Konsumsi BBM Diprediksi 88 Juta KL pada 2026, Ketergantungan Impor Jadi Ancaman Serius

Ringkasan Singkat
- Konsumsi BBM nasional diproyeksikan mencapai 88 juta kiloliter (KL) pada 2026, naik dari 84 juta KL tahun sebelumnya.
- Pertamina NRE mengakui ketergantungan pada impor BBM dan minyak mentah masih tinggi, mengancam ketahanan dan kedaulatan energi.
- Percepatan transisi energi melalui biodiesel (B50) dan bioetanol (Pertamax Green 95) terus digalakkan, namun masih butuh dukungan regulasi, harga, dan infrastruktur.
Jakarta – Pertamina NRE memproyeksikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan menembus 88 juta kiloliter (KL) pada tahun 2026. Angka ini melonjak signifikan dari sekitar 70 juta KL dalam lima tahun terakhir, dan mencapai 84 juta KL pada tahun lalu.
Direktur Perencanaan Strategis & Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Harsono Budi Santoso, mengungkapkan bahwa tingginya konsumsi ini masih sangat bergantung pada impor, baik BBM jadi maupun minyak mentah. "Ini merupakan angka yang cukup tinggi dan sebagian dari BBM yang kita konsumsi sangat tergantung dari impor, bahkan crude oil kita pun impor," ujarnya dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).
Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi ketahanan energi nasional. Harsono menegaskan, "Ini tentunya dari sisi energy security, kemudian dari sisi sovereignty, ini sangat fragile untuk kita, untuk negara yang kita cintai ini."
Untuk mengurangi ketergantungan, Pertamina telah melakukan diversifikasi energi sejak 2008 melalui pengembangan biodiesel, yang kini telah mencapai campuran 50% (B50). Kini, perusahaan tengah mendorong penggunaan bioetanol sebagai alternatif untuk BBM jenis bensin. Sejak 2023, Pertamina mencampur etanol 5% ke dalam Pertamax Green 95, yang sudah tersedia di lebih dari 180 SPBU.
Ke depan, Pertamina menargetkan perluasan distribusi dan peningkatan kadar campuran, serta pengembangan varian baru seperti RON 92. Salah satu proyek strategis adalah pabrik etanol di Banyuwangi berkapasitas 30 ribu KL yang ditargetkan beroperasi dalam dua tahun ke depan. Namun, Harsono mengakui percepatan ini masih membutuhkan dukungan regulasi, kebijakan harga, infrastruktur, dan ketersediaan bahan baku yang saat ini terbatas.
Analisis Pakar
Oleh Siti Amalia, Pakar Ekonomi Makro & Jurnalis Finansial
Proyeksi konsumsi BBM 88 juta KL pada 2026 bukanlah angka yang mengejutkan, mengingat pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat pasca-pandemi. Namun, yang patut menjadi perhatian serius adalah ketergantungan impor yang masih menganga. Indonesia, sebagai negara penghasil minyak, justru menjadi net importir, dan hal ini membebani neraca perdagangan serta nilai tukar rupiah.
Dari sisi makroekonomi, setiap kenaikan konsumsi BBM yang tidak diimbangi produksi dalam negeri akan memperbesar defisit transaksi berjalan. Jika harga minyak dunia melonjak, subsidi BBM akan membengkak, menggerus ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur dan program sosial. Ini adalah risiko yang harus diantisipasi oleh pemerintah dan Pertamina. Belum lagi, dampak lingkungan dari pembakaran fosil yang semakin masif.
Langkah diversifikasi melalui biodiesel dan bioetanol adalah langkah tepat, namun implementasinya masih lambat. Biodiesel B50 memang prestasi, namun bioetanol baru 5% dan distribusi terbatas. Kendala harga, infrastruktur, dan pasokan bahan baku (seperti singkong atau tebu) menjadi penghambat utama. Pertamina perlu mendorong kemitraan dengan petani dan industri, serta memastikan harga bioetanol kompetitif agar bisa digunakan secara masif. Tanpa dukungan ekosistem yang kuat, target pengurangan impor akan sulit tercapai.
Ke depan, pemerintah harus memberikan kepastian regulasi, termasuk mandatori pencampuran etanol yang lebih tinggi dan insentif fiskal bagi produsen. Pengalaman negara seperti Brasil menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi ditentukan oleh kebijakan yang konsisten dan investasi berkelanjutan. Indonesia harus belajar dari itu. Jika tidak, ketahanan energi kita akan terus rapuh dan kita akan terus menggantungkan diri pada pasar minyak global yang volatil. Ini bukan sekadar isu teknis, tetapi menyangkut kedaulatan dan daya saing bangsa di kancah internasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Berapa proyeksi konsumsi BBM Indonesia pada 2026?
A: Pertamina NRE memprediksi konsumsi BBM mencapai 88 juta kiloliter, naik dari 84 juta KL pada tahun sebelumnya.
Q: Mengapa ketergantungan impor BBM menjadi masalah?
A: Karena dapat mengganggu ketahanan energi, memperbesar defisit neraca perdagangan, membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, dan membebani APBN melalui subsidi.
Q: Apa langkah Pertamina untuk mengurangi impor BBM?
A: Pertamina mengembangkan biodiesel (B50) dan mulai mencampur bioetanol 5% pada Pertamax Green 95, serta membangun pabrik etanol di Banyuwangi berkapasitas 30 ribu KL dan berencana menaikkan kadar campuran serta memperluas distribusi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
