Telkom di Bawah Danantara: Transformasi atau Konsolidasi? Ini Progresnya

Ringkasan Singkat
- Telkom tengah menjalankan transformasi dan konsolidasi strategis di bawah naungan Danantara untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama ekosistem digital Indonesia.
- CEO BPI Danantara, Dony Oskaria, memaparkan progres terkini dalam dialog khusus yang disiarkan CNBC Indonesia, menekankan sinergi dan efisiensi.
- Langkah ini diharapkan mendorong pertumbuhan jangka panjang, namun tantangan regulasi dan integrasi tetap menjadi ujian utama.
Jakarta, CNBC Indonesia – Transformasi dan konsolidasi menjadi dua kata kunci yang terus bergema di tubuh Telkom sepanjang 2026. Di bawah kepemimpinan Danantara, BUMN telekomunikasi pelat merah ini tidak hanya berbenah secara internal, tetapi juga menyiapkan peta jalan baru untuk menghadapi persaingan digital yang kian ketat. Progres terkini dari agenda besar ini diungkap secara eksklusif oleh CEO BPI Danantara, Dony Oskaria, dalam segmen khusus Danantara BUMN Progress Update 2026 yang tayang di CNBC Indonesia, berdialog dengan jurnalis senior Andi Shalini.
Dalam sesi tersebut, Dony Oskaria menegaskan bahwa transformasi bukan sekadar pergantian struktur, melainkan perubahan fundamental dalam cara ekosistem digital dikelola. Konsolidasi yang tengah disiapkan mencakup optimalisasi aset, efisiensi biaya operasional, dan penguatan kolaborasi antar anak usaha. Telkom, yang selama ini dikenal sebagai raksasa telekomunikasi, kini berambisi menjadi tulang punggung infrastruktur digital nasional—dari data center, cloud, hingga kecerdasan buatan. Namun, realisasi ambisi ini membutuhkan waktu dan eksekusi yang tepat, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang masih tidak menentu.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat ekonomi makro dan keuangan, saya melihat langkah Telkom di bawah Danantara ini sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah serius mendorong BUMN untuk tidak hanya survive, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan digital. Transformasi yang digembar-gemborkan sejatinya adalah jawaban atas tantangan disrupsi yang sudah mulai menggerus pendapatan tradisional dari layanan telepon dan SMS. Kini, Telkom harus bertarung di arena cloud, big data, dan konektivitas berbasis 5G—arena yang dimonopoli oleh pemain global seperti AWS dan Google. Konsolidasi menjadi instrumen ampuh untuk menghilangkan tumpang tindih bisnis, menekan biaya, dan menciptakan nilai tambah dari sinergi antar entitas di bawah Danantara.
Namun, saya menyoroti beberapa celah kritis. Pertama, sejauh mana konsolidasi ini tidak mengorbankan inovasi? Terlalu fokus pada efisiensi sering kali membuat organisasi kehilangan kelincahan. Kedua, sumber daya manusia—apakah Telkom memiliki talenta digital yang cukup untuk mengakselerasi transformasi? Rekrutmen dan pelatihan massal harus menjadi prioritas, bukan sekadar angka di laporan tahunan. Ketiga, regulasi. Di Indonesia, birokrasi dan kebijakan yang berubah-ubah bisa menjadi penghambat serius. Danantara sebagai induk holding harus mampu menjadi pelindung, bukan penambah beban birokrasi, bagi Telkom dan BUMN lainnya.
Dari sisi makro, keberhasilan Telkom akan berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi digital nasional. Setiap peningkatan kapasitas infrastruktur digital berpotensi mendongkrak produktivitas UMKM, memperlancar logistik, dan membuka akses pendidikan serta layanan kesehatan di daerah terpencil. Namun, semua itu baru akan terasa jika transformasi tidak hanya berhenti di tataran korporasi, melainkan benar-benar membawa dampak nyata ke masyarakat. Saya menunggu roadmap yang lebih konkret dan terukur, bukan sekadar pernyataan optimistis. Jika Danantara dan Telkom mampu membuktikan eksekusi yang tajam, maka ini akan menjadi studi kasus sukses bagi BUMN lain. Jika tidak, maka kita hanya akan melihat perombakan struktural tanpa makna.
Terakhir, saya mengingatkan bahwa pasar dan investor akan mencermati kinerja keuangan Telkom dalam dua kuartal ke depan. Konsolidasi sering kali membawa biaya jangka pendek—seperti pesangon, restrukturisasi utang, dan write-off aset—yang bisa menekan laba. Namun, jika manajemen mampu mengomunikasikan strategi dengan transparan dan menunjukkan early wins, kepercayaan pasar akan pulih. Dony Oskaria dan timnya harus bergerak cepat, namun tetap hati-hati, karena dunia digital tidak memberi ruang untuk kesalahan besar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu Danantara dan bagaimana kaitannya dengan Telkom?
A: Danantara adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) yang bertindak sebagai holding induk bagi sejumlah BUMN strategis, termasuk Telkom. Danantara bertugas mengoordinasikan transformasi, konsolidasi, dan pengawasan investasi untuk meningkatkan nilai perusahaan dan sinergi antar BUMN. - Q: Apa target utama transformasi Telkom di bawah Danantara?
A: Target utamanya adalah menjadikan Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia dengan fokus pada layanan cloud, data center, konektivitas 5G, dan kecerdasan buatan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas melalui konsolidasi aset dan anak usaha. - Q: Kapan hasil konsolidasi Telkom dapat dirasakan oleh publik dan investor?
A: Dampak awal berupa efisiensi biaya dan sinergi diperkirakan mulai terlihat pada laporan keuangan semester II-2026, sementara transformasi digital yang menyentuh layanan pelanggan akan bertahap hingga 2027. Investor disarankan memantau kinerja kuartalan dan pengumuman roadmap resmi dari Danantara.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

GOTO Rekor Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, GoPay jadi Penopang Utama

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi
