Insentif 0% dan Tenor Panjang: Jurus Jitu Maka Motors Bikin Motor Listrik Laris di Kalangan Ojol dan Kurir

Ringkasan Singkat
- CEO Maka Motors, Raditya Wibowo, mendorong pemerintah beri insentif uang muka 0%, bunga rendah, dan tenor panjang untuk motor listrik.
- Kendala utama pembelian motor listrik oleh driver ojol dan kurir adalah besarnya DP dan tenor kredit yang pendek.
- Stimulus fiskal dinilai krusial untuk menarik pembeli ritel, di tengah program molinas yang masih berjalan.
Jakarta – Maka Motors kembali menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Tanah Air. Raditya Wibowo, CEO sekaligus founder, menegaskan bahwa insentif pembelian berupa uang muka 0%, suku bunga kredit yang lebih kompetitif, serta tenor pinjaman yang panjang merupakan elemen kunci yang bisa menjadi penopang utama pertumbuhan pasar motor listrik, khususnya untuk segmen pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik.
Menurut Raditya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa besarnya uang muka yang harus disetor di awal serta jangka waktu kredit yang singkat masih menjadi 'rem' terbesar bagi para mitra pengemudi. Mereka umumnya memiliki arus kas harian yang fluktuatif, sehingga skema pembiayaan yang fleksibel dan ringan sangat menentukan keputusan pembelian. Tanpa adanya intervensi dari sisi fiskal, target konversi massal ke motor listrik akan sulit tercapai, meskipun program molinas (motor listrik nasional) telah dicanangkan pemerintah.
Dalam dialog eksklusif bersama Bunga Cinka di program AutoBizz CNBC Indonesia, Raditya juga mengungkapkan bahwa produsen lokal siap memenuhi permintaan, asalkan ekosistem pendukung seperti stasiun penukaran baterai dan bengkel resmi juga turut diperkuat. Ia optimistis bahwa dengan paket insentif yang tepat, minat beli di segmen produktif—yang notabene paling aktif menggunakan kendaraan—akan melonjak drastis, menciptakan efek berganda bagi industri hilir dan lapangan kerja.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro yang mencermati kebijakan fiskal dan moneter, saya menilai usulan Raditya Wibowo bukan sekadar permintaan insentif biasa, melainkan diagnosis akurat atas kegagalan pasar yang selama ini menghambat transisi energi di sektor transportasi. Segmentasi pembeli motor listrik di Indonesia tidak homogen; pengemudi ojol dan kurir adalah kelompok dengan sensitivitas harga tertinggi dan akses kredit yang paling terbatas. DP 20–30% dan tenor maksimal 3 tahun yang berlaku umum untuk kredit kendaraan bermotor adalah beban berat, mengingat pendapatan harian mereka tidak selalu stabil dan sering kali harus dialokasikan untuk kebutuhan pokok.
Dari sudut pandang kebijakan publik, pemberian subsidi bunga atau penjaminan kredit oleh pemerintah justru lebih efektif daripada subsidi harga beli langsung. Mengapa? Karena subsidi harga cenderung dinikmati oleh produsen dan importir, sementara subsidi bunga menekan cicilan bulanan, yang sangat terasa oleh pengguna akhir. Selain itu, tenor panjang—misalnya hingga 5 tahun—akan menurunkan angsuran sehingga mendekati biaya operasional BBM harian, menciptakan kesetaraan biaya (total cost of ownership) yang lebih menarik. Ini adalah bentuk intervensi cerdas yang tidak membebani APBN secara signifikan, melainkan memanfaatkan likuiditas perbankan yang saat ini masih berlimpah.
Namun, saya juga mengingatkan bahwa insentif saja tidak cukup. Pemerintah harus memastikan ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan baterai swap yang merata, terutama di wilayah dengan konsentrasi ojol tinggi, seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan. Tanpa itu, insentif hanya akan menjadi jebakan: pengemudi membeli motor listrik, namun kesulitan mengisi daya sehingga produktivitas turun. Oleh karena itu, koordinasi antara Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, dan Kementerian Perhubungan menjadi mutlak. Saya juga menyoroti aspek keberlanjutan program—jangan sampai insentif bersifat temporer dan mencabut di tengah jalan, seperti yang terjadi pada subsidi mobil listrik di beberapa negara. Perlu ada peta jalan jangka panjang yang terukur, dengan target penetrasi tahunan dan evaluasi berkala.
Terakhir, saya melihat peluang besar bagi Maka Motors dan pemain lokal lain untuk tidak hanya menjadi perakit, tetapi juga mengembangkan rantai pasok baterai dan motor dalam negeri. Insentif pembelian seharusnya disertai dengan syarat kandungan lokal (TKDN) yang ketat, agar manfaat ekonomi dirasakan oleh industri dalam negeri, bukan sekadar mengimpor komponen. Dengan begitu, program ini akan menciptakan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan perawatan, sekaligus mengurangi defisit neraca migas. Ini adalah momentum emas bagi Indonesia untuk lompatan teknologi, asalkan kebijakan dirancang dengan visi jangka panjang dan eksekusi yang konsisten.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu insentif uang muka 0% untuk motor listrik dan bagaimana cara mendapatkannya?
A: Insentif uang muka 0% berarti pembeli tidak perlu menyetor DP sama sekali saat mengambil kredit motor listrik. Skema ini biasanya difasilitasi oleh pemerintah melalui subsidi bunga atau penjaminan kredit kepada lembaga pembiayaan, dan bisa didapatkan melalui dealer resmi yang bekerja sama dengan program pemerintah seperti molinas, dengan syarat memenuhi kriteria pembeli (misalnya terdaftar sebagai driver ojol). - Q: Apakah motor listrik benar-benar lebih hemat untuk operasional ojol dan kurir dibanding motor BBM?
A: Secara total biaya pemilikan (TCO), motor listrik jauh lebih hemat karena biaya per kilometer listrik hanya sekitar 30–50% dari biaya BBM. Namun, kehematan ini baru terasa jika skema kredit meringankan beban awal. Dengan insentif 0% DP dan tenor panjang, biaya bulanan bisa di bawah biaya BBM, sehingga sangat menguntungkan untuk pengemudi dengan jarak tempuh tinggi. - Q: Kapan program insentif motor listrik untuk ojol mulai berlaku dan berapa lama durasinya?
A: Hingga saat ini (September 2026), pemerintah masih dalam tahap finalisasi regulasi teknis. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa insentif akan mulai berlaku pada kuartal IV 2026 dengan durasi awal 1 tahun, yang dapat diperpanjang berdasarkan evaluasi kinerja. Pemangku kepentingan seperti Maka Motors mendesak agar program bersifat berkelanjutan dan tidak terputus agar efektif mendorong konversi massal.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
