Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Anggaran MBG Susut Drastis: Dari Rp330 T ke Bawah Rp200 T, Apa Dampaknya?

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Anggaran MBG Susut Drastis: Dari Rp330 T ke Bawah Rp200 T, Apa Dampaknya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pemerintah kembali memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Rp330 triliun menjadi sekitar Rp240 triliun, dan berpotensi turun di bawah Rp200 triliun.
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut efisiensi akan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dan pengawasan ketat di lapangan.
  • Pengawasan diperkuat dengan melibatkan pegawai Kemenkeu di daerah untuk mengawasi dapur MBG secara bergilir.

Jakarta, CNBC Indonesia โ€“ Pemerintah kembali berencana memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa anggaran program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini masih berpeluang ditekan hingga di bawah Rp200 triliun.

Dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, Purbaya menjelaskan bahwa anggaran MBG awal ditetapkan sebesar Rp330 triliun. Setelah efisiensi bertahap, angka tersebut turun menjadi sekitar Rp260 triliun, lalu kembali dirampingkan menjadi Rp240 triliun. Namun, setelah berdialog dengan Kepala Badan Gizi Nasional yang baru, Sudaryono, ia melihat peluang untuk menekan anggaran lebih jauh. "MBG kan anggaran tahun ini awalnya Rp 330 triliun, terus dilakukan efisiensi menjadi Rp 260-an (triliun), terus menjadi Rp 240-an (triliun). Tapi saya bicara dengan ketua MBG yang baru, kepala badan MBG yang baru, sepertinya bisa dibuat lebih efisien lagi di bawah Rp 200-an (triliun)," ujarnya.

Purbaya juga menyebutkan bahwa untuk tahun depan, pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp240 triliun, namun ia yakin angka itu masih bisa ditekan melalui efisiensi dan penggunaan teknologi. Selain itu, Kementerian Keuangan memperkuat pengawasan dengan melibatkan pegawai di daerah untuk mengawasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara bergilir. Langkah ini diharapkan dapat memastikan pelaksanaan program lebih efisien dan memperbaiki kinerja di lapangan.

Analisis Pakar

Kebijakan pemangkasan anggaran MBG yang terus menerus ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama dari sisi efektivitas program dan dampaknya terhadap target gizi nasional. Sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai bahwa efisiensi anggaran adalah hal yang wajar, namun harus diimbangi dengan analisis mendalam mengenai biaya per porsi dan kualitas gizi yang diberikan. Jika pemangkasan dilakukan tanpa perhitungan yang matang, dikhawatirkan akan mengurangi nilai gizi yang diterima oleh penerima manfaat, terutama anak-anak dan ibu hamil.

Pemerintah perlu transparan dalam merinci komponen efisiensi. Apakah penghematan berasal dari pengurangan biaya logistik, efisiensi skala ekonomi, atau justru pemotongan kualitas bahan pangan? Penggunaan teknologi yang disebut-sebut sebagai andalan juga memerlukan investasi awal yang tidak kecil. Jika teknologi hanya difokuskan pada sistem monitoring tanpa perbaikan rantai pasok, maka efisiensi bisa bersifat semu.

Lebih jauh, saya menyoroti potensi konflik antara efisiensi dan pencapaian tujuan program. MBG adalah program strategis untuk mengatasi stunting dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja masa depan. Pemotongan anggaran yang terlalu agresif bisa mengancam keberlanjutan program. Pemerintah harus memberikan jaminan bahwa setiap rupiah yang dihemat tidak mengurangi porsi kalori dan zat gizi makro-mikro yang telah ditetapkan. Pengawasan yang melibatkan pegawai Kemenkeu di daerah memang langkah positif, namun harus didukung dengan indikator kinerja yang terukur dan audit independen secara berkala.

Dari perspektif fiskal, anggaran MBG yang semula Rp330 triliun turun menjadi di bawah Rp200 triliun memberikan ruang fiskal yang signifikan. Namun, penghematan ini tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi komitmen pemerintah terhadap pembangunan sumber daya manusia. Saya berharap ada kajian komprehensif dari Badan Gizi Nasional dan Kementerian Keuangan mengenai biaya efektif per penerima, serta evaluasi dampak program secara berkala. Tanpa itu, publik akan terus mempertanyakan kredibilitas program dan alokasi anggaran yang berubah-ubah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
    A: Program MBG adalah inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis kepada kelompok rentan seperti anak sekolah, ibu hamil, dan balita, dengan tujuan menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi nasional.
  • Q: Mengapa anggaran MBG terus dipangkas?
    A: Pemangkasan dilakukan untuk efisiensi anggaran negara, dengan memanfaatkan teknologi dan pengawasan yang lebih ketat, serta evaluasi biaya operasional agar program lebih tepat sasaran tanpa mengurangi esensi gizi.
  • Q: Apakah pemotongan anggaran akan mengurangi manfaat program?
    A: Pemerintah menyatakan bahwa efisiensi tidak akan menurunkan kualitas gizi, namun hal ini masih perlu dibuktikan dengan kajian independen dan transparansi alokasi. Masyarakat diharapkan mengawasi pelaksanaan di lapangan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ