⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Produksi Beras RI Naik Tipis 0,12% di Awal 2026, tapi Waspada El Nino Mengintai

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Produksi Beras RI Naik Tipis 0,12% di Awal 2026, tapi Waspada El Nino Mengintai
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Produksi beras nasional Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton, naik tipis 0,12% dibanding periode sama 2025.
  • Kenaikan didorong oleh luas panen yang bertambah 0,43% menjadi 4,51 juta hektare, serta produksi padi yang ikut naik 0,12%.
  • Pemerintah mengandalkan pompanisasi dan benih tahan kekeringan untuk mitigasi El Nino, dengan target meningkatkan indeks pertanaman dari 2 menjadi 3 kali setahun.

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional pada Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton. Angka tetap BPS menunjukkan kenaikan 16.810 ton atau 0,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 14,01 juta ton. Pertumbuhan yang tipis ini sejalan dengan peningkatan produksi padi di tingkat hulu, yang menjadi indikator awal ketahanan pangan nasional.

Pada periode yang sama, produksi padi tercatat 24,36 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 28.765 ton atau 0,12% dibanding Januari-April 2025. BPS juga melaporkan luas panen padi mencapai 4,51 juta hektare, bertambah 19.182 hektare atau 0,43% dari 4,49 juta hektare pada tahun lalu. Angka tetap ini menegaskan bahwa pertumbuhan produksi beras pada awal 2026 masih ditopang oleh ekspansi lahan panen, meski dengan laju yang relatif lambat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah akan terus menjaga momentum produksi dengan memastikan petani mendapat dukungan, terutama menghadapi musim kemarau dan potensi El Niño. “Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Amran dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026).

Berdasarkan rincian BPS, produksi beras Januari 2026 sebesar 1,73 juta ton, lalu melonjak ke 2,88 juta ton pada Februari, puncaknya 5,02 juta ton di Maret, dan 4,40 juta ton di April. Pola yang sama terlihat pada produksi padi: 3,01 juta ton GKG (Jan), 5,01 juta ton (Feb), 8,71 juta ton (Mar), dan 7,63 juta ton (Apr). Secara kumulatif, produksi padi Januari-April 2026 mencapai 24,36 juta ton GKG, naik tipis 28.765 ton dibanding 2025.

Capaian ini menjadi modal penting, namun tantangan nyata ada di depan. Pemerintah melalui Kementan telah menyiapkan 56 ribu unit pompa air sebagai langkah mitigasi kekeringan, ditambah penguatan irigasi, optimalisasi embung, percepatan tanam, dan penggunaan varietas padi adaptif kekeringan. Amran menyebut pengalaman El Niño 2015 dan 2023 menjadi bekal antisipasi dini. “Sekarang El Niño dampaknya insyaallah kita mitigasi karena kita sudah persiapan jauh sebelumnya. Satu, pompanisasi. Dua, irigasi. Tiga, kita tingkatkan produksi. Kemudian ada benih yang tahan kekeringan,” ujarnya.

Optimasi sumber air juga diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman, dari dua kali setahun menjadi tiga kali tanam. Langkah ini diharapkan mampu mendorong produksi tambahan, mengingat pada periode sebelumnya 100 ribu unit pompa berhasil menambah sekitar 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa.

Analisis Pakar

Secara matematis, pertumbuhan 0,12% adalah angka yang hampir stagnan. Dalam konteks ekonomi makro, laju produksi beras yang hanya tumbuh tipis di tengah luas panen yang bertambah 0,43% mengindikasikan adanya penurunan produktivitas per hektare. Ini sinyal yang perlu dicermati: apakah penurunan itu akibat cuaca ekstrem, serangan hama, atau menurunnya kualitas benih? Data BPS tidak mengurai faktor-faktor tersebut, namun sebagai pakar ekonomi, saya melihat bahwa ketergantungan pada perluasan lahan tanpa diimbangi peningkatan hasil per satuan luas bukanlah strategi berkelanjutan.

Kebijakan pompanisasi yang digembar-gemborkan memang terdengar solutif, namun perlu diingat bahwa pompa air membutuhkan energi dan biaya operasional yang tidak sedikit. Jika harga BBM atau listrik naik, beban petani justru bertambah. Saya menilai pemerintah perlu transparan mengenai anggaran subsidi pompa dan mekanisme pembagiannya agar tepat sasaran. Selain itu, varietas benih tahan kekeringan harus diuji coba secara masif di berbagai agroekosistem, jangan hanya menjadi jargon politik tanpa data lapangan yang valid.

Yang lebih menarik adalah target meningkatkan indeks pertanaman dari 2 menjadi 3 kali setahun. Ini ambisius, tapi realitasnya air adalah kendala utama. Optimalisasi embung dan perpipaan memang baik, namun infrastruktur irigasi di Indonesia masih banyak yang rusak dan tidak terawat. Saya khawatir upaya ini hanya bersifat reaktif, bukan preventif. Pemerintah seharusnya sudah memetakan daerah rawan kekeringan sejak awal tahun dan menyusun rencana kontingensi yang lebih detail, termasuk asuransi pertanian bagi petani jika gagal panen.

Dari sisi makro, ketahanan pangan adalah isu strategis yang memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Kenaikan produksi yang tipis ini tidak cukup untuk menekan harga beras jika terjadi gangguan distribusi atau permintaan yang melonjak menjelang Ramadan dan Lebaran tahun depan. Saya berharap pemerintah tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada sistem logistik dan cadangan beras nasional. BPS perlu menyediakan data yang lebih granular—misalnya produksi per provinsi—agar kebijakan bisa lebih terukur. Pertumbuhan 0,12% adalah peringatan halus bahwa sektor pertanian kita masih berada di jalur yang rapuh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total produksi beras Indonesia pada Januari-April 2026?
    A: Produksi beras mencapai 14,03 juta ton, naik 0,12% dibanding periode sama 2025.
  • Q: Apa penyebab kenaikan produksi beras di awal 2026?
    A: Kenaikan didorong oleh luas panen yang bertambah 0,43% menjadi 4,51 juta hektare, serta peningkatan produksi padi sebesar 0,12%.
  • Q: Bagaimana pemerintah mengantisipasi dampak El Niño terhadap produksi beras?
    A: Pemerintah menyiapkan 56 ribu unit pompa air, memperbaiki irigasi, menggunakan benih tahan kekeringan, dan meningkatkan indeks pertanaman dari 2 menjadi 3 kali setahun.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸