Malam Mencekam di Gunung Saukang: 68 Pendaki Terjebak Kobaran Api, Evakuasi Dramatis hingga Dini Hari
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Gunung Bulu Saukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu (7/9) malam sekitar pukul 20.12 WITA, memicu evakuasi darurat terhadap ratusan pendaki.
- Sebanyak 68 pendaki terjebak di puncak saat kobaran api menjalar dari Pos 5 menuju Pos 3 dan area puncak; seluruhnya berhasil dievakuasi dengan selamat oleh tim gabungan.
- Tiga pendaki perempuan dilaporkan mengalami gangguan kesehatan—dua sesak napas dan satu keseleo—sementara proses pemadaman terkendala akses kendaraan yang hanya mampu mencapai kaki bukit.
Maros, Sulawesi Selatan — Suasana mencekam menyelimuti kawasan Gunung Saukang, Kabupaten Maros, pada Minggu malam. Kobaran api yang muncul secara tiba-tiba di area Pos 5 sekitar pukul 20.12 WITA迫使 ratusan pendaki yang tengah menikmati malam di puncak gunung untuk berlari menyelamatkan diri. Dari total 337 pendaki yang terdaftar di posko pantau Bulu Saukang, sebanyak 68 orang masih berada di atas gunung ketika api mulai menjalar.
Kasi Sarana Prasarana dan Informasi Damkarmat Maros, M. Ilham Halim Syah, menjelaskan bahwa api pertama kali terpantau di Pos 5, kemudian merambat ke jalur umum di Pos 3 hingga akhirnya mencapai kawasan puncak. "Info terakhir yang terbakar di Pos 5. Api sementara menjalar terus, kalau api yang menjalar di Pos 3 di jalur umum, kemudian terus terbakar juga di puncak. Kurang lebih yang terbakar satu kilometer," ujar Ilham dalam keterangannya, Senin (7/9).
Salah seorang relawan SAR, Ondong, menceritakan detik-detik kepanikan yang terjadi di puncak gunung. "Saat Isya kejadiannya. Banyak tadi pendaki yang dievakuasi," ungkapnya. Para pendaki yang terjebak diketahui berada di kawasan Bukit Alvath. Pihak pengelola gunung pun langsung melakukan pengecekan kartu registrasi satu per satu untuk memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal. "Alhamdulillah sudah turun semua. Sekarang dicek semua karcisnya," kata Ondong penuh lega.
Proses evakuasi berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Tim gabungan yang terdiri atas Basarnas Makassar, Damkarmat Maros, Koramil Tompobulu, Polsek Tompobulu, Puskesmas Tompobulu, Mapala UMI, Saukang Explorer, dan masyarakat sekitar harus berjibaku memadamkan api sambil mengevakuasi pendaki. Dari proses penyelamatan tersebut, tiga pendaki perempuan dilaporkan membutuhkan penanganan medis—dua orang mengalami sesak napas dan satu lainnya keseleo pada bagian pergelangan kaki.
Pemadaman api sendiri menghadapi kendala serius. Sebanyak 21 personel dengan dua armada dikerahkan, namun kendaraan pemadam kebakaran hanya mampu mencapai kaki bukit. "Pemadaman di atas bukit menggunakan jet sutter atau pompa punggung," jelas Ilham. Artinya, petugas harus memikul peralatan secara manual mendaki medan yang berat untuk memadamkan api di puncak.
Ilham menambahkan bahwa hingga Senin pagi, tim masih melakukan pemadaman dan pemantauan di kawasan gunung. "Kita masih melakukan pemadaman dan pemantauan di kawasan Gunung Saukang. Sementara itu, luas areal yang terbakar masih dalam proses pendataan," tutupnya. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Manggala Agni untuk penanganan lebih lanjut mengingat lokasi kebakaran merupakan kawasan gunung dan hutan yang rawan.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis senior yang telah meliput puluhan bencana alam di Indonesia, saya menilai insiden di Gunung Saukang ini bukan sekadar kecelakaan biasa—ini adalah bom waktu yang akhirnya meledak. Pertama, mari kita bicara soal manajemen pendakian. Bagaimana mungkin sebuah kawasan gunung yang menerima 337 pendaki dalam satu malam tidak memiliki sistem peringatan dini kebakaran yang memadai? Tidak ada detektor asap, tidak ada jalur evakuasi yang jelas, dan tidak ada prosedur standar operasional (SOP) kebakaran yang terlihat berjalan efektif. Ini menunjukkan lemahnya tata kelola destinasi wisata alam di tingkat daerah.
Kedua, soal respons darurat. Saya harus mengakui bahwa tim gabungan bergerak cepat—api muncul pukul 20.12, dan seluruh pendaki berhasil dievakuasi dalam waktu yang relatif singkat. Namun, fakta bahwa kendaraan pemadam tidak bisa mencapai lokasi dan harus menggunakan pompa punggung adalah cerminan nyata bahwa infrastruktur penanganan bencana di kawasan pegunungan Indonesia masih sangat primitif. Kita bicara tentang teknologi pemadaman modern, tapi di lapangan yang dipakai masih cara manual. Di era anggaran APBD yang terus membengkak, di mana sebenarnya anggaran mitigasi bencana dialokasikan?
Ketiga, yang paling mengkhawatirkan adalah pola kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kini mulai merambah kawasan pegunungan. Selama ini, publik hanya fokus pada Karhutla di lahan gambut Sumatera dan Kalimantan. Tapi Gunung Saukang membuktikan bahwa ancaman ini sudah menjalar ke mana-mana. Apakah ada kaitannya dengan perubahan iklim, musim kemarau yang lebih panjang, atau justru ulah manusia yang membuang puntung rokok sembarangan? Investigasi mendalam perlu dilakukan untuk menjawab ini. Jangan sampai kita hanya berhenti pada berita evakuasi tanpa menggali akar masalah.
Keempat, soal akuntabilitas pengelola. Saya mendesak pemerintah daerah Maros dan pihak pengelola Gunung Saukang untuk membuka secara transparan data registrasi pendaki, hasil investigasi penyebab kebakaran, dan langkah mitigasi ke depan. Jangan sampai insiden ini hanya jadi berita viral selama tiga hari lalu dilupakan. Kita butuh kebijakan konkret: pemasangan hidran di titik-titik strategis, patroli rutin di musim kemarau, dan yang paling penting—sanksi tegas bagi siapa pun yang terbukti menyebabkan kebakaran. Nyawa 68 pendaki yang nyaris melayang malam itu harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk tidak lagi abai terhadap keselamatan di ruang terbuka hijau.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa penyebab kebakaran di Gunung Saukang Maros?
A: Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses investigasi pihak berwenang. Tim Damkarmat Maros bersama Manggala Agni masih melakukan pendataan dan pemantauan di lokasi kejadian.
Q: Berapa jumlah pendaki yang dievakuasi saat kebakaran Gunung Saukang?
A: Sebanyak 68 pendaki yang terjebak di puncak berhasil dievakuasi dengan selamat oleh tim gabungan. Dari total 337 pendaki yang terdaftar, seluruhnya telah dikonfirmasi turun dari gunung.
Q: Apakah ada korban jiwa dalam kebakaran Gunung Saukang?
A: Tidak ada korban jiwa. Namun, tiga pendaki perempuan mengalami gangguan kesehatan—dua orang sesak napas dan satu orang keseleo—dan telah mendapat penanganan medis dari tim gabungan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Pramono Anung Pastikan DKI Ikuti Keputusan Pusat Soal Konser Andrea Bocelli 2026

Menekraf Percepat Aktivasi 80 Desa Kreatif dengan Fokus pada Talenta Akar Rumput

KemenPPPA Gelar Festival Anak Bermain di GBK untuk Kurangi Screen Time Anak
