Prabowo: Global South Bukan Blok Baru, tapi Wadah Perjuangan Keadilan Dunia di Tengah Fragmentasi Geopolitik

- Ringkasan Singkat Presiden Prabowo Subianto menegaskan Global South bukan blok baru, melainkan wadah perjuangan keadilan dan kesetaraan suara dalam aturan global.
- Indonesia tetap pada politik luar negeri bebas-aktif, tidak terikat aliansi militer, namun terbuka membangun kemitraan ekonomi dengan semua negara besar.
- Prabowo menyebut kerja sama di bidang pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan sebagai 'jembatan' jawaban atas fragmentasi dunia.
Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan Global South bukan blok baru, melainkan wadah perjuangan keadilan dan kesetaraan suara dalam aturan global.
- Indonesia tetap pada politik luar negeri bebas-aktif, tidak terikat aliansi militer, namun terbuka membangun kemitraan ekonomi dengan semua negara besar.
- Prabowo menyebut kerja sama di bidang pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan sebagai 'jembatan' jawaban atas fragmentasi dunia.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya negara-negara Global South dalam konstelasi geopolitik yang kian terfragmentasi. Dalam pidatonya sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9), ia menyatakan bahwa Global South bukanlah blok baru, melainkan wadah perjuangan demi keadilan, baik terkait pembagian kesejahteraan yang adil maupun suara yang setara dalam perumusan aturan global.
Prabowo menekankan komitmen Indonesia terhadap prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin terikat dalam aliansi militer, tetapi terbuka dan aktif membangun kemitraan ekonomi dengan berbagai negara, termasuk kekuatan besar dunia. "Kami selalu mengatakan bahwa kami ingin memiliki hubungan terbaik dengan semua negara, dengan semua kekuatan besar. Kami, berdasarkan tradisi, kami nonblok," ujarnya.
Lebih lanjut, Presiden menegaskan posisi Indonesia yang siap mendukung setiap upaya tulus demi perdamaian yang adil dan abadi di wilayah mana pun yang masih dilanda konflik. Ia juga menyoroti bahwa di tengah fragmentasi, setiap jembatan yang dibangun—di bidang pangan, energi, sains, logistik, maupun perdagangan—merupakan jawaban nyata bagi tantangan global. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Indonesia ingin menjadi jembatan dialog dan kerja sama, bukan sekadar penonton dalam percaturan dunia.
Analisis Pakar
Pidato Prabowo di EEF Vladivostok bukan sekadar pernyataan seremonial, melainkan cerminan strategi geopolitik Indonesia yang semakin matang dan asertif. Dengan mengangkat isu Global South, ia secara cerdas memposisikan Indonesia sebagai pemimpin alami negara-negara berkembang yang selama ini merasa terpinggirkan dalam arsitektur global yang didominasi oleh kekuatan Barat. Ini bukan retorika kosong, melainkan pengakuan bahwa tatanan dunia pasca-Perang Dingin telah berubah dan negara-negara berkembang menuntut peran yang lebih substantif, bukan hanya sebagai objek kebijakan.
Pilihan untuk menyampaikan pesan ini di Rusia—yang saat ini berada di bawah sanksi Barat dan mencari mitra alternatif—sangat strategis. Indonesia dengan tegas menunjukkan bahwa keterbukaannya tidak sekadar narasi, tetapi diwujudkan dalam kehadiran fisik di forum yang dianggap kontroversial oleh sebagian negara Barat. Ini adalah bentuk nyata dari politik bebas-aktif yang tidak memihak blok mana pun, namun tetap aktif membangun jembatan. Namun, langkah ini juga memicu pertanyaan: seberapa jauh Indonesia bisa menjaga keseimbangan antara menjalin hubungan erat dengan Rusia dan China, tanpa merusak hubungan tradisional dengan AS dan sekutunya?
Secara substantif, penekanan pada kerja sama di bidang pangan, energi, dan logistik menunjukkan bahwa Indonesia bergerak dari ranah wacana ke ranah praktis. Krisis pangan dan energi global akibat perang di Ukraina dan perubahan iklim telah membuka mata banyak negara bahwa ketergantungan pada satu atau dua sumber sangat rapuh. Dengan mengajak Global South membangun ekosistem kerja sama sendiri, Indonesia tidak hanya mengurangi kerentanan, tetapi juga menciptakan pasar dan rantai pasok alternatif. Ini adalah langkah berani yang berpotensi mengubah dinamika perdagangan global, meski tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan kepentingan nasional yang beragam di antara anggota Global South.
Yang tak kalah penting, pernyataan Prabowo tentang perdamaian yang adil dan abadi menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi penengah pasif, tetapi agen perdamaian yang aktif. Ini sejalan dengan tradisi diplomasi Indonesia sejak era Sukarno dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Namun, di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, komitmen ini akan diuji: apakah Indonesia bisa menjadi mediator yang kredibel di konflik-konflik seperti Ukraina atau Palestina, atau justru akan terjebak dalam kepentingan pragmatis sesaat? Jawabannya akan sangat menentukan apakah Indonesia benar-benar bisa menjadi 'jembatan' atau hanya sekadar menjadi koridor yang dilewati oleh kekuatan besar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu Global South yang dimaksud Prabowo?
A: Global South merujuk pada negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania yang secara historis kurang terwakili dalam lembaga global. Prabowo menegaskan bahwa ini bukan blok baru, tetapi wadah perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan dalam aturan dunia. - Q: Apa maksud politik luar negeri bebas-aktif Indonesia?
A: Politik bebas-aktif berarti Indonesia tidak memihak blok manapun, namun aktif dalam diplomasi dan kerja sama internasional untuk perdamaian dan kemakmuran. Indonesia tidak tergabung dalam aliansi militer, tetapi terbuka menjalin kemitraan ekonomi dengan semua negara. - Q: Mengapa Prabowo menyampaikan hal ini di Eastern Economic Forum Rusia?
A: EEF adalah forum strategis untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara Asia-Pasifik, termasuk Rusia. Pidato di sana menunjukkan komitmen Indonesia untuk membangun jembatan ekonomi dan politik di tengah fragmentasi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di kawasan dan Global South.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

Gelombang Besar Pemilih AS Hadiri TPS Pemilu Sela, Dinamika Politik Global Dipertaruhkan

Lukashenko Dorong Donald Trump Jadi Sekjen PBB untuk Bersihkan 'Rawa-Rawa' Organisasi
