Survei ARCI: Gerindra Kokoh di Puncak, Demokrat Tunjukkan Tren Positif, PPP Terancam Gagal ke Senayan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Gerindra masih memimpin elektabilitas partai di Jawa Timur dengan 16,3 persen, disusul PKB (15,1%), PDIP (13,7%), Golkar dan Demokrat yang sama-sama 12,5%.
- Demokrat mencatat kenaikan signifikan berkat perombakan pengurus dan coattail effect dari Ketua Umum AHY serta Ketua DPD Jatim Emil Dardak.
- PPP justru anjlok ke titik terendah sepanjang survei ARCI, hanya bertahan di Madura; kondisi ini menjadi alarm bagi target partai kembali ke Senayan pada 2029.
Lembaga survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) merilis temuan terbaru mengenai peta elektoral partai politik di Jawa Timur periode Agustus 2026. Dalam riset yang digelar 18–28 Agustus lalu, Gerindra kembali bertengger di urutan pertama dengan angka 16,3 persen. Di belakangnya, PKB meraih 15,1 persen, PDI Perjuangan 13,7 persen, sementara Golkar dan Demokrat berbagi posisi dengan masing-masing 12,5 persen.
Peneliti ARCI, Baihaki Sirajt, memaparkan bahwa Gerindra konsisten memimpin sejak akhir 2025. Faktor utamanya adalah keaktifan para legislator partai dalam menyerap aspirasi masyarakat serta banyaknya kepala daerah dari Gerindra di Jatim. “Top of mind warga terhadap partai presiden juga sangat tinggi,” ujar Baihaki di Surabaya, Jumat (4/9). Namun ia menambahkan, angka tersebut dinilai belum optimal dan masih bisa ditingkatkan melalui pendekatan kerakyatan.
Di sisi lain, survei menunjukkan PKB cenderung stagnan, sementara Golkar justru menurun sejak akhir tahun lalu. Tren kenaikan justru terlihat pada Demokrat. Baihaki mengaitkan hal itu dengan perombakan struktur DPD Jawa Timur yang dipimpin Emil Elestianto Dardak selama setahun terakhir, serta coattail effect dari Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono yang dinilai sebagai salah satu menteri berkinerja terbaik. “Elektoral terhadap Emil Dardak juga meningkat, dan makin banyak warga yang tahu bahwa beliau adalah Ketua Demokrat Jatim,” jelas Baihaki.
Namun, yang paling mencolok adalah terjun bebasnya elektabilitas PPP. Partai berlambang Ka'bah itu hanya meraih 1,5 persen, terendah sepanjang sejarah survei ARCI. “Hampir di semua wilayah PPP anjlok, kecuali Madura yang masih bisa masuk lima besar. Ini alarm berbahaya karena Jatim adalah lumbung suara PPP,” tegas Baihaki. Ketidakpopuleran tokoh PPP di Jatim, kecuali di Madura yang memiliki figur mengakar, dinilai sebagai biang kerok.
Survei ini melibatkan 1.200 responden di 38 kabupaten/kota dengan metode Stratified Multistage Random Sampling, margin of error 2,8 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen. ARCI sendiri tercatat sebagai lembaga yang terdaftar di KPU dan memenuhi ketentuan PKPU Nomor 9 Tahun 2022. Meski demikian, sebagai jurnalis investigasi, saya tak bisa sekadar menerima angka-angka ini tanpa telaah kritis.
Analisis Pakar
Mari kita baca hasil survei ini dengan kacamata awas. Pertama, walaupun ARCI terdaftar secara resmi, publik perlu mempertanyakan transparansi metodologi—siapa pembiaya survei, bagaimana distribusi sampel di tiap kabupaten, dan apakah ada intervensi kepentingan politik tertentu. Angka 16,3 persen untuk Gerindra memang impresif, namun perlu diingat bahwa efek “presidential coattail” sering kali membesar pada masa tenang, dan bisa melorot jika kebijakan pemerintah mulai menuai kontroversi. Kenaikan Demokrat patut dicermati: apakah benar karena kinerja AHY dan Emil, atau karena pemberitaan media yang intens selama setahun terakhir? Jangan lupa, survei adalah potret sesaat—responden cenderung menjawab berdasarkan popularitas nama, bukan program partai.
Kedua, stagnasi PKB dan penurunan Golkar menunjukkan bahwa basis tradisional kedua partai itu mulai tergerus. PKB yang selama ini dianggap sebagai “rumah” warga Nahdliyin di Jatim ternyata tidak mampu mengonversi dukungan kultural menjadi suara survei. Sementara Golkar, yang selalu mengandalkan mesin birokrasi, mulai kehilangan magnet di tengah gempuran partai-partai yang lebih agresif di lini bawah. Ini peringatan dini bagi kedua partai untuk tidak bersandar pada nama besar masa lalu.
Ketiga, kasus PPP adalah pelajaran pahit tentang bagaimana partai yang kehilangan kader-kader populer dan tidak melakukan regenerasi akan ditinggalkan pemilih. Jatim selama ini adalah lumbung PPP, tetapi jika hanya Madura yang masih setia, maka target lolos parliamentary threshold 4 persen nasional menjadi mimpi. Saya menduga ada faktor internal—perpecahan elit dan gagalnya partai merawat tokoh-tokoh lokal—yang lebih parah daripada sekadar ketidakpopuleran. Survei ini harus menjadi cambuk bagi PPP untuk segera melakukan konsolidasi serius, bukan hanya sekadar mengganti logo atau jargon.
Terakhir, saya mengingatkan bahwa angka elektabilitas tidak identik dengan suara riil di bilik suara. Banyak faktor—seperti mesin partai, logistik, hingga isu sentimen agama dan lokalitas—yang akan bermain pada pemilu 2029. Masyarakat juga harus cerdas: jangan terjebak pada survei yang bisa dipoles untuk membangun opini. Sebagai wartawan, saya mendorong agar setiap lembaga survei mengungkapkan secara terbuka semua data mentah dan alokasi dana, agar rakyat bisa menilai sendiri kredibilitasnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apakah survei ARCI bisa dijadikan acuan untuk prediksi Pemilu 2029?
A: Survei ARCI memberikan gambaran sementara dengan margin of error 2,8%, namun bukan prediksi pasti. Hasilnya perlu dikonfirmasi dengan survei-survei lain dan dinamika politik yang terus berubah hingga hari pencoblosan.
Q: Mengapa elektabilitas Demokrat naik signifikan di Jatim?
A: Kenaikan Demokrat dipengaruhi oleh perombakan pengurus DPD di bawah kepemimpinan Emil Dardak, serta efek ekor jas dari AHY sebagai menteri berkinerja baik. Namun, kenaikan ini juga bisa dipicu oleh peningkatan eksposur media dan kampanye teritorial yang agresif.
Q: Apa dampak terburuk jika PPP terus menurun elektabilitasnya?
A: Jika tren ini berlanjut, PPP berpotensi gagal meraih kursi DPR pada 2029, terutama karena kehilangan basis suara di Jawa Timur yang selama ini menjadi penyumbang utama. Partai ini harus segera melakukan regenerasi dan mencari tokoh alternatif di luar Madura untuk bertahan.
BERITA TERKAIT (Politik)

MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Elite Politik Tuntut Penegasan Status Wapres

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
