Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Asap Karhutla Masih Pekat di Kalbar, Menteri Kehutanan Peringatkan Kondisi Tak Baik-baik Saja

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Asap Karhutla Masih Pekat di Kalbar, Menteri Kehutanan Peringatkan Kondisi Tak Baik-baik Saja
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengakui asap kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kalbar meski jumlah hotspot turun.
  • Data Sipongi mencatat penurunan titik panas pada 2 September, namun asap tetap bertahan karena api padam tidak terdeteksi sebagai hotspot.
  • Pemerintah fokus pada pendinginan lahan secara masif, melibatkan Manggala Agni, TNI-Polri, dan BPBD untuk mengatasi dampak asap.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat masih memprihatinkan. Meskipun jumlah titik panas atau hotspot di provinsi tersebut menunjukkan penurunan, kabut asap yang dihasilkan justru masih menyelimuti wilayah itu secara luas.

Pernyataan itu disampaikan Raja Juli usai meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, pada Kamis (3/9). Dalam keterangan persnya keesokan harinya, ia menegaskan bahwa penurunan angka hotspot tidak serta-merta mengakhiri persoalan asap. "Saya ingin mengatakan bahwa kondisi Kalbar sedang tidak baik-baik saja. Angka, sekali lagi angkanya menurun, angka hotspot-nya menurun ketimbang hari lalu, tapi asapnya sangat, sangat, sangat tidak baik," ujarnya.

Berdasarkan data Sipongi milik Kementerian Kehutanan, fluktuasi hotspot cukup drastis. Pada 31 Agustus tercatat 272 titik, melonjak menjadi 859 pada 1 September, lalu kembali turun ke angka 268 pada 2 September. Namun, Menhut menjelaskan bahwa sistem Sipongi hanya membaca api yang masih menyala, sementara api yang sudah padam tidak terdeteksi, padahal asapnya masih dapat bertahan berhari-hari. "Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat sendiri, tidak lagi ada hotspot di sini tapi ini asapnya terus eksis," tuturnya.

Raja Juli juga menyoroti kualitas udara di Pontianak yang hingga kini masih berasap. Karena itu, selain memastikan penurunan hotspot, penanganan darurat harus diikuti dengan upaya pendinginan lahan secara masif. "Teman-teman Manggala Agni, Kemenhut, TNI-Polri, BPBD semua ya, sedang berjibaku untuk memastikan supaya tadi hotspot-nya bisa turun. Namun saat bersamaan harus ada gerakan yang masif untuk melakukan pendinginan. Ini sekarang nih lagi dilakukan pendinginan," imbuhnya.

Kondisi ini mengingatkan kembali pada darurat asap lintas tahun yang kerap melanda Kalbar dan wilayah Sumatra. Meski data menunjukkan tren penurunan, dampak kesehatan dan aktivitas warga tetap terganggu. Pemerintah daerah pun diharapkan tidak hanya mengandalkan data satelit, tetapi juga melakukan pemantauan lapangan dan sosialisasi pencegahan karhutla secara berkelanjutan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun meliput bencana asap di Indonesia, saya melihat pernyataan Menteri Raja Juli Antoni ini adalah pengakuan jujur yang jarang muncul dari pejabat publik. Selama ini kita terbiasa dengan narasi optimistis yang hanya menyoroti penurunan angka hotspot, tanpa membahas realita di lapangan bahwa asap tetap menjadi momok bagi masyarakat. Kali ini, Menhut berani mengatakan "Kalbar sedang tidak baik-baik saja" โ€” sebuah kalimat yang seharusnya menjadi cambuk bagi seluruh aparat untuk bergerak lebih dari sekadar memadamkan api, tetapi juga mencegah dampak kesehatan jangka panjang.

Namun, saya juga menyoroti kelemahan sistem monitoring yang terlalu bergantung pada data Sipongi. Api padam tidak terdeteksi, tapi asap tetap ada โ€” ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan penanganan karhutla tidak boleh tunggal. Pemerintah perlu mengembangkan indeks kualitas udara real-time yang terintegrasi dengan data hotspot, serta melibatkan komunitas lokal untuk pelaporan langsung. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak dalam euforia angka yang menipu, sementara warga terus menghirup udara beracun.

Lebih jauh, kebijakan pendinginan lahan secara masif yang disebutkan Menhut patut diapresiasi, tetapi pertanyaannya adalah: apakah dilakukan secara terukur dan menyeluruh? Saya menduga banyak titik lahan gambut yang masih menyimpan panas di bawah permukaan, yang bisa memicu api kembali kapan saja. Selain itu, koordinasi antarinstansi โ€” mulai dari Manggala Agni, TNI-Polri, BPBD, hingga pemerintah desa โ€” harus memiliki rencana aksi yang jelas dan anggaran yang memadai, bukan sekadar gerakan seremonial. Musim kemarau belum berakhir, dan jika hujan tidak segera turun, kita bisa melihat lonjakan hotspot lagi dalam beberapa pekan ke depan.

Terakhir, saya mengingatkan bahwa krisis asap ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah hak asasi manusia atas kesehatan dan kehidupan yang layak. Pemerintah pusat dan daerah harus mengevaluasi ulang kebijakan perizinan lahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta program restorasi gambut yang selama ini berjalan lambat. Masyarakat Kalbar berhak mendapatkan jawaban pasti kapan mereka bisa bernapas lega, bukan sekadar grafik penurunan yang tidak sejalan dengan kenyataan di hidung mereka sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah penurunan hotspot berarti kebakaran hutan di Kalbar sudah selesai?
    A: Tidak. Penurunan hotspot hanya menunjukkan api di permukaan berkurang, tetapi asap masih bisa bertahan dari api bawah tanah atau lahan gambut yang membara. Kondisi udara di Pontianak dan sekitarnya masih terpapar asap.
  • Q: Apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi asap karhutla di Kalbar?
    A: Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan, Manggala Agni, TNI-Polri, dan BPBD melakukan pemadaman api, pendinginan lahan, dan patroli rutin. Namun, upaya tersebut perlu diperkuat dengan teknologi pemantauan udara dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan.
  • Q: Bagaimana cara melindungi diri dari asap karhutla?
    A: Masyarakat disarankan menggunakan masker N95 atau masker medis saat di luar ruangan, menutup jendela dan ventilasi rumah, menggunakan alat pembersih udara jika memungkinkan, serta mengurangi aktivitas luar ruangan. Pantau juga informasi kualitas udara dari aplikasi atau website resmi.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ