Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta, Kerugian Ekonomi Mengintai? Bandara Kini Buka Kembali

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta, Kerugian Ekonomi Mengintai? Bandara Kini Buka Kembali
BAGIKAN:

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) resmi beroperasi normal kembali sejak Selasa (8/9) dini hari, setelah lebih dari 12 jam ditutup akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan pembukaan kembali diambil setelah tim meteorologi dan otoritas penerbangan memastikan kondisi visibilitas dan keselamatan penerbangan telah memenuhi standar. Namun, di balik kabar lega ini, para pelaku usaha dan ekonom mulai menghitung kerugian yang diderita akibat lumpuhnya pintu gerbang udara utama Indonesia tersebut.

Penutupan yang berlangsung sejak Senin (7/9) sore itu memaksa puluhan jadwal penerbangan domestik dan internasional ditunda atau dialihkan ke bandara alternatif. PT Angkasa Pura II selaku pengelola mencatat lebih dari 15.000 penumpang terdampak, sementara maskapai penerbangan harus menanggung biaya operasional tambahan yang tidak sedikit. Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus waspada ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rantai logistik dan mobilitas nasional terhadap bencana alam.

Dampak Ekonomi: Lebih dari Sekadar Penumpang Tertahan

Sebagai jurnalis finansial yang mengamati denyut ekonomi makro, saya melihat penutupan Soetta bukan sekadar gangguan perjalanan. Bandara ini adalah jantung distribusi barang, kurir, dan logistik ekspor-impor. Setiap jam keterlambatan penerbangan kargo berpotensi merugikan industri manufaktur, e-commerce, hingga sektor pertanian yang mengandalkan pengiriman cepat. Meski baru berjalan sehari, asuransi perjalanan dan klaim keterlambatan akan membengkak, sementara sektor pariwisata—yang baru pulih pasca-pandemi—kembali menerima pukulan psikologis.

Analis penerbangan memperkirakan kerugian langsung dari penutupan ini bisa mencapai puluhan miliar rupiah, belum termasuk efek tidak langsung seperti penurunan kepercayaan wisatawan asing. Bandara Soekarno-Hatta yang melayani lebih dari 60 juta penumpang per tahun memang memiliki protokol darurat, namun kejadian berulang dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau menuntut evaluasi serius terhadap sistem mitigasi dan jalur penerbangan alternatif.

Langkah Antisipasi ke Depan

Pemerintah dan BMKG terus memantau aktivitas gunung yang terletak di Selat Sunda ini. Meski abu mulai menjauh, arah angin yang berubah sewaktu-waktu bisa kembali mengancam. Maskapai penerbangan diimbau untuk memperketat pemeriksaan mesin dan filter udara pasca-terbang, sementara penumpang disarankan memantau jadwal secara real-time. Dari sisi bisnis, perusahaan logistik mulai mengalihkan sebagian rute melalui bandara Kertajati atau Juanda untuk mengantisipasi kejadian serupa.

Yang menarik, peristiwa ini juga membuka peluang bagi pengembangan bandara-bandara alternatif di Jawa dan Sumatera. Sebagai pakar ekonomi, saya menilai investasi infrastruktur penerbangan yang merata bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ancaman bencana geologis.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah semua penerbangan di Soetta sudah kembali normal?
Ya, sejak dini hari Selasa (8/9), semua jadwal penerbangan domestik dan internasional telah beroperasi normal, meskipun masih ada beberapa jadwal yang mengalami penyesuaian akibat antrian sebelumnya.

Bagaimana cara mengetahui update terkini terkait erupsi dan penerbangan?
Penumpang bisa mengakses aplikasi resmi maskapai, situs web Angkasa Pura II, atau akun media sosial Bandara Soetta untuk informasi real-time. BMKG juga menyediakan peringatan dini sebaran abu vulkanik.

Berapa estimasi kerugian ekonomi dari penutupan kali ini?
Meski angka pasti masih dihitung, perkiraan sementara dari asosiasi maskapai dan logistik berkisar antara Rp 30–50 miliar untuk kerugian langsung, belum termasuk dampak pada sektor pariwisata dan kepercayaan investor.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸