ 90 per barel dan mengerek harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Menurut analis GasBuddy, Patrick De Haan, ini adalah kali pertama harga rata-rata bensin nasional pada periode Labor Day melampaui US$ 4 per galon sejak pencatatan dimulai. "Untuk pertama kalinya, warga Amerika mungkin akan melihat harga rata-rata nasional bensin di atas US$ 4 per galon pada Labor Day," tulisnya dalam unggahan blog yang dikutip Reuters. Angka tersebut naik hampir US$ 1 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan jauh di atas rekor sebelumnya US$ 3,83 per galon.

Dari Janji Manis ke Realita Pahit

Kondisi ini menjadi bumerang bagi Trump, yang sebelumnya berjanji menurunkan biaya energi. Namun, pada 14 Agustus lalu, ia justru menyatakan bahwa warga AS seharusnya bersedia membayar "sedikit lebih mahal" untuk harga bensin demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Sikap kontroversial ini memicu kritik tajam, terlebih dampaknya langsung dirasakan di pompa bensin.

Randi O'Brien, warga Colorado, mengaku hanya mampu membeli bensin senilai US$ 15 (Rp264.000) untuk truknya. "Situasinya benar-benar tak terkendali," keluhnya sambil mengisi bahan bakar di SPBU Phillips 66 dekat Evergreen. Ia juga menyoroti ironi meningkatnya ekspor produk olahan minyak AS—data EIA menunjukkan kenaikan lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu—sementara stok dalam negeri justru menipis. "Kita memiliki bahan bakar sendiri di sini, namun kita justru mengirimkannya ke tempat lain," ujarnya.

Krisis Pasokan dan Dampak Berantai

Penurunan stok bensin AS menjadi 205,7 juta barel—di bawah rata-rata lima tahunan Agustus sebesar 217,6 juta barel—memperparah tekanan harga. Analis energi Tom Kloza memperingatkan bahwa harga harga solar berpotensi melewati rekor US$ 5,82 per galon pada 2022, sementara biaya perjalanan udara saat Labor Day diperkirakan 20% lebih mahal dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa konflik AS-Iran tidak hanya mengguncang pasar minyak, tetapi juga menggerus daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dari sudut pandang makroekonomi, lonjakan ini berisiko memicu inflasi baru dan memperlambat pemulihan konsumsi pasca-pandemi. Kebijakan luar negeri yang agresif memang sering kali memiliki konsekuensi domestik yang mahal, dan kali ini rakyat AS yang menjadi korban. Trump mungkin menganggap pengorbanan ini sebagai harga untuk keamanan nasional, namun bagi warga yang harus memilih antara mengisi tangki atau membeli kebutuhan pokok, retorika itu terasa hampa.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Mengapa harga bensin AS bisa naik drastis meski AS produsen minyak besar?
Eskalasi konflik AS-Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan global, sehingga harga minyak mentah naik. Selain itu, ekspor produk olahan AS justru meningkat, sementara stok dalam negeri menurun, menciptakan kelangkaan relatif di pasar domestik.

2. Apa dampak jangka pendek bagi ekonomi AS?
Kenaikan harga bensin akan meningkatkan biaya logistik dan transportasi, mendorong inflasi, serta menekan belanja konsumen. Sektor pariwisata dan penerbangan juga terdampak dengan kenaikan tiket pesawat hingga 20%.

3. Apakah ini sinyal kegagalan kebijakan energi Trump?
Janji Trump untuk menurunkan biaya energi bertabrakan dengan kebijakan luar negerinya yang agresif. Meski alasan keamanan nasional dapat dipahami, dampak nyata di lapangan menunjukkan bahwa janji politik tidak selalu sejalan dengan realita geopolitik.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸