Dari Rp45 Ribu Setahun Kini Jadi Konglomerat: CT Ungkap Resep Sukses di Tengah Keterbatasan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Chairul Tanjung (CT) mengungkap masa sulit saat kuliah di UI dengan uang saku Rp45 ribu per tahun dari hasil gadai kain.
- Ia memulai bisnis dengan menjual buku praktikum, mengambil selisih harga dari fotokopi, lalu melebarkan usaha ke kaos, tas, stiker, dan mesin fotokopi di kampus.
- Pesan utamanya: kesuksesan tidak instan, butuh perjuangan dan mengubah pola pikir untuk mencari peluang.
Jakarta – Di hadapan ratusan generasi muda dalam Lampung Financial Festival 2026, Chairul Tanjung atau akrab disapa CT membuka lembaran kelam masa lalunya. Pendiri dan pemilik CT Corp itu menceritakan bagaimana ia memulai perjuangan dari titik terendah, jauh sebelum namanya melegenda sebagai salah satu pengusaha terkaya Indonesia.
Dalam sesi Inspirational Talks yang berlangsung di Novotel Bandar Lampung, Sabtu (5/9), CT mengungkapkan bahwa uang saku yang diterimanya saat awal kuliah di Universitas Indonesia hanya Rp45 ribu untuk satu tahun. Jumlah itu pun berasal dari hasil gadai kain milik keluarganya. "Sukses bukan sesuatu yang mudah, semua harus diperjuangkan. Tidak seperti membalik telapak tangan, diperjuangkan dengan susah payah," ujarnya dengan nada tegas.
Momen paling menyentuh adalah ketika CT mengetahui asal-usul uang sakunya. "Akhirnya saya tahu, akhirnya saya ubah pola pikir saya," kenangnya. Sejak saat itu, ia bertekad tidak lagi meminta uang kepada orang tua dan mulai memutar otak mencari pemasukan. Langkah pertamanya adalah menjual buku praktikum mahasiswa dengan cara kerja sama dengan teman yang memiliki percetakan kecil. Biaya fotokopi per lembar saat itu Rp500, namun temannya hanya mengambil untung Rp150 per buku. CT lalu menjualnya seharga Rp300 di kampus dan laris manis.
Keberhasilan kecil itu membakar semangatnya. Ia terus menggali peluang lain, mulai dari menjual kaos, tas, stiker, hingga akhirnya membawa mesin fotokopi ke dalam kampus karena lokasi fotokopi yang jauh. "Saya cari tukang mesin fotokopi, bagi hasil, tiap pulang saya cek, terus berkembang hingga sampai hari ini," tuturnya. Dari situ, CT membuktikan bahwa dengan kemauan dan tekad kuat, hambatan bisa diubah menjadi batu loncatan.
Analisis Pakar
Kisah Chairul Tanjung bukan sekadar nostalgia, melainkan cermin dari realitas ekonomi kreatif yang relevan hingga kini. Di tengah gemerlap startup dan digitalisasi, pelajaran mendasar dari CT adalah kemampuan membaca celah pasar dengan sumber daya minimal. Ia tidak menunggu modal besar, melainkan memanfaatkan asimetri informasi — harga fotokopi di luar kampus vs di dalam — dan mengubahnya menjadi keuntungan. Ini adalah esensi dari kewirausahaan sejati, yang sayangnya sering dilupakan oleh generasi muda yang tergiur dengan pendanaan instan.
Dari sudut makro, langkah CT mencerminkan bagaimana sektor informal dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Ia memulai dari skala mikro, tetapi dengan pola pikir skalabel — setiap usaha kecil dikelola dengan disiplin, dicatat, dan dikembangkan. Hal ini sejalan dengan data Bank Indonesia bahwa 97% lapangan kerja di Indonesia diserap oleh UMKM. Namun, yang membedakan CT adalah kemampuannya beradaptasi: dari fotokopi ke kaos, dari kaos ke mesin fotokopi, ia tidak pernah berhenti bereksperimen. Sikap anti-mandeg inilah yang harus ditiru, bukan sekadar cerita suksesnya.
Kritik saya, narasi "perjuangan susah payah" sering digunakan sebagai pembenaran eksploitasi tenaga kerja atau romantisme kemiskinan. Namun dalam kasus CT, ia justru menunjukkan etos kerja yang berimbang — ia tidak mengeksploitasi temannya, tetapi menciptakan win-win solution. Ini penting dicatat: kesuksesan tidak harus dibangun di atas penderitaan orang lain. Ia juga mengajarkan literasi keuangan dasar: uang saku yang kecil memaksanya untuk menghitung setiap pengeluaran dan pendapatan, sesuatu yang sangat kurang dalam pendidikan formal kita.
Ke depannya, cerita CT harus menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa ekosistem kewirausahaan perlu dibangun sejak dini, bukan hanya di bangku kuliah tetapi juga di tingkat sekolah menengah. Akses ke permodalan, pelatihan, dan jaringan seperti yang disediakan dalam Lampung Financial Festival adalah langkah positif. Namun, yang lebih penting adalah menanamkan mentalitas pantang menyerah dan kreativitas dalam memecahkan masalah — dua hal yang tidak bisa diajarkan oleh teori, melainkan oleh praktik dan keteladanan tokoh seperti CT.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa uang saku Chairul Tanjung saat kuliah di UI?
A: Rp45 ribu untuk satu tahun, yang berasal dari hasil gadai kain keluarganya karena kondisi ekonomi yang sulit. - Q: Bisnis apa yang pertama kali dijalankan CT di masa kuliah?
A: Ia menjual buku praktikum mahasiswa dengan mengambil selisih harga dari jasa fotokopi, kemudian berkembang ke kaos, tas, stiker, dan mesin fotokopi di kampus. - Q: Apa pesan utama CT dalam Lampung Financial Festival 2026?
A: Kesuksesan tidak instan dan harus diperjuangkan dengan kerja keras, serta pentingnya mengubah pola pikir dari mengeluh menjadi mencari peluang usaha.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
