Erupsi Anak Krakatau Usai, Abu Vulkanik Masih Bikin Tiga Provinsi Terkunci dan Jemaah Umrah Terdampar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung selama 25 jam memang telah berakhir, namun abu vulkaniknya masih menyisakan dampak masif hingga Senin (7/9) kemarin: operasional sejumlah bandara terganggu, tiga provinsi—Lampung, Banten, dan DKI Jakarta—menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), serta ratusan jemaah umrah tertahan di Arab Saudi. Badan Geologi Kementerian ESDM pun memperingatkan probabilitas letusan susulan masih tinggi, menambah daftar panjang keluhan publik atas kesiapsiagaan bencana yang kerap reaktif ketimbang preventif.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa meski episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas kegempaan di Gunung Anak Krakatau masih tergolong tinggi. "Probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi, dengan ancaman bahaya berupa lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," ujarnya, Senin. Ia mengimbau warga tidak memasuki radius 3 km dari pusat aktivitas dan meningkatkan kewaspadaan terhadap awan panas, lava, dan hujan abu lebat. Namun, imbauan yang bersifat teknis ini seringkali tidak dibarengi dengan peta evakuasi yang jelas dan simulasi rutin, yang justru menjadi kebutuhan dasar masyarakat di zona rawan.
Bandara Terganggu, Imigrasi Beri Keringanan Overstay
Buntut dari sebaran abu vulkanik, Direktorat Jenderal Imigrasi mengambil langkah darurat dengan memperpanjang masa tinggal bagi Warga Negara Asing (WNA) yang terdampak hingga 30 hari melalui Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT), serta menggratiskan biaya overstay. Ketentuan ini berlaku bagi WNA yang melampirkan surat keterangan dari maskapai atau otoritas bandara. Kebijakan ini patut diapresiasi, tetapi sekaligus menyoroti kerentanan sistem penerbangan nasional yang belum memiliki prosedur baku penanganan abu vulkanik lintas sektor—sebuah kesenjangan yang semestinya menjadi evaluasi mendesak bagi Kementerian Perhubungan dan BMKG.
Jemaah Umrah Tertahan, Kemenhaj Perintahkan PPIU Prioritaskan Keselamatan
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk memastikan keselamatan jemaah yang tertahan di Arab Saudi imbas penutupan bandara. Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menginstruksikan agar PPIU memberi informasi cepat dan akurat, serta menjamin akomodasi, konsumsi, dan transportasi jemaah. "Kami meminta PPIU tidak memaksakan keberangkatan sebelum ada kepastian dari maskapai," tegasnya. Namun, pertanyaan kritisnya: mengapa tidak ada skenario kontingensi untuk penerbangan umrah saat terjadi gangguan vulkanik, mengingat Indonesia berada di Cincin Api? Ketiadaan protokol khusus untuk musim haji dan umrah menunjukkan celah besar dalam mitigasi bencana di sektor penerbangan ibadah.
Prabowo Janjikan Anggaran Mitigasi Lebih Besar, Publik Tunggu Bukti
Presiden Prabowo Subianto, dalam rapat terbatas secara virtual, menyatakan akan menambah anggaran mitigasi bencana secara signifikan. Ia menyebut rentetan bencana—gempa Flores, erupsi Anak Krakatau, dan kebakaran hutan—sebagai konsekuensi geografis yang harus dihadapi dengan kesiapan. "Alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan," ujarnya. Retorika ini terdengar familier di setiap pergantian kabinet, namun realisasi di lapangan kerap terhambat birokrasi dan minimnya sistem peringatan dini berbasis komunitas. Tanpa terobosan konkret, janji tambahan anggaran hanya akan menggenapi catatan panjang janji politik yang tak berbuah.
PJJ DKI Diperpanjang Sehari, Kualitas Udara Membaik
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama satu hari hingga Selasa (8/9), meskipun konsentrasi abu mulai menurun. "Abu vulkaniknya sudah mengalami penurunan luar biasa, tetapi di beberapa daerah masih ada," ujarnya. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI melaporkan perbaikan kualitas udara setelah penyiraman jalan, terutama penurunan partikel PM10 di Jakarta Pusat, Timur, dan Selatan. Namun, penyiraman yang dilakukan setelah abu mengendap—bukan sejak awal—menunjukkan respons yang tertinggal. Seharusnya, penyiraman preventif dilakukan bersamaan dengan peringatan dini, bukan menunggu keluhan warga.
Sebagai jurnalis yang telah menyusuri berbagai bencana, saya menilai bahwa kasus ini bukan sekadar soal abu dan angin, melainkan cermin dari manajemen krisis yang masih reaktif. Ketika BMKG dan PVMBG sudah mengeluarkan peringatan level waspada, mengapa langkah antisipasi di bandara dan sekolah baru bergerak setelah gangguan terjadi? Diperlukan regulasi yang mewajibkan otoritas lokal mengaktifkan protokol darurat secara otomatis berdasarkan parameter baku, tanpa harus menunggu instruksi dari pusat. Inilah esensi dari mitigasi yang sesungguhnya.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah abu vulkanik Anak Krakatau masih berbahaya untuk pernapasan?
Ya, abu vulkanik mengandung partikel silika yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Masyarakat di zona sebaran disarankan memakai masker N95 dan mengurangi aktivitas di luar ruangan hingga hujan turun membersihkan udara.
Bagaimana cara WNA yang terdampak mengurus perpanjangan izin tinggal gratis?
WNA harus melapor ke kantor imigrasi terdekat dengan membawa paspor, dokumen yang memenuhi syarat, dan surat keterangan dari maskapai atau otoritas bandara yang menyatakan penutupan atau penundaan penerbangan akibat abu vulkanik.
Apakah ada jadwal kepastian untuk jemaah umrah yang tertahan di Arab Saudi?
Belum ada kepastian; Kemenhaj dan PPIU masih berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas penerbangan. Jemaah diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi dari PPIU masing-masing hingga bandara tujuan kembali dibuka.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Gencarkan 'Program Senin Kabel', Pemprov DKI Targetkan Turunkan Semua Kabel Udara ke Bawah Tanah dalam 5 Tahun

Kebakaran Jakbar Naik 9,51 Persen, FKDM Digemblar Jadi Garda Depan Penanganan Krisis

Ibu Lansia Dituduh Senggol Mobil Sebelum Tewaskan Pemotor di Kembangan, Polisi Ungkap Kronologi
