Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

9 Hari Terjebak di Terowongan PLTA, Satu Korban Selamat! Ini Dampak Ekonomi Bencana Nepal

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

9 Hari Terjebak di Terowongan PLTA, Satu Korban Selamat! Ini Dampak Ekonomi Bencana Nepal
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim penyelamat mengevakuasi seorang pria hidup-hidup dari terowongan PLTA setelah 9 hari terjebak akibat longsoran es dan lumpur.
  • Bencana yang dipicu runtuhnya gletser pada 26 Agustus ini telah menewaskan lebih dari 1.200 orang dan memaksa puluhan ribu mengungsi.
  • Setidaknya 900 orang masih diduga terjebak di enam terowongan proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli, menjadikan operasi penyelamatan masih berlangsung.

Tim penyelamat berhasil mengevakuasi seorang korban selamat dalam keadaan hidup dari sebuah terowongan yang terhubung dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Trishuli, sembilan hari setelah longsoran es, batu, dan lumpur menerjang sebuah lembah di Nepal. Operasi penyelamatan ini dilakukan lebih dari seminggu setelah bencana dahsyat yang menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyebabkan puluhan ribu lainnya mengungsi, demikian dilaporkan Reuters.

Korban selamat, Sanjay Sah, dievakuasi dari terowongan proyek PLTA Upper Trishuli 3A dan langsung diterbangkan ke Kathmandu dari pangkalan militer di Nuwakot. Ia adalah satu dari dua orang yang berhasil dikeluarkan dari terowongan di lokasi pembangkit listrik tersebut; keduanya merupakan orang pertama yang diselamatkan dari proyek-proyek PLTA itu dan telah dibawa ke rumah sakit di ibu kota Nepal. Pria tersebut tampak berbaring di atas tandu saat dipindahkan ke helikopter, dan petugas medis segera menanganinya.

Para pejabat dan petugas penyelamat meyakini bahwa runtuhnya gletser di hulu Sungai Trishuli pada 26 Agustus lalu telah menjebak setidaknya 900 orang di dalam terowongan yang terkait dengan enam proyek PLTA di sepanjang sungai tersebut. Bencana ini memicu longsoran es dan lumpur masif yang menghancurkan lembah, menyisakan kerusakan infrastruktur yang sangat parah serta tantangan besar bagi upaya pencarian dan penyelamatan.

Analisis Pakar

Bencana ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, tetapi juga pukulan telak bagi perekonomian Nepal yang sangat bergantung pada sektor energi air. Dengan lebih dari 90% listrik negara ini berasal dari PLTA, gangguan pada enam proyek di sepanjang Sungai Trishuli berpotensi memicu krisis pasokan listrik yang berkepanjangan. Padahal, Nepal sedang gencar mengekspor listrik ke India untuk menopang devisa, dan insiden ini akan mengganggu target ekspor serta penerimaan negara yang sudah rapuh pasca-pandemi.

Dari sisi investasi, bencana ini menunjukkan kerentanan proyek infrastruktur besar terhadap perubahan iklim. Runtuhnya gletser yang semakin tak terduga menjadi peringatan keras bagi investor asing—terutama China dan India yang mendanai banyak proyek PLTA di Nepal. Risiko geoteknik dan asuransi proyek akan melonjak, sehingga biaya modal untuk pembangunan pembangkit listrik baru dapat naik signifikan. Jika tidak ada evaluasi ulang terhadap standar keamanan dan mitigasi bencana, Nepal bisa kehilangan kepercayaan investor, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Lebih jauh, biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai miliaran dolar AS, sementara kemampuan fiskal Nepal sangat terbatas. Bantuan internasional mungkin mengalir, tetapi itu bersifat darurat, bukan solusi struktural. Pemerintah Nepal harus memikirkan ulang strategi tata ruang dan peringatan dini, mengingat wilayah Himalaya menjadi episentrum perubahan iklim. Jika tidak, siklus bencana serupa akan berulang, menggerus dana pembangunan dan memperdalam kemiskinan. Saya menilai, kejadian ini harus menjadi titik balik bagi Nepal untuk mendiversifikasi sumber energi dan memperkuat ketahanan infrastruktur, sebelum ekonomi nasional semakin terjerat dalam 'perangkap bencana'.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama banjir bandang di Nepal?
    A: Penyebab utamanya adalah runtuhnya gletser di hulu Sungai Trishuli yang memicu longsoran es, batu, dan lumpur, yang kemudian menyapu lembah dan menjebak banyak pekerja di terowongan PLTA.
  • Q: Berapa jumlah korban tewas dan hilang dalam bencana ini?
    A: Hingga saat ini, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas, dan setidaknya 900 orang masih terjebak di dalam terowongan PLTA, sehingga jumlah korban jiwa diperkirakan akan bertambah.
  • Q: Bagaimana kondisi para korban yang berhasil diselamatkan?
    A: Dua orang telah dievakuasi dalam keadaan hidup, termasuk Sanjay Sah, dan keduanya telah dilarikan ke rumah sakit di Kathmandu untuk mendapat perawatan intensif setelah sembilan hari terperangkap.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸