Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Banjir Bandang Terjang Nias Barat: 4 Kecamatan Tergenang, Akses Jalan Putus, Lahan Pertanian Hancur

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Banjir Bandang Terjang Nias Barat: 4 Kecamatan Tergenang, Akses Jalan Putus, Lahan Pertanian Hancur
BAGIKAN:

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Nias Barat sejak Minggu (6/9) memaksa Sungai Lahomi dan Sungai Moro'o meluap, merendam empat kecamatan dengan ketinggian air mencapai 100 sentimeter. Tidak ada korban jiwa, namun puluhan rumah terendam, lahan pertanian rusak, dan akses jalan utama di sejumlah titik terputus, menghambat mobilitas warga hingga Senin (7/9) siang.

Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengonfirmasi bahwa empat wilayah terdampak adalah Kecamatan Lahomi, Kecamatan Mandrehe, Mandrehe Barat, dan Sirombu. "Banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi, debit air sungai meluap dan menggenangi pemukiman serta lahan pertanian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (7/9).

Genangan hingga 1 Meter, Infrastruktur Terancam

Selain merendam rumah warga, banjir juga merusak sawah dan jaringan irigasi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. BPBD mencatat beberapa ruas jalan rusak, berpotensi memutus akses distribusi logistik dan aktivitas harian. "Akses jalan yang digunakan masyarakat di beberapa titik turut mengalami kerusakan. Ini bisa menghambat evakuasi dan pasokan bantuan," tambah Sri Wahyuni.

Menariknya, hingga Senin sore, BPBD belum mencatat adanya warga yang mengungsi, meski genangan masih merata di sejumlah desa. Sebagai jurnalis investigasi yang telah menyusuri banyak bencana di tanah air, saya menilai keputusan tidak mengungsi ini patut diwaspadai—bukan karena tidak ada risiko, melainkan karena infrastruktur penampungan dan jalur evakuasi di Nias Barat selama ini minim perhatian. Pemerintah daerah dan pusat seharusnya menjadikan banjir ini sebagai alarm untuk mengevaluasi sistem peringatan dini dan tanggap darurat, mengingat Nias Barat masuk zona rawan hidrometeorologi.

Koordinasi Darurat dan Imbauan Waspada

BPBD Kabupaten Nias Barat bersama tim provinsi terus melakukan asesmen dan survei lapangan, serta berkoordinasi dengan masyarakat untuk mendata kebutuhan mendesak. "Kami imbau warga di wilayah berpotensi terdampak tetap waspada, karena hujan intensitas tinggi masih bisa meningkatkan debit sungai dan memperluas genangan," papar Sri Wahyuni.

Dari data sementara, tidak ada laporan korban luka atau jiwa. Namun, kerusakan lahan pertanian dan akses jalan berpotensi memicu krisis pangan lokal dan menghambat mobilitas jika hujan berlanjut. Kami mendorong BPBD untuk segera memetakan titik rawan longsor susulan dan menyiapkan tempat evakuasi sementara, sebab musim hujan di Sumatera Utara biasanya berlangsung hingga akhir tahun.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apakah banjir di Nias Barat masih berlangsung?
Ya, hingga Senin (7/9) genangan masih terjadi di empat kecamatan, meskipun BPBD terus memantau dan melakukan penanganan.

2. Apa penyebab utama banjir besar ini?
Hujan dengan intensitas tinggi selama lebih dari 12 jam menyebabkan Sungai Lahomi dan Moro'o meluap, ditambah minimnya sistem drainase dan tanggul di sepanjang aliran sungai.

3. Bagaimana kondisi warga dan apa yang dilakukan pemerintah?
Belum ada pengungsi, namun rumah dan lahan pertanian rusak. BPBD setempat dan provinsi sedang melakukan asesmen, pendataan, dan koordinasi untuk bantuan darurat serta perbaikan infrastruktur jalan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸