CT Lampung Financial Festival: Pesan ‘Jangan Licik, Jadilah Orang Beruntung’ untuk Mahasiswa Pengusaha
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pendiri dan Chairman CT Corp, Chairul Tanjung (CT), memberikan coaching clinic di hari kedua Lampung Financial Festival yang dihadiri ratusan mahasiswa pengusaha. Dalam sesi yang berlangsung Minggu (6/9) itu, CT menegaskan bahwa kesuksesan tidak diraih dengan membalik telapak tangan, melainkan dengan kerja keras, doa, dan kepatuhan pada nilai-nilai kejujuran—sekaligus mengupas tuntas dilema klasik pengusaha: dari menangani karyawan curang hingga menyiasati pelemahan daya beli.
Di hadapan mahasiswa yang telah merintis usaha—mulai dari jasa bimbingan skripsi, penjualan gorengan, hingga pengelolaan kebun kelapa sawit—CT mengajak mereka bertanya langsung. “Masih mahasiswa, masih belajar. Saya pun begitu. Masalah yang Anda hadapi bisa ditanyakan, dan saya akan beri pengetahuan. Semoga Anda bisa keluar dari masalah dan berhasil,” ujarnya.
Masalah Klasik Pengusaha: Karyawan, Stagnasi, dan Daya Beli
Antusiasme mahasiswa terlihat dari deretan pertanyaan: bagaimana keluar dari stagnasi bisnis, menyiasati daya beli masyarakat yang melemah, dan memilih karyawan andal. CT menyebut semua itu adalah persoalan klasik, bahkan ia mengakui pernah dibohongi karyawan sendiri. “Saya pun sering, apalagi karyawannya banyak. Fraud di perbankan juga contoh nyata. Kita tak bisa tahu isi hati orang, tes psikologi pun tidak 100% jaminan. Proses rekrutmen harus bertahap, uji watak dalam kurun waktu tertentu,” jelasnya.
Menurut pengamat ekonomi, tantangan yang dihadapi mahasiswa pengusaha ini mencerminkan iklim usaha muda di tengah tekanan inflasi dan perubahan perilaku konsumen. CT menekankan pentingnya adaptasi dan ketekunan, namun yang paling menarik adalah pesan moral yang ia sampaikan di penghujung sesi.
Pesan Hierarki: Bodoh, Pintar, Licik, dan Beruntung
CT memberikan rumusan sederhana namun tajam: “Orang bodoh kalah oleh orang pintar. Orang pintar kalah oleh orang licik. Tapi orang licik tidak bisa menang dari orang yang beruntung.” Ia mengilustrasikan orang licik seperti yang sengaja menaruh kulit pisang agar orang lain terpleset—cara tidak baik untuk menang. “Jangan jadi orang licik,” tegasnya.
Bagi CT, kunci menjadi orang beruntung tidak hanya soal kecerdasan atau kelicikan, melainkan kepatuhan pada tuntunan agama. Sebagai muslim, ia merujuk pada Alquran. “Kalau Anda tanya AI, surat apa yang menyatakan syarat orang beruntung? Implementasikan. Insya Allah, Anda akan jadi orang pintar dan beruntung,” pungkasnya.
Analisis Siti Amalia: Pesan CT ini relevan dengan realita bisnis Indonesia yang masih sarat dengan praktik tidak etis. Di tengah gempuran ekonomi digital dan persaingan ketat, generasi muda perlu lebih dari sekadar modal dan ide—mereka butuh integritas dan keberanian menghadapi risiko. CT tidak memberikan resep instan, melainkan fondasi mental yang justru sering diabaikan dalam pelatihan kewirausahaan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu Lampung Financial Festival? Acara tahunan yang digelar di Bandar Lampung untuk meningkatkan literasi keuangan dan kewirausahaan, menghadirkan tokoh bisnis nasional seperti Chairul Tanjung.
Mengapa CT menekankan soal ‘orang licik’? CT ingin mengingatkan bahwa kesuksesan jangka pendek dengan cara curang akan kalah oleh keberuntungan yang datang dari kejujuran dan kepatuhan pada nilai agama.
Bagaimana cara mahasiswa mengatasi stagnasi bisnis menurut CT? CT menyarankan untuk terus belajar, bertanya kepada mentor, dan tidak takut menghadapi masalah—karena semua pengusaha melewati fase serupa.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK Sanksi Aurora Asset Management Rp2,57 Miliar dan Bubarkan Lima Reksa Dana

ACES Raih Rp6,9 Triliun 9 Bulan, Skor Tata Kelola Naik ke Level 'Very Good'

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026
