Beras Subsidi Berganti Jadi 'Beras Kita' Berkemasan Biru, Zulhas: Simbol Kemenangan

Pemerintah resmi mengganti merek dan kemasan beras subsidi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi Beras Kita dengan warna dominan biru. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut warna tersebut sebagai 'simbol kemenangan' dan langsung menyetujui desain baru itu. Peluncuran perdana dijadwalkan pada 20 Oktober 2026, bertepatan dengan awal tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tanpa perubahan harga eceran tertinggi (HET) bagi masyarakat.
Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9). Selain pergantian nama, Bulog juga akan menghadirkan lini Beras Kita Premium, sementara jenis medium tetap dipertahankan dengan label 'SPHP' yang kini ditempatkan di bagian bawah kemasan dengan ukuran lebih kecil.
Mengapa 'Beras Kita' dan Mengapa Biru?
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa nama 'Beras Kita' mengikuti pola penamaan produk pangan pemerintah lainnya seperti Minyakita dan Gula Manis Kita. Kata 'Kita' merupakan akronim dari Keluarga Indonesia Sejahtera. Dengan demikian, 'Beras Kita Medium' secara harfiah berarti beras untuk keluarga sejahtera Indonesia.
Namun, yang menarik perhatian adalah pilihan warna biru yang diistilahkan Zulhas sebagai 'warna kemenangan'. Dalam sambutannya, ia mengaku langsung terpikat: "Bagus sekali warnanya ini. Warna kemenangan ini tuh, bagus sekali warnanya, jadi kita langsung setuju." Pernyataan ini tidak hanya sekadar estetika—di mata pelaku pasar, warna biru kerap diasosiasikan dengan stabilitas dan kepercayaan, namun juga memunculkan pertanyaan: apakah ini sekadar strategi rebranding atau ada pesan politik di balik momen peluncuran yang bersinggungan dengan hari jadi pemerintahan?
Strategi Bersaing di Pasar Ritel
Rizal menegaskan bahwa pembaruan kemasan bertujuan agar produk Bulog lebih eye-catching dan mampu bersaing dengan beras swasta yang selama ini mendominasi tampilan rak-rak ritel modern. "Dengan merubah kemasan ini lebih eye-catching dan lebih bisa bersaing dengan swasta. Dengan kita juga tetap meningkatkan dan menjaga mutu isi berasnya," ujarnya.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya Bulog untuk tidak hanya mengandalkan subsidi, tetapi juga membangun brand equity di tengah gempuran produk komersial. Namun, sebagai pengamat ekonomi, saya menilai bahwa perubahan kemasan tanpa peningkatan kualitas rasa atau daya tahan beras hanya akan menjadi kosmetik belaka. Bulog harus membuktikan bahwa mutu isi benar-benar ditingkatkan, bukan sekadar janji manis.
Transisi Bertahap, Stok Lama Tetap Dijual
Rizal memastikan bahwa beras SPHP kemasan lama—termasuk merek Befood dan Punokawan—tetap dapat diedarkan hingga stoknya habis. Peralihan akan dilakukan secara bertahap agar tidak terjadi pemborosan kemasan. "Enggak, tetap lanjut saja dihabiskan saja. SPHP medium juga nanti pas tanggal 20 Oktober baru launching yang ini. Pas launching juga tetap diedarkan yang lama," katanya.
Kebijakan ini bijak karena menghindari potensi kerugian logistik dan kebingungan konsumen. Namun, yang perlu diawasi adalah potensi dualisme merek di lapangan—apakah masyarakat akan bingung membedakan mana yang subsidi dan mana yang non-subsidi? Bulog perlu menggencarkan sosialisasi agar konsumen tetap mendapatkan haknya.
Harga Tetap, Harapan Baru
Yang pasti, harga beras subsidi tidak berubah. Rizal menegaskan: "Harga sama. Hanya kemasannya belum habis, yang lama tetap jalan saja, enggak ada masalah." Dengan HET yang tetap terjangkau, program ini diharapkan tetap menjadi jaring pengaman bagi masyarakat berpenghasilan rendah, terutama di tengah tekanan inflasi pangan yang masih menghantui.
Peluncuran pada 20 Oktober juga menarik untuk dicermati—apakah ini sekadar kebetulan atau bagian dari narasi pencitraan pemerintah menjelang akhir masa jabatan? Sebagai jurnalis senior, saya melihat ada simbolisme kuat di balik tanggal tersebut, namun publik lebih peduli pada ketersediaan stok dan kemudahan akses daripada warna kemasan. Warna biru boleh jadi 'kemenangan', namun kemenangan sesungguhnya adalah jika beras ini benar-benar sampai ke tangan rakyat yang membutuhkan tanpa hambatan distribusi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah Beras Kita dijual dengan harga yang sama dengan SPHP?
Ya, harga eceran tertinggi (HET) tetap sama seperti SPHP sebelumnya. Tidak ada kenaikan harga meskipun kemasan dan nama berubah.
Kapan Beras Kita mulai tersedia di pasaran?
Peluncuran resmi dijadwalkan pada 20 Oktober 2026. Namun, stok beras SPHP kemasan lama masih akan beredar hingga habis secara bertahap.
Apakah kualitas beras Beras Kita lebih baik dari SPHP?
Bulog berjanji akan meningkatkan mutu isi beras, tidak hanya mengubah kemasan. Namun, masyarakat diimbau untuk mengecek sendiri kualitasnya saat produk sudah beredar.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
