Trump Kembali Guncang Pasar Minyak: Usul Ganti Nama Selat Hormuz Jadi 'Selat Trump', Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Ringkasan Singkat
- Presiden AS Donald Trump mengusulkan penggantian nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" melalui unggahan di Truth Social, di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
- Klaim AS menguasai jalur perairan strategis ini menuai kritik tajam dari Senator Bernie Sanders, yang menyebut perang dengan Iran ilegal dan memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri.
- Usulan ini bukan yang pertama—sebelumnya Trump juga mendorong perubahan nama Teluk Meksiko dan Danau Ontario—dan berpotensi menambah ketidakpastian geopolitik yang mempengaruhi harga minyak global.
Jakarta, CNBC Indonesia—Lagi-lagi Donald Trump membuat kejutan di tengah perang terbuka dengan Iran. Dalam unggahan di platform Truth Social, Presiden ke-47 AS itu mengusulkan agar Selat Hormuz—salah satu titik tersibuk jalur perdagangan minyak dunia—diubah namanya menjadi "Selat Trump". Alasan: AS disebutnya telah mengambil alih kendali penuh atas kawasan tersebut.
"Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika sendiri, wilayah itu akan menjadi 'lebih panas' dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini. Presiden DONALD J. TRUMP," tulisnya, Jumat (4/9/2026).
Namun saat ditanya wartawan di Gedung Putih, Rabu lalu, Trump mengakui gagasan itu baru sekadar "dilontarkan". Ini bukan pertama kalinya ia mengusulkan hal serupa. Beberapa hari sebelumnya, ia memerintahkan lembaga federal menggunakan nama "Danau Amerika" untuk menggantikan Danau Ontario, menyusul langkah kontroversial mengganti Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika".
Kritik keras datang dari Senator independen Bernie Sanders (Vermont). Dalam unggahan di X, Sanders menyebut perang dengan Iran "ilegal" dan menuding konflik tersebut sebagai biang keladi lonjakan harga bahan bakar—solar mencapai US$5,69 per galon dan bensin US$4,12 per galon. "Anda adalah Presiden, bukan raja gila. Bertindaklah seperti itu," sindir Sanders.
Usulan penggantian nama Selat Hormuz sebenarnya muncul awal tahun ini, ketika Trump membagikan peta di Truth Social dengan label "Selat Trump". Kini, ia mengulangi narasi yang sama, kali ini dengan nada lebih serius meski masih bersifat retorika.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat usulan Trump bukan sekadar lelucon presidensial. Selat Hormuz adalah chokepoint strategis yang mengaliri sekitar 20% minyak mentah global. Setiap guncangan di kawasan ini—baik berupa konflik bersenjata maupun pernyataan provokatif—langsung diterjemahkan pasar sebagai risk premium. Harga minyak Brent dan WTI sudah mulai bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir, dan retorika Trump justru menambah volatilitas yang tidak diperlukan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pola perubahan nama geografis yang menjadi semacam "senjata lunak" administrasi Trump. Mengganti nama Teluk Meksiko, Danau Ontario, dan kini Selat Hormuz, menandakan upaya sistematis untuk menegaskan dominasi AS secara simbolis di tengah menurunnya pengaruh diplomatik. Namun di dunia nyata, klaim "menguasai" Selat Hormuz tidak berdasar—perairan tersebut berada di bawah yurisdiksi Iran dan Oman, dengan AS hanya memiliki kehadiran militer terbatas. Retorika ini berisiko memicu reaksi keras dari Tehran, yang dapat memperlebar konflik dan mengganggu rantai pasok energi.
Bagi Indonesia, dampaknya sangat nyata. Kita adalah net importir minyak dengan konsumsi BBM yang masih bergantung pada impor. Setiap kenaikan harga minyak global akan menekan rupiah, membengkakkan subsidi energi, dan akhirnya mendorong inflasi. BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunga lebih awal, yang dapat memperlambat pemulihan ekonomi domestik. Para pelaku bisnis, khususnya di sektor logistik dan manufaktur, harus segera menyusun skenario mitigasi—mulai dari hedging harga hingga diversifikasi pemasok.
Yang lebih parah, kebijakan semacam ini tidak pernah diiringi dengan strategi keluar yang jelas. Trump bermain dengan api geopolitik tanpa memikirkan efek domino pada ekonomi global. Saya mengingatkan bahwa stabilitas Selat Hormuz adalah kepentingan bersama, bukan hanya AS. Mengganti nama tidak akan mengubah realitas bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk menutup selat tersebut jika terdesak. Alih-alih mencari solusi diplomasi, Trump justru menambah daftar keluhan dunia internasional. Pasar uang dan komoditas akan terus waspada—dan itu semua adalah biaya ekonomi yang harus ditanggung konsumen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa dampak perubahan nama Selat Hormuz terhadap harga minyak dunia?
A: Secara langsung, pergantian nama tidak mempengaruhi produksi atau distribusi. Namun eskalasi retorika dan ketegangan yang menyertainya meningkatkan risk premium, sehingga harga minyak berpotensi naik dalam jangka pendek. Pasar lebih merespons ancaman nyata terhadap keamanan alur pelayaran.
Q: Apakah Amerika Serikat benar-benar menguasai Selat Hormuz?
A: Tidak. Selat Hormuz adalah perairan internasional yang diapit Iran dan Oman. AS memiliki kehadiran angkatan laut, tetapi tidak memiliki kendali kedaulatan atau hak eksklusif atas jalur tersebut. Klaim Trump lebih bersifat politis dan tidak sesuai fakta hukum laut internasional.
Q: Bagaimana sikap Indonesia terhadap usulan ini dan potensi dampaknya pada perekonomian nasional?
A: Pemerintah Indonesia kemungkinan akan menyuarakan pentingnya stabilitas kawasan, mengingat ketergantungan kita pada impor minyak. Dampak ekonominya bisa berupa tekanan pada nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM domestik, dan inflasi. Pelaku usaha disarankan memantau perkembangan dan menyiapkan strategi lindung nilai.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
