Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

LPS Gandeng Pelajar dan Mahasiswa Lampung: Melek Keuangan Sejak Dini, Kunci Hindari Krisi?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

LPS Gandeng Pelajar dan Mahasiswa Lampung: Melek Keuangan Sejak Dini, Kunci Hindari Krisi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • LPS menggelar edukasi keuangan bagi generasi muda di Lampung untuk meningkatkan pemahaman menabung dan peran LPS sebagai penjamin simpanan.
  • Kepala Divisi Kehumasan LPS, Rhein Valleno Oktoriansyah, menekankan pentingnya literasi finansial bagi pelajar dan mahasiswa sebagai pondasi stabilitas ekonomi pribadi dan nasional.
  • Program ini merupakan bagian dari strategi LPS menjangkau kaum milenial dan Gen Z agar lebih sadar akan risiko dan perlindungan perbankan.

Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus menggencarkan program literasi keuangan di berbagai daerah, kali ini menyasar Lampung. Kepala Divisi Kehumasan LPS, Rhein Valleno Oktoriansyah, menyatakan bahwa pihaknya ingin memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya menabung kepada generasi muda, sekaligus memperkenalkan fungsi LPS dalam melindungi simpanan nasabah perbankan.

Dalam acara yang digelar di sejumlah kampus dan sekolah menengah di Lampung, para peserta diajak berdiskusi interaktif tentang pengelolaan keuangan, bahaya konsumsi berlebihan, serta bagaimana LPS menjamin dana mereka jika terjadi kegagalan bank. “Kami ingin anak muda tidak hanya paham cara menabung, tapi juga tahu bahwa ada institusi yang menjaga uang mereka di bank,” ujar Rhein dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (03/09/2026).

LPS menilai generasi muda adalah agen perubahan yang paling efektif untuk menyebarkan kesadaran finansial ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan indeks literasi keuangan Indonesia yang masih tergolong rendah, edukasi semacam ini menjadi kebutuhan mendesak, terutama di tengah maraknya pinjaman online ilegal dan investasi bodong yang mengincar kalangan pelajar.

Analisis Pakar

Langkah LPS menyapa pelajar dan mahasiswa di Lampung patut diapresiasi, namun jangan sampai berhenti sebagai kegiatan seremonial. Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa literasi keuangan bukan sekadar soal menabung—itu adalah fondasi untuk membangun ketahanan ekonomi nasional. Ketika generasi muda memahami fungsi lembaga penjamin simpanan, mereka tidak hanya terlindungi dari risiko perbankan, tetapi juga terdorong untuk menggunakan produk keuangan formal secara bijak. Ini bisa menekan angka perbankan shadow dan praktik rentenir yang masih merajalela di daerah.

Namun, saya mengkritisi pendekatan yang masih terkesan top-down. Apakah sosialisasi satu arah cukup efektif untuk Generasi Z yang tumbuh dengan media digital? LPS perlu berinvestasi pada platform interaktif, gamifikasi, dan kolaborasi dengan influencer finansial yang kredibel. Jangan hanya datang ke kampus, beri sertifikat, lalu pergi. Perlu ada program lanjutan, misalnya kompetisi menabung antar sekolah atau aplikasi simulasi investasi yang diawasi LPS. Tanpa tindak lanjut, edukasi seperti ini akan sirna seiring berakhirnya acara.

Lebih dalam, saya menilai program ini harus selaras dengan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia dan OJK. Mengingat tingkat inklusi keuangan kita sudah mencapai 85% tetapi literasi hanya sekitar 50%, ada jurang lebar yang berbahaya. Masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa memahami risikonya justru berpotensi menimbulkan gejolak di sektor perbankan. Oleh karena itu, LPS tidak boleh bekerja sendirian. Sinergi dengan Kementerian Pendidikan, perguruan tinggi, dan komunitas lokal di Lampung harus diperkuat agar kurikulum keuangan masuk ke mata pelajaran sekolah, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler.

Terakhir, saya menyoroti target kelompok usia: pelajar dan mahasiswa memang tepat, tetapi jangan lupakan ibu rumah tangga dan pelaku UMKM yang juga rentan. Jika LPS serius memperkuat literasi, maka pendekatan berbasis demografi dan budaya lokal—seperti di Lampung yang dikenal agraris—harus diutamakan. Misalnya, menyesuaikan contoh kasus dengan hasil panen atau modal usaha kecil. Dengan begitu, pesan LPS tidak hanya masuk ke pikiran, tapi juga ke hati dan kebiasaan sehari-hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu LPS dan apa fungsinya?
    A: LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan adalah institusi negara yang menjamin simpanan nasabah di bank umum dan BPR jika terjadi kegagalan bank. Simpanan dijamin hingga Rp2 miliar per nasabah per bank.
  • Q: Mengapa literasi keuangan penting bagi pelajar dan mahasiswa?
    A: Karena generasi muda adalah pengguna layanan keuangan masa depan. Pemahaman yang baik membantu mereka menghindari utang konsumtif, investasi bodong, dan memanfaatkan produk perbankan secara optimal untuk mencapai tujuan finansial jangka panjang.
  • Q: Apakah LPS hanya mengedukasi di Lampung?
    A: Tidak. LPS secara rutin menggelar program edukasi di berbagai provinsi, termasuk kunjungan ke sekolah, kampus, dan komunitas. Lampung menjadi salah satu titik fokus karena tingkat literasi keuangan di Sumatera masih di bawah rata-rata nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸